Unsur-Unsur Ekstrinsik Cerpen Beras Aking Karya Ayu Pangestu

Diposting pada
Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang membahas analisis unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik cerpen Beras Aking karya Ayu Pangestu. 
Silahkan baca dan pahami, akan lebih baik jikalau pembaca yang budiman sudi memperlihatkan komentar atau kritikan jikalau ada bab yang kurang sempurna dalam analisis ini. Komentar dan kritikan yang pembaca berikan bukan hanya untuk saya sebagai penulis blog ini, tetapi bagi semua orang yang turut membaca blog ini.
Selamat membaca hasil analsis unsur-unsur ekstrinsik cerpen Beras Aking berikut ini:

Unsur ekstrinsik cerpen dipengaruhi oleh latar belakang pengarang maupun latar belakang penciptaan cerpen. Cerpen yang ditulis oleh seorang yang hidup di pantai niscaya akan banyak membicarakan perihal pantai. Cerpen yang ditulis di masa pergolakan perang, niscaya bertema perang.
Bagaimana dengan cerpen Beras Aking?


Unsur ekstrinsik cerpen sanggup lebih manis dan tajam dianalisis jikalau mengetahui biografi pengarang. Akan tetapi alasannya ialah keterbatasan sumber info mengenai Ayu Pangestu, pengarang Beras Aking maka, pengkajian menurut latar belakang pengarang tidak sanggup dilakukan.
Yang sanggup diketahui mengenai cerpen Beras Aking adalah ditulis pada 2007. Berdasarkan info singkat dari (diakses pada 25 November 2019).
Selebihnya tidak sanggup diketahui latar belakang pengarangnya.

Akan tetapi dilihat dari segi latar belakang penciptaannya, sanggup diketahui bahwa Beras Aking diciptakan di Indonesia. Nasi aking atau beras aking ialah masakan yang dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Ada yang dimakan insan (untuk yang kualitas bagus), ada pula yang dijadikan masakan ternak. Orang yang mengonsumsi nasi aking ialah kalangan miskin. Dari situ, sanggup digambarkan lingkungan sosial dan nilai-nilai yang terdapat dalam cerpen Beras Aking.

Kondisi Lingkungan Sosial
Kondisi sosial yang tergambar dalam cerpen kemungkinan dipengaruhi dari kondisi sosial penciptaan cerpen. Kondisinya ialah masih ada kesenjangan. Disebutkan dalam cerpen, nasi aking dibeli dari rumah makan, berarti ada kesenjangan sosial. Juga ada tindakan kriminal pencurian mobil. Hal ini merupakan persoalan sosial yang kemungkinan masih terjadi dikala penciptaan cerpen.

Kondisi Lingkungan Pendidikan

Pendidikan di Indonesia kala itu (2007, mungkin sampai kini) merupakan sesuatu yang mahal. Lebih-lebih bagi masyarakat miskin. Masih harus berhutang untuk menyekolahkan anaknya. Selain itu, lulusan pendidikan tinggi juga tidak otomatis mendapat pekerjaan yang tinggi pula. 

Untuk mendapat info terbaru dalam blog ini, silahkan ikuti melalui email di pojok kanan bawah. Mari tambah pengetahuan kita! Salam Sastra!