banner 728x250

Ulasan Say Hello To Yellow, Saat Gadis Kuning Dari Kota Pindah Ke Desa

  • Share
banner 468x60

Apa yang terjadi jika seorang anak yang tumbuh dan besar di kota pindah ke desa Ulasan Say Hello to Yellow, Saat Gadis Kuning dari Kota Pindah ke Desa
Pembukaan Say Hello to Yellow (dok. BW Purbanegara)

Apa yang terjadi bila seorang anak yang tumbuh dan besar di kota pindah ke desa?

Itulah yang tergambar dalam “Say Hello to Yellow” garapan BW Purba Negara. Film yang tayang di TVRI semalam (17 September 2020) dalam rangkaian “Jadwal Belajar dari Rumah” ini bercerita ihwal Risma, seorang anak SD yang mesti pindah dari kota Semarang ke suatu desa di Gunung Kidul karena mengikuti latar belakang ibunya yang berprofesi selaku bidan.

banner 336x280

Pembukaan film ini terbilang menarik sebab diawali dengan adegan sebuah tangan yang menggunakan gelang kuning menggoyang-goyangkan suatu ponsel berwarna kuning ke atas. Ponsel tersebut dikeluarkan oleh seorang anak wanita melalui jendela dari dalam mobil yang sedang berjalan sembari dibarengi dengan ucapan, “Aduh, kok enggak ada sinyal sih?”  

Setelah diperlihatkan adegan sebuah kendaraan beroda empat berjalan dan panorama di sekitarnya, penonton kemudian diajak melihat kawanan anak kecil sedang bermain di pinggir pantai. Salah satu anak mendapatkan suatu benda tergeletak di jalan di dekatnya. Ternyata benda itu ialah komik “Buddha” karya Osamu Tezuka dengan nama “Risma” tertulis di sampulnya.

Penonton kemudian menyadari bahwa anak wanita yang mengeluh di dalam kendaraan beroda empat dan pemilik buku Buddha yang hilang ialah orang yang sama. Dialah Risma, anak seorang bidan yang baru saja pindah dari Semarang ke sebuah desa di Gunung Kidul. Inilah yang hendak menjadi benang merah dari film ini.

Sesuai judulnya ‘yellow’, Risma adalah penggemar warna kuning. Ia senantiasa memakai aksesoris serba berwarna kuning, mulai dari ikat rambut, bando, jam tangan, tas bahkan sampai sarung ponsel pintarnya.

Baca juga:  Aplikasi Rekomended Untuk Pembelajaran Jarak Jauh

Ada salah satu adegan menarik dalam film ini. Saat itu Risma bercerita kepada ibunya ihwal pengalamannya masuk ke sekolah gres. Ia bercerita, “Ada yang lucu deh ma. Tadi pas pertama kali Risma dateng, terus Risma ngeluarin hape. Semua orang pada ngeliatin gitu. Masa cuman ngeliat hape aja pada heran?”.  Ia lalu bercerita bahwa anak-anak desa ketinggalan zaman alasannya belum menyaksikan ponsel.

Risma merasa dirinya lebih dibandingkan orang lain. Namun sesungguhnya Risma ialah representasi dari orang yang insekyur, begitulah kalau kata anak jaman kini. Saking insekyur-nya, Risma sampai mesti mengeluarkan ponsel dan berpura-pura menelepon seseorang untuk menawan perhatian sahabat-temannya yang lain, padahal tidak ada sinyal sama sekali di area sekolah. Ia melakukannya karena beliau tidak percaya diri untuk bergaul dengan sobat-temannya yang berasal dari desa. 

Sebagai anak kota, Risma bagaikan katak dalam tempurung. Ia menduga bahwa cuma anak kota saja yang sudah mengenal ponsel padahal kenyataannya tidak demikian. Banyak sobat Risma di desa yang sudah mengenal ponsel tetapi mereka lazimsaja. Pada alhasil, Risma berguru bahwa gawai tidak semata mampu mendekatkan yang jauh, tetapi justru menjauhkan yang bersahabat.

Terlepas dari kekurangannya, Risma bahwasanya punya poin faktual yang mampu kita ambil selaku penonton. Ia sukses menciptakan pencitraan (branding) kepada dirinya sendiri semenjak dini. Ia mampu menjawab pertanyaan “Ingin diketahui sebagai apa” yang tidak siapa pun sampaumur bisa menjawabnya.   

Saya akui, film pendek ini amat menghibur. Ceritanya ringan tetapi tetap mempunyai pesan yang tepat dengan keadaan zaman kini. Namun ada satu pertanyaan yang mengganjal. Kenapa judulnya mesti berbahasa Inggris?

banner 336x280
banner 120x600
  • Share