Teknik Mendongeng Untuk Pramuka Siaga

Diposting pada

Pengantar

  • Setiap orang remaja intinya mempunyai kemampuan alamiah untuk mendongeng. Kemampuan  ini semakin sering dipakai dan semakin sering dilatih akan semakin berkembang dengan baik.  Bagi para Pembina Siaga kemampuan mendongeng merupakan salah satu kompetensi yang disarankan untuk dimiliki semoga program latihan di perindukan siaga lebih menarik dan bervariasi.
  • Mendongeng yaitu sebuah proses. Maksudnya pendongeng harus bisa menyusun  bahan dan alur dongeng semoga sanggup menarik perhatian, tidak membosankan,  komuniatif   dalam arti pendengarnya bisa memahami jalinan cerita, serta partisipatif  dalam arti pendengarnya bisa terlibat secara emosional terhadap jalinan cerita. Mendongeng sebagai media pendidikan perlu penguasaan teknik dan metodenya.

Cara Mendongeng

Mendongeng dengan Teks atau  dengan membaca buku dongeng :

  • Teknik ini dilakukan  dengan cara Yanda/Bunda mendongeng  membacakan sebuah buku cerita. Diawali dengan mengenalkan judul buku, pengarang dan juga inti dongeng yang akan dibacakan.
  • Para siaga sanggup duduk santai di lapangan rumput dengan posisi setengah lingkaran, Yanda/Bunda ada di depan bisa duduk bersila atau duduk dengan bangku kecil.
  • Bunda/Yanda mulai membacakan ceritanya. Dianjurkan untuk setengah hafal sehingga bisa membagi pandangan antara membaca buku dan memandang para siaga.
  • Jika belum hafal Yanda/Bunda sanggup menciptakan catatan-catatan kecil yang ditempelkan di buku sebagai pengingat pokok-pokok cerita.
  • Meski membaca Yanda/Bunda dituntut untuk bisa menghidupkan obrolan para tokoh, mendeskripsikan suasana dan latar dongeng secara menarik
  • Yanda/Bunda bisa berimprovisasi dengan melibatkan para siaga menjadi bab dari cerita.

Mendongeng tanpa teks/naskah (storytelling)

  • Untuk sanggup mendongeng dengan cara ini Yanda/Bunda harus sudah hafal wacana materi, alur dongeng dan aksara tokoh-tokoh sebuah dongeng.
  • Untuk mendengarkan dongeng ini para saga sanggup duduk santai di lapangan rumput dengan posisi setengah bulat dan Bunda/Yanda berada didepan.
  • Kelebihan cara ini Yanda/Bunda bisa berimprovisasi secara bebas sehingga  para siaga bisa menyebarkan fantasi dan keterlibatannya dalam dongeng secara optimal.
  • Dengan teknik ini Bunda/Yanda mempunyai kelulasaan untuk menciptakan obrolan para tokoh, mendeskripsikan suasana dan latar dongeng sehingga lebih menarik.
  • Kelemahan cara ini kalau Bunda/Yanda tidak focus maka bahan dongeng sanggup “meleceng”  ke mana-mana sehingga bawah umur kehilangan focus cerita.

Teknik  Mondongeng

Tahap persiapan
  • Pilih dongeng dan beri judul yang bagus  semoga sanggup menarik perhatian anak-anak
  • Kuasai alur ceritanya dengan baik  seperti  tahap  pengenalan (tokoh , insiden dan tempat),  tahap usaha (terjadinya konflik dan problem yang dihadapi tokoh utama),  tahap selesai dongeng (ketika si tokoh utama berhasil meraih kesuksesan – happy ending)
  • Kuasai aksara tokoh-tokohnya,  baik yang protogonis maupun antagonis. Penguasaan aksara tokoh sangat membantu ketika Bunda/Yanda ingin memerankan dan membawakan obrolan tokoh cerita.
  • Tetapkan  muatan pesan  pada setiap tahapan dongeng (di awal, di tengah, di akhir)  – sebagai bab untuk menawarkan tekanan-tekanan pada ketika mendongeng.
  • Tetapkan  titik-titik dimana  para siaga  sanggup terlibat dalam insiden atau usaha yang dihadapi tokoh utama (tokoh protogonis) dongeng contohnya : tepuk tangan, bernyanyi, bersorak, sedih atau gerakan-gerakan  fisik melompat, tiarap, mengepalkan tangan, dsb.
  • Materi dongen hendaknya jangan dihafal, alasannya yaitu kalau hafal  dongeng yang dibawakan akan terasa kaku, tidak ada improvisasi, menoton dan membosankan.

Tahap Pelaksanaan

1.   Menjaga Kontak Mata

  • Ketika mendongeng Bunda/Yanda harus menjaga kontak mata dengan para siaga. Ini penting       semoga para siaga merasa diperhatikan dan merasa diajak untuk berinteraksi terhadap dongeng yang sedang dibawakan. Kontak mata juga penting untuk melihat sejauh mana perhatian para siaga terhadap bahan dongeng yang dibawakan Bunda/Yanda.

2.   Mimik Wajah

  • Bunda/Yanda harus bisa memainkan mimik  wajah sesuai dengan aksara tokoh. Kemampuan    memainkan mimik wajah akan sanggup membangun suasana dongeng lebih dramatis. Mimik    wajah bisa berupa lisan senang, sakit, sedih, melamun, dsb
  • Misalnya : “Ketika  si harimau mengejar kelinci, sang kelinci molompat … hup – masuk ke dalam  lubang persembunyiannya. Sang raja hutanpun menangkap angin dan kecewa …. Di dalam     lubang Sang Kelinci –  senang bisa selamat dari terkaman harimau, tersenyum dan bersyukur  pada Tuhan” – Bunda/Yanda bisa  memainkan wajah untuk tersenyum mewakili kelinci.

3.   Gerak Tubuh

  • Agar cerita/dongeng lebih menarik maka Bunda/Yanda harus mampu  mengoptimalkan gerak badan sesuai dengan tuntutan cerita. Gerakan-gerakan badan yang merefleksikan  suasana yang dihadapi sang tokoh dongeng akan sangat menghidupkan dongeng dan dapat  melibatkan para siaga.
  • Misalnya :  “Kopral Jono, terus mengawasi dari atas bukit, tentara Belanda yang akan menyerang       desanya…. Tiba-tiba  tentara Belanda itu menembakan senjatanya secara bertubi-tubi …. Maka Kopral Jono berteriak … tiaaraappp”.  Bunda/Yanda  melaksanakan gerakan tiarap  sambil mengajak para siaga untuk menirukan gerakan tiarap.

4.   Suara

  • Memainkan intonasi bunyi sangat penting untuk menghidupkan sebuah dongeng.  Bunda/Yanda akan sangat baik mendongeng kalau bisa menirukan bermacam-macam suara. Fungsi suara  dalam dongeng yaitu :

      a.  Membedakan suasana :
           Suara yang meninggi sanggup dipakai untuk merefleksikan bahwa dongeng mulai memasuki
           puncak konflik/menegangkan. Suara melemah merefleksikan suasana konflik mulai
           mereda, dsb.

      b.  Menghidupkan dialog
           Kemampuan membawakan obrolan para tokoh dengan bunyi yang berbeda akan mampu
           membangun imajinasi para siaga terhadap dongeng yang dibawakan oleh Bunda/Yanda.

           Misalnya :
           Tentara Belanda :  “Hei .. hei  …. You inlandel … di mana koplal Jono”
           (Bunda/Yanda membawakannya dengan logat tentara  Belanda yang cadel dan sengau)
           Rakyat Indonesia : “tidak tahu, tuan … ampun … jangan tembak kami”
           (Bunda/Yanda membawakannya dengan nada  minta dikasihani)
           Tentara Belanda  :  “You jangan ikut-ikutan … Koplal Jono melawan Belanda ya …
           You bisa mampus,  I tembak ….”
           (Bunda/Yanda membawakannya dengan logat Belanda yang tetap cadel dan sengau)

      c.   Menghidupkan suasana
           Suara-suara tertentu ibarat tembakan, debur ombang, angin semilir,  mobil, motor dll yang
           sanggup ditirukan oleh Bunda/Yanda juga akan sanggup menghidupka suasana mendongeng.

          Misalnya :
          Sambil berlari menghindari kejaran Tentara Belanda, Kopral Jono memberi aba-aba
          kepada teman-temannya “Tembaakkk…..”  Maka, muntahlah peluru dengan suara
          “dor … dorr .. dorr.. door” bersahut-sahutan dari para pejuang Indonesia yang gagah
          berani. (Bunda/Yanda,  mengucapkan kata “dor.. dor” ibarat layaknya bunyi senjata).

    d.  Memberi ruang partisipasi
         Suara juga merupakan salah satu unsur yang sanggup dijadikan alat memberi ruang partisipasi
         para siaga ke dalam alur dan suasana dongeng. Para siaga bisa ikut menyanyi, berteriak,
         bersorak, mengaum, menembak, dst sesuai jalan cerita.

         Misalnya :
         “tidak usang kemudian para Tentara Belanda itupun menarik diri dan lari ke kota.
         Kopral Jono dan teman-temannya merasa senang karena  berhasil mengusir  Tentara
         Belanda. Tiba-tiba seorang tentara mitra kopral Jono,  maju dan berdiri menyanyi
         lagu Maju Tak Gentar – maka semua tentara Indonesia ikut menyanyi…”
         (Bunda/Yanda mengajak para Siaga menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar” dengan riang
         dan penuh semangat ibarat tentara Pejuang Indonesia yang sedang diceritakan Bunda).

    e.  Spesial Effect
         Penggunaan bunyi dengan special effect yang dibantu dengan alat pengeras bunyi akan
         sangat membantu untuk menghidupkan dongeng. Bunda/Yanda bisa menyiapkan special
         effect terlebih dahulu sebelum mendongeng dan meminta Bu Cik/Pak Cik untuk memutar
         sesuai dengan dongeng yang sedang dibawakan. Suara special effect contohnya : bom, tembakan,
         bunyi ombak, bunyi mobil, dsb.

5.  Durasi dan Kecepatan

  • Bunda/Yanda hendaknya mengukur benar, daya tahan para siaga mendengarkan cerita. Tidak ada durasi yang pasti, namun disarankan sebuah dongeng tidak lebih dari 15 menit. Tempo  atau cepat-lambat dalam mendongeng juga perlu di atur. Terlalu cepat akan menciptakan para siaga susah mengikuti, terlalu lambat bisa membosankan.

6.  Alat Peraga

  • Bunda/Yanda bisa memakai alat peraga untuk memperkuat bahan dongeng yang  dibawakannya, ibarat boneka binatang, pistol, foto, patung, bendera, mobil-mobilan dsb.   Penggunaan alat peraga yang sempurna sesuai dengan alur dongeng akan menciptakan para siaga lebih bisa berimajinasi dan terlibat dalam cerita.


7.  Narasi & Dramatisasi

  • Narasi yaitu sebuah teknik untuk mendeskripsikan suasana cerita, perwatakan tokoh, menyingkat alur cerita, dsb.  Narasi akan sanggup menghidupan suasana kalau dibawakan  dengan intonasi (tinggi rendah) dan lagu bahasa yang baik.
  • Misalnya : “Ketika malam mulai larut … Sang Kancil berjalan pelan-pelan memasuki kebun Pak Tani  untuk kembali mencuri timun –  Sang Kancil berhenti sejenak menengok ke kanan ke kiri,   setalah yakin aman, Sang Kancil mantap melangkahkan kakinya”. (Sambil menirukan gerakan     sang kancil – berjalan pelan berjingkat-jingkat,  Bunda/Yanda perlu melagukan kalimat narasi di      dengan intonasi dan lagu bahasa yang bisa untuk membangun suasana menegangkan dan sikap waspada Sang Kancil)

  • Dramatisasi yaitu sebuah teknik menyebarkan obrolan para tokoh dalam dongeng dengan bunyi yang berbeda-beda sesuai dengan karakter. Dramatisasi obrolan akan menghidupkan dongeng kalau bisa dibawakan secara tepat, ibarat contoh-contoh di atas.
Tahap selesai cerita/dongeng
  • Bunda/Yanda menawarkan kesempatan tanya jawab kepada para siaga untuk mendalami kandungan  dongeng yang gres saja dibawakan.
  • Bunda/Yanda menawarkan kesempata para siaga untuk memberi tanggapan, yang paling gampang yaitu balasan terhadap sikap tokoh-tokoh dalam cerita.
  • Bunda/Yanda memberikan kesimpulan wacana kandungan nilai-nilai yang termuat dalam dongeng tadi yang layak diteladani bersama.

Selamat memandu.
Membahagiakan Pramuka Siaga yaitu membahagiakan Indonesia.

Lihat entri/topik terkait :

Cerita untuk Pramuka Siaga : Batu Belah
Cerita untuk Pramuka Siaga : Kancil dan Buaya

Sumber :

Diolah dari banyak sekali sumber dan diubahsuaikan dengan keperluan “ensiklopediapramuka” (-aiw)