Covid-19 Varian Delta Belum Usai, Lambda Malah Bikin Ngeri – LAGIKEPO



LAGIKEPO |

Jakarta, CNBC Indonesia – Belum usai masalah penyebaran virus Covid-19 varian Delta, masyarakat dunia dihadapi dengan varian baru lainnya bernama Lambda. Sebuah studi terbaru dari tim peneliti Jepang menyebutkan Lambda dapat menembus perlindungan vaksin yang tersedia saat ini.

Studi tersebut belum ditinjau rekan lainya diterbitkan pada 28 Juli di bioRxiv. Para peneliti mengungkapkan varian Lambda menyebar di 26 negara termasuk Chili, Peru, Argentina dan Ekuador.

April 2021 lalu, Otoritas di Peru menyebutkan 81% kasus Covid-19 negara itu berhubungan dengan varian Lambda. Menurut tim peneliti dari Jepang , “tingkat vaksinasi di Chili relatif tinggi, presentasi orang yang menerima setidaknya satu dosis vaksin sekitar 60%”.

Meskipun begitu, ternyata terdapat lonjakan kasus di Chili. Hal ini menunjukkan varian Lambda bisa ‘kabur’ dari kekebalan anti virus yang dihasilkan oleh vaksinasi.

Sedangkan Varian Delta menunjukkan peningkatan infeksi virus dan resistensi lebih tinggi pada netralisasi yang diinduksi oleh vaksin.

“Di sini kami menunjukkan jika varian Lambda melengkapi tidak hanya infeksi namun jua resisten pada kekebalan anti virus,” ungkap penelitian tersebut, dikutip dari Fox29, Senin (16/8/2021).

Dalam penelitian terpisah dipimpin oleh ahli epidemiologi China Jing Lu mengungkapkan varian Delta memiliki 1.000 kali lebih banyak materi virus dari varian virus corona asli pada tahun lalu.

Pada awal ini, pejabat WHO mengatakan tidak banyak yang diketahui mengenai dampak dari varian Lambda. Namun ada potensi peningkatan penularan atau kemungkinan peningkatan resistensi pada antibodi penetral dibandingkan dengan strain Covid-19 asli.

Menurut para peneliti, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memahami soal varian Lambda.

Dalam studi awal, salah satunya dari Universitas New York diterbitkan 2 Juli, menyebutkan Lambda kemungkinan sedikit resisten dari antibodi yang diproduksi oleh vaksin mRNA oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna. Namun penelitian tersebut menyimpulkan Lambda tidak akan cukup untuk menyebabkan hilangnya perlindungan yang signifikan terhadap infeksi.

“Sejauh ini kami tidak melihat indikasi jika varian Lambda lebih agresif. Ada kemungkinan bahwa itu menunjukkan tingkat infeksi yang lebih tinggi, namun kami belum punya cukup data untuk membandingkannya dengan Gamma ataupun Delta,” jelas ahli virus WHO, Jairo Mendez-Rico.

[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)



2021-08-16 04:48:16

Source link

Studi Peru: Vaksin Sinopharm Efektif 50,4% Lawan Covid – LAGIKEPO



LAGIKEPO |

Jakarta, CNBC Indonesia – Penelitian di Peru pada tenaga kesehatan menunjukkan efektivitas vaksin Sinopharm hanya 50,4% melawan infeksi Covid-19 dan variannya. Hal ini jadi pertimbangan untuk memberikan vaksin booster atau dosis ketiga.

Studi ini dilakukan pada hampir 400.000 tenaga kesehatan Peru dengan menggunakan data Februari hingga Juni 2021. Peru saat ini sedang menghadapi gelombang kedua infeksi Covid-19 dari varian lambda dan Gamma.

“Kemanjuran untuk mencegah infeksi tidak tinggi dan ini harus menjadi pertimbangan untuk memberikan booster untuk mengoptimalkan perlindungan petugas kesehatan di garis terdepan,” ujar peneliti dari Institut Kesehatan Nasional Peru dan dua lembaga penelitian lainnya, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (13/8/2021).

Dari penelitian tersebut juga terungkap dua dosis vaksin Sinopharm efektif 94% mencegah kematian.

“Hal yang paling mungkin adalah bahwa Anda memang akan membutuhkan dosis ketiga, pertanyaannya adalah kapan saat terbaik dan dengan jenis vaksin apa,” Lely Solari, salah satu dari tujuh penulis makalah.

Lely Solari mengatakan meski kemanjuran vaksin Sinopharm rendah, tetapi masih sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di mana kemanjuran vaksin Covid-19 minimal 50%.

Vaksin tersebut telah menunjukkan tingkat kemanjuran 78,1% terhadap kasus COVID-19 yang bergejala dalam uji klinis Fase III, menurut data WHO. Sebuah pengumuman dari kementerian kesehatan Peru mengatakan bulan lalu vaksin itu 98% efektif melawan kematian.

Varian Lambda baru-baru ini menjadi perhatian karena penyebarannya di Amerika Serikat dan negara-negara Amerika Latin lainnya, meskipun beberapa ahli penyakit menular mengatakan penyebaran varian tersebut mungkin sudah mulai surut.

Varian Lambda lebih tahan terhadap antibodi yang dipicu oleh vaksin daripada versi asli virus yang muncul di Wuhan, berdasarkan hasil studi laboratorium.

[Gambas:Video CNBC]

(roy/miq)



2021-08-13 09:10:00

Source link