Berkat Sosial Media, Kurasakan Imbas Positifnya Dalam 3M

 saya pernah tergabung di sebuah komunitas budaya Berkat Sosial Media, Kurasakan Dampak Positifnya dalam 3M
Ilustrasi media umum (dok. pixabay)

I.

Tahun 2013 saya pernah tergabung di sebuah komunitas budaya. Namun saya hanya aktif selama 1,5 tahun saja.

Setelah tidak aktif lagi, saya kehilangan kontak dengan sahabat-teman yang ada di sana. Tiga tahun sesudah keluar, datang-datang seorang sobat di komunitas tersebut yang sudah lost contact dengan mengantarkan pesan. Ia menyapa saya lewat direct message instagram dengan isi kurang lebih berbunyi, “Halo Val, masih inget gue gak?”

***

II.

Saya suka berselancar di facebook. Saking sukanya, aku sering menuliskan aneka macam status, entah yang berkaitan dengan pengetahuan atau pengalaman di sana.

Hari-hari berjalan mirip biasa. Sampai pada akhirnya aku kaget sebab tiba-datang seseorang mengantarkan pesan ke aku yang isinya kurang lebih berbunyi, “Val, kau bisa ikut ke program X?”

*** 

III.

Saat akil balig cukup akal, saya pernah mengalami era yang menggebu-gebu. Saya punya keinginan dan berupaya ingin mewujudkannya. Namun saat menyaksikan pencapaian orang lain, tak jarang saya merasa insekyur sehingga berpendapat jangan-jangan aku bakal gagal mencapainya.

Tanpa disangka , seseorang mengirimkan kata-kata yang tidak saya fikirkan sebelumnya. Sejak itu saya sudut pandang saya jadi berubah.

***

Itulah tiga pengalaman saya terkait media umum. Dari apa yang aku alami, aku merasa bahwa media umum mempunyai aneka macam efek positif yang saya sebut sebagai 3M.

I. Menyatukan (silaturahmi)

Pertama, adalah menyatukan. Media sosial bermanfaat dalam menyatukan tali silaturahmi, dari yang semula renggang menjadi lebih lekat. Dari yang semula belum kenal, jadi saling mengenal.

Pada kisah I. aku bercerita bahwa saya pernah lost contact dengan sobat aku di suatu komunitas alasannya saya telah tidak aktif lagi di sana. Namun 2 tahun lalu, aku dengan teman aku tersebut sukses menjalin silaturahmi kembali padahal sebelumnya kami sempat kehilangan kabar satu sama lain.

Pertanyaannya, tahu darimana sahabat aku tentang kontak aku? Apakah ia mencari nama aku di instagram?

Ternyata, dia tahu akun IG saya berawal dari ketidaksengajaan menurut artikel IG feed sobat aku lainnya yang kebetulan melintas di beranda instagramnya. 

Jadi, tahun 2016 aku pernah jadi relawan di KPK untuk Indonesia International Book Fair 2016. Pada program penutupan, para relawan sempat berfoto bareng. Tata, teman relawan saya kebetulan mengunggah foto tersebut di IG feed dengan memberikan tag pada foto tersebut.

Tata mungkin cuma sekadar memosting foto saja dan tidak ada maksud lain. Namun tak disangka, postingan Tata di IG ternyata menjadi mediator yang menciptakan jalinan silaturahmi aku dengan Ka Oo, teman saya di komunitas terjalin kembali.

Hal itu dikarenakan Ka Oo dan Tata saling berteman di instagram. Saat ka Oo melihat foto Tata, dia mengenali bahwa ada aku di sana. Nah, dari situlah akibatnya beliau mengetahui akun IG aku sehingga menelepon aku lewat DM. Sejak itu, hubungan silaturahmi yang sempat terputus menyatu kembali.

Contoh yang aku alami terlihat sepele. Namun dari sini saya jadi sadar bahwa media sosial memegang peranan besar dalam menyatukan silaturahmi yang pernah terputus. Jangankan artikel diri sendiri, postingan orang lain di media umum ternyata mampu jadi perantara perkenalan atau bahkan penyatuan silaturahmi kembali yang sempat terputus.

II. Memperluas (rezeki)

Percayakah kamu bahwa media umum dapat bermanfaat selaku ajang untuk memperluas potensi rezeki? Sebagai orang yang pernah mengalaminya sendiri, saya amat percaya mirip yang sudah saya ceritakan pada poin II.

Saat aku berusia 18 tahun, saya pernah iseng-iseng menulis status dalam bahasa Inggris. Tidak ada maksud apapun, hanya mencurahkan opini dalam bahasa Inggris saja.

Tanpa saya sadari, status aku berbuah rezeki. Seorang pembina sebuah forum yang berteman dengan saya di facebook membaca status saya. 

Menilai bahwa saya bisa berbahasa Inggris, alhasil dia mengajak saya untuk ikut sebuah acara anak berukuran nasional. Kebetulan, dia sedang butuh cukup umur yang bisa berbahasa Inggris untuk mewakili DKI Jakarta.

Mendapatkan peluang langka untuk ikut serta di sebuah acara berskala nasional pasti tak bisa aku sia-siakan begitu saja. Alhasil, aku terima tawarannya.

Berpartisipasi di program berukuran nasional hanya gara-gara aku menulis status bukan satu-satunya potensi rezeki yang aku peroleh alasannya adalah aktif di media umum. 

Tahun 2019 saya juga pernah mengalaminya. Karena sering mengupdate link blog di facebook, seorang sobat facebook yang kebetulan senior aku memperlihatkan proyek kampanye sebuah merk masak yang melibatkan 400 partisipan. Karena nominalnya menggiurkan, jadinya aku mendapatkan anjuran tersebut.

III. Memperkaya (pengalaman, pengetahuan dan sudut pandang)

Dampak kasatmata selanjutnya yang aku rasakan selama aktif di sosial media yaitu sebagai pengguna, saya dapat memperkaya sudut pandang dan pengalaman saya jadi lebih beragam. Inilah yang saya ceritakan pada poin no. III. Hal ini akhirnya menciptakan saya jadi tidak mudah menghakimi dan lebih bijak dalam menyikapi sesuatu.

Saat sampaumur dan usia 20-an awal, saya sering mempertanyakan arti dari kesuksesan. Dengan segala kekurangan yang saya miliki, saya bahkan kadang kala insekyur begitu melihat pencapaian orang lain. Saya juga suka bertanya-tanya kepada diri aku sendiri, apakah saya bisa sukses? Bagaimana jikalau di abad depan saya ternyata gagal? Bagaimana kata orang jikalau saya tidak sukses?

Galau dan insekyur akan era depan diri sendiri, saya akhirnya mencurahkan apa yang aku rasakan di media umum. Namun pada kesudahannya seseorang memperkaya sudut pandang aku ihwal arti kesuksesan. Kak Ayu, sahabat aku yang berusia lebih bau tanah dari saya membalas status aku seperti ini:

Kesuksesan ialah tolak ukur diri orang lain. Kepuasan batin adalah tolak ukur diri sendiri.

Kata-kata yang kak Ayu ucapkan mungkin terlihat sepele. Namun pernyataan tersebut berhasil memperkaya sudut pandang saya ihwal arti keberhasilan. Saya jadi sadar bahwa aku tak perlu ngotot untuk melaksanakan sesuatu agar bisa berhasil karena pada akhirnya kesuksesan yakni tolak ukur orang lain. Dibanding memenuhi dosis keberhasilan berdasarkan orang lain, saya berpikir bahwa saya cuma perlu mengejar-ngejar kepuasan batin.

Di samping sudut pandang, saya merasa bahwa media umum juga berperan dalam memperkaya pengalaman dan pengetahuan. Berkat media umum Indozone misalnya, saya jadi tahu perihal update informasi-gosip terkini dan wawasan yang belum aku ketahui sebelumnya. 

Postingan di bawah ini contohnya. 

Salah satu teladan postingan Indozone di media sosial yang memperkaya wawasan saya. (dok. Indozone)

Dari artikel yang dibagikan Indozone ini, aku jadi tahu telah terjadi sejarah gres dimana suatu drone berhasil mengantarkan sepasang paru-paru untuk transplantasi medis dengan menempuh jarak sejauh 1,5 km. Sejarah ini tercipta di Toronto, Kanada dengan penerimanya yaitu Alain Hodak (63 tahun), seorang insinyur dan penggemar drone.

Postingan di bawah ini juga tak kalah bermanfaatnya dalam memperkaya wawasan saya wacana update informasi terkini.

Salah satu artikel Indozone yang memperkaya pengetahuan saya (dok. screenshot eksklusif)

Dari postingan sosial media Indozone yang satu ini, aku jadi tahu ihwal perkembangan terkini tentang apa yang terjadi di dunia. Meski masih pandemi, ternyata jamaah umrah tidak melaksanakan social distancing dikala melakukan ibadah di Mekkah.

***

Pada dasarnya, sosial media bagaikan dua segi mata uang. Di satu sisi memiliki dampak kasatmata, di segi lain mempunyai imbas negatif.

Dengan pesatnya kemajuan teknologi, tak mampu disangkal bahwa media umum turut menjinjing aneka macam pengaruh nyata dalam kehidupan. Sebagai penggunanya, tugas kita yakni bagaimana menggunakannya dengan bijak biar pengaruh positifnya mampu terasa optimal.

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021: Saatnya Semua Orang Setara Dalam Kesehatan Jiwa

Poster Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021 (dok. Kemenkes RI)

Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental. Begitulah kata David Satcher. 

Itu artinya, kita belum dikatakan ‘sehat’ dalam arti sebetulnya jika cuma sehat secara fisik. Selama kita melibatkan perasaan serta emosi dalam menjalani kehidupan penduduk sehari-hari, kita juga mesti sehat secara mental. Bagaimana kita bisa mengurus fikiran dan emosi kita saat menghadapi dilema ialah kuncinya.

Betapa pentingnya persoalan kesehatan mental menjadi perhatian serius bagi WHO. Itulah kenapa setiap tanggal 10 Oktober semenjak tahun 1992 diperingati selaku Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. 

Khusus tahun ini, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia mengusung tema “Mental Health in an Unequal World”. Tujuan dari perayaan ini yaitu untuk meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat dunia akan kesehatan mental.

Sebagai negara yang tak terlepas dari problem kesehatan jiwa, Indonesia pun tak ketinggalan untuk berpartisipasi. Oleh sebab itu, pada 6 Oktober 2021 lalu Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Temu Bloger Hari Kesehatan Jiwa Sedunia secara daring. 

Saya ketika menjadi peserta temu bloger Kemenkes RI dalam rangka merayakan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (dokpri)

Di Indonesia, masalah kesehatan jiwa jadi dilema yang tak mampu dibiarkan, terlebih pada era pandemi mirip sekarang. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 memperlihatkan bahwa lebih dari 19 juta masyarakatberusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional dan lebih dari 12 juta masyarakatberusia lebih dari 15 tahun mengalami stress.

Sementara Sistem Registrasi Sampel yang dilakukan oleh Badan Litbangkes tahun 2016 mencatat bahwa setiap tahunnya sebanyak 1.800 orang atau setara dengan 5 orang per hari melaksanakan langkah-langkah bunuh diri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 47,7% di antaranya yaitu usia 10-39 tahun.

4 Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia

Berdasarkan paparan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr. Celestinus Eigya Munthe, ada berbagai permasalahan kesehatan jiwa di Indonesia. Inilah beberapa di antaranya:

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr. Celestinus Eigya Munthe saat menawarkan penjelasan di Temu Blogger pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (dokpri)

1. Prevalensi Tinggi

Prevalensi tinggi jadi penyebab utama kenapa persoalan kesehatan masih belum bisa dilepaskan di Indonesia. Berdasarkan data, 1 dari 5 penduduk atau sekitar 20% populasi di Indonesia mempunyai potensi gangguan jiwa.

2. Terbatasnya Sarana dan Prasarana

Selain soal prevalensi, duduk perkara kesehatan jiwa di tanah air juga disebabkan alasannya adalah fasilitas dan prasarana yang terbatas. Belum semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa. Akibatnya, tidak siapa pun dengan masalah gangguan jiwa mendapatkan pengobatan yang semestinya. 

3. Minimnya SDM Profesional

Tingginya beban balasan masalah gangguan jiwa juga menjadi kesenjangan lainya. SDM profesional untuk tenaga kesehatan jiwa juga masih sangat minim. Satu psikiater di Indonesia harus melayani sekitar 250 ribu penduduk.

“Masalah sumber daya insan profesional untuk tenaga kesehatan jiwa juga masih sungguh kurang, sebab hingga hari ini jumlah psikiater sebagai tenaga profesional untuk pelayanan kesehatan jiwa kita hanya mempunyai 1.053 orang,” jelas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr. Celestinus Eigya Munthe.

4. Stigma dan Diskriminasi dari Masyarakat

Meski zaman telah semakin terbaru dan wawasan mampu diakses dimana-mana, tak bisa disangkal bahwa masalah kesehatan jiwa di Indonesia masih terkendala stigma dan diskriminasi. Jika ada seseorang yang mengalami problem kejiwaan, masih banyak orang yang memandang negatif. 

Hal ini perlu segera tertuntaskan. Jika tidak, seseorang yang berurusan pada kejiwaannya jadi segan untuk mencari penyelesaian alasannya takut dianggap negatif sehingga dikhawatirkan akan menjadi bom waktu sebuah hari nanti.

“Kita sadari bahwa hingga hari ini kita mengupayakan suatu edukasi terhadap penduduk dan tenaga profesional lainnya supaya mampu menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan jiwa, serta pemenuhan hak asasi insan terhadap orang dengan gangguan jiwa,” tutur Celestinus.

Ayo Bantu yang Bisa Kita Lakukan!

Meski masalah kesehatan jiwa adalah dilema global yang terkesan cuma bisa dikerjakan oleh pemerintah dan orang profesional, bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai masyarakat, kita juga bisa turut andil lho. Mungkin memang tidak dalam ruang lingkup yang besar, namun setidaknya kita mampu menolong merenggangkan masalah yang dialami oleh orang di sekeliling kita. Minimal 1 orang saja.

Dr. Indria Laksmi Gamayanti dari Ikatan Psikologi Klinis Indonesia menerangkan bahwa cara termudah mengatasi problem ini selaku penduduk yakni dengan memperlihatkan bantuan psikologis permulaan. Dukungan psikologis permulaan ini berisikan 6 kegiatan yang saling bersinergi satu sama lain ialah melihat, mendengar, menenangkan, menghubungkan, melindungi dan membangun keinginan.

Dr. Indria Laksmi ketika memaparkan klarifikasi di Temu Blogger tentang Kesehatan Jiwa (dokpri)
Lihat – Lihatlah orang-orang di sekitar kita. Adakah di antara mereka yang mengalami persoalan kejiwaan dan memerlukan dukungan? Jika ada, dekati dan rangkullah mereka.

Dengar – Dengarkan keluh kesah mereka. Kita mungkin belum tentu bisa menuntaskan masalah orang tersebut. Namun setidaknya, dengan menjadi pendengar yang bagus, kita dapat mengendorkan beban yang dihadapi dan menginformasikan bahwa orang itu tidak sendiri.

Tenangkan – Tenangkan orang yang sedang mengalami dilema kejiwaan. Berilah pengertian bahwa kita hadir dan berusaha untuk mendampingi dia dalam menghadapi dilema.

Hubungkan – Hubungkan orang yang sedang mengalami persoalan kejiwaan dengan tenaga profesional atau kegiatan yang dapat menghemat tekanan mental.

Lindungi – Lindungi orang yang sedang mengalami masalah kejiwaan dari hal-hal yang dapat mengancam nyawa.

Bangun Harapan – Bangun keinginan pada orang yang sedang mengalami dilema kejiwaan bahwa beliau bisa lebih baik lagi suatu hari nanti.

Menghadapi era pandemi yang serba sukar seperti kini memang tidak mudah. Masalah kejiwaan jadi taruhannya alasannya tanda-tanda stres, kecemasan sampai stress baik alasannya adalah masalah kesehatan ataupun ekonomi menjadi risiko psikologis yang tak dapat disingkirkan. 

Tak apa, itu manusiawi sebab masalah dalam hidup niscaya akan selalu ada. Yang paling penting bagaimana kita bijak dalam menghadapinya.

Akhir kata, saya berharap semoga kian banyak orang yang sadar akan pentingnya kesehatan jiwa dalam hidup. Semoga perayaan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini jadi saat-saat bagi kita untuk terus meningkatkan problem kesehatan jiwa karena pada dasarnya semua kesehatan jiwa

4 Cara Saya Dalam Merawat Keberagaman Di Indonesia

Sebagai bangsa Indonesia, kita patut bersyukur karena terlahir selaku bangsa yang majemuk.  Bangsa kita terdiri dari banyak sekali suku bangsa dan agama yang amat beragam. Saking beragamnya, tercatat ada sekitar 1331 golongan suku di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Indonesia adalah bangsa yang beragam (dokpri)

Keberagaman ini ialah sebuah anugerah karena tidak semua negara memilikinya. Namun hal ini tidak akan berarti apa-apa jika kita menyia-nyiakannya begitu saja. Perpecahan menjadi bahaya yang mampu terjadi sebuah waktu. Oleh alasannya adalah itu, penting bagi kita untuk selalu menjaganya supaya bangsa kita tetap utuh di kemudian hari.

Setiap orang punya caranya masing-masing dalam merawat keberagaman, tergolong dengan aku. Nah, lewat tulisan ini saya ingin berbagi tentang bagaimana cara yang saya lakukan dalam merawat keberagaman di Indonesia. Inilah 4 cara yang saya terapkan:

1. Lebih bijak dalam memakai media sosial

Era internet of things mirip kini bagaikan dua sisi mata duit. Di satu segi mampu mempersatukan kita. Berkat kehebatan teknologi, kita dapat menemukan isu seputar kearifan lokal sebuah penduduk sehingga menolong kita untuk saling mengetahui. Berkat kecanggihan teknologi pula, kita dapat saling terhubung dengan kerabat kita di daerah lain. 

Namun di segi lain, periode internet of things justru menjadi bumerang yang mampu memecah belah persatuan. Semakin canggihnya teknologi, makin canggih pula cara yang dikerjakan oknum-oknum pemecah belah bangsa dalam menyebarkan info bohong di internet demi kepentingannya sendiri. Faktanya, tidak sedikit orang yang tersandung kasus karena postingannya bernada SARA menyulut banyak orang di media umum.

Pada April 2019 lalu seorang laki-laki bernama Arif Kurniawan Radjasa diringkus oleh Polda Jawa Timur alasannya memposting ujaran kebencian dan hoax terkait SARA. Sementara itu pada Juli 2019 kemudian pemilik akun instagram @rif_opposite harus berhadapan dengan hukum sebab konten-konten sosial medianya memuat hoax terkait SARA.

Menjaga persatuan adalah hal mutlak untuk kita tegakkan. Nah, di tengah-tengah banjirnya gosip seperti dikala ini, maka cara termudah yang aku kerjakan dalam merawat keberagaman yaitu dengan bijak dalam memakai media sosial. Tak mampu disangkal, artikel media sosial dapat menjadi jalan termudah dalam perpecahan sebuah bangsa.

(dok. digitalmarketingschool.id)

Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memosting hal-hal yang kasatmata saja di media umum. Ketika aku menemukan sebuah postingan yang bermuatan SARA, aku tidak akan asal menyebarkannya di media umum eksklusif. Saya akan kroscek apalagi dahulu kebenarannya karena tidak semua artikel di internet dapat diandalkan.

Jika terbukti hoax, maka postingan tersebut cukup hingga di aku. Saya tidak akan menyebarkannya kepada orang lain sebab isu tersebut tidak benar. 

Kalaupun mesti posting, aku akan mengklarifikasi bahwa postingan yang beredar yakni hoax semoga kian banyak orang yang tercerahkan. Jika perlu, saya juga akan melaporkan postingan tersebut ke platform kawasan postingan itu diangkut biar artikel itu segera dihapus.

Namun jikalau postingan tersebut benar, saya akan menimbang-nimbang nilai kebermanfaatannya. Jika aku sebarkan, saya harus bisa menjawab apakah postingan tersebut akan bermanfaat bagi orang lain atau apa justru memperkeruh keadaan. 

Pada kesudahannya, aku menyadari bahwa tidak semua hal perlu dikomentari, apalagi jikalau aku tidak mengalaminya pribadi. Adakalanya menahan diri untuk tidak memosting atau tidak merespon sesuatu di media sosial itu lebih baik demi keutuhan bangsa.

2. Berteman dengan siapa saja tanpa membedakan satu sama lain

Selain bijak dalam bermedia sosial, saya juga berusaha merawat keberagaman yang Indonesia miliki dengan memperluas jaringan pertemanan dari latar belakang apapun. Saya sendiri seorang Muslim yang terlahir dari keluarga Jawa-Betawi. Namun saya tidak pernah pilah-pilih teman. Apapun suku, agama dan rasnya, saya berteman tanpa pernah membedakannya satu sama lain. 
Pertemanan lintas suku dan agama di Forum Pemimpin Muda Nasional 2010 (dokpri)

Saya punya sahabat yang beragama Hindu Bali. Berkat berteman dengannya, aku jadi tahu bahwa orang Hindu tidak mengonsumsi daging sapi selaku bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta. Kaprikornus saat sebuah hari aku harus bersama dengan teman Hindu, aku tidak akan menawarinya daging sapi.

Saya punya sahabat seorang Nasrani yang berasal dari Manokwari. Berkat berkawan dengannya, aku jadi tahu ihwal kebiasaan makan sirih yang biasa dijalankan oleh orang-orang sana. Saya belum pernah ke Manokwari. Namun bila suatu hari nanti saya punya peluang ke sana, aku tidak akan terkejut dengan tradisi tersebut alasannya aku telah mengetahuinya terlebih dahulu.
Saya juga punya seorang sahabat seorang keturunan Tionghoa yang beragama Buddha. Berkat dekat dengannya, aku jadi lebih mengerti tentang nilai-nilai pemikiran Buddha mirip hukuman alam. Kaprikornus ketika suatu hari saya hendak berbuat buruk, aku akan berpikir panjang sebab aku tidak mau menerima hukuman alam jelek. 
Saya yakin bahwa kian bermacam-macam sobat yang kita miliki, itu kian baik alasannya adalah pengetahuan kita akan bertambah dan sudut pandang kita dalam memandang sesuatu akan makin luas.
 
Di ketika sudut pandang kita jadi lebih luas, di dikala itulah kita akan lebih bisa mengerti orang yang berlainan dari kita. Kita tidak akan mudah menghakimi terlebih merasa lebih baik dari lainnya. Dengan begitu, tidak ada kebencian di antara kita alasannya yang ada hanyalah sifat saling mencintai sesama manusia.

3. Mengunjungi bermacam-macam kawasan

Demi merawat keberagaman, cara berikutnya yang saya kerjakan yakni dengan mengunjungi bermacam-macam kawasan di Indonesia. Namun tidak asal berkunjung saja, aku juga berupaya untuk mengetahui dongeng dari setiap tempat yang kunjungi dan apa makna dari setiap perjalanan yang saya lakukan. Semakin variatif kawasan yang dikunjungi, maka semakin anggun.
Misalnya saja pada 2017. Kala itu saya berkesempatan untuk menyambangi Masjid Baiturrahman yang terletak di Banda Aceh. Dari pengalaman tersebut saya menyadari bahwa Masjid Baiturrahman tak semata saksi bisu tsunami Aceh 2004 saja, melainkan juga saksi bisu usaha rakyat Aceh dikala masih dalam zaman pendudukan Belanda. 
 
Masjid Baiturrahaman (dokpri)

Pada 2018 saya juga berkesempatan untuk mampir ke Klenteng Boen Tek Bio yang ialah klenteng Tionghoa tertua di Tangerang. Sebagai daerah ibadah yang bangkit kokoh di tengah-tengah masyarakat yang mayoritasnya Islam, Boen Tek Bio menjadi bukti perihal betapa terbukanya masyarakat lokal dalam mendapatkan perbedaan sebab klenteng tersebut telah ada sejak 1684! 

Boen Tek Bio, klenteng tertua di Tangerang (dokpri)

Kalau bicara soal kuantitas, jujur sebenarnya masih sedikit kawasan-daerah di Indonesia yang telah aku datangi. Dibanding wisatawan lain, pengalaman saya enggak ada apa-apanya. Saya belum pernah ke Pulau Samosir, Derawan, Tana Toraja atau bahkan Raja Ampat.
 
Kendati demikian, aku merasa bersyukur karena masih bisa mencar ilmu dari setiap daerah yang saya tiba. Keunikan pada setiap tempat di Indonesia yang saya kunjungi membuat saya berguru bahwa betapa beragamnya Indonesia dan telah sebaiknya kita menjaganya.

4. Menghargai hari raya umat lain

Setiap umat beragama memiliki hari rayanya masing-masing. Ada Islam dengan Idul Fitri dan Idul Adhanya, Nasrani dan Katolik dengan natalnya, Buddha dengan waisaknya, Hindu dengan nyepinya dan bahkan umat Tionghoa dengan tahun gres imleknya. Meski berbeda-beda, ada satu persamaan yang pasti. Jika tidak dirayakan dengan sukacita, maka sudah pasti dirayakan dengan sarat khidmat.

Sebagai bentuk toleransi, telah sebaiknya bagi kita untuk saling menghargai peringatan umat satu sama lain. Salah satu cara termudah yang mampu kita lakukan adalah dengan tidak menganggunya sama sekali. 

Selain itu, kita juga bisa ikut mengucapkannya secara langsung. Jika memungkinkan, tak ada salahnya juga bagi kita untuk datang eksklusif ke tempat tinggal tetangga atau sobat yang sedang merayakan hari agama. 

Inilah yang saya dan sahabat-sobat aku kerjakan tahun lalu. Pada peringatan Tahun Baru Cina 2571 Kongzii, saya bersama beberapa sahabat berkunjung ke tempat tinggal sahabat (abang-beradik) dan larut dalam peringatan tahun baru Cina.

Merayakan Tahun Baru Cina di rumah teman (dokpri)

Sekian goresan pena aku. Ini cara saya untuk merawat kebersamaan, toleransi, dan keberagaman. Bagaimana cara kamu? Kabarkan/sebarkan pesan baik untuk MERAWAT kebersamaan, toleransi, dan keberagaman kamu dengan mengikuti lomba “Indonesia Baik” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.  

Sedekah Daging Kurban Dompet Dhuafa Yakni Jalan Ninjaku

Tanggal 31 Juli 2020 ditetapkan selaku perayaan Idul Adha 1441 H. Alhamdulillah, itu artinya dalam waktu dekat kaum muslimin dari banyak sekali penjuru dunia akan merayakan hari keagamaan paling besar kedua setelah Idul Fitri. Yeay!
Di satu sisi kita merasa senang. Namun di sisi lain kita juga merasa murung. Adanya pandemi covid-19 semenjak Maret lalu menciptakan pelaksanaan Idul Adha tahun ini terasa lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Suasana pemotongan binatang kurban Dompet Dhuafa di Desa Jampang, Bogor pada 2019 (dokpri)
Tak mampu dipungkiri, penyebaran wabah corona mengakibatkan banyak penduduk terdampak ekonomi. Tak cuma mengakibatkan seseorang mengalami penurunan pendapatan, tetapi juga berdampak pada hilangnya pekerjaan dan bahkan kebangkrutan.
Virus corona emang enggak kelihatan. Namun efek yang dihasilkan kan maen. Dampak ekonomi yang terasa juga turut membuat geliat penduduk untuk berkurban pada tahun ini menjadi menyusut. Boro-boro untuk berkurban. Bisa bertahan hidup di tengah-tengah penurunan pendapatan, PHK dan kebangkrutan saja sudah hebat.
Bagi yang tinggal di kota-kota besar khususnya Jakarta, menerima kanal kurban setiap tahunnya sih hal biasa. Bahkan bisa jadi jumlah kurbannya selalu keunggulan. Namun bagi yang tinggal di daerah pelosok, bukan tak mungkin hewan kurban ialah hal langka. Apalagi berdasarkan data IDEAS (Indonesia Development Islamic Studies) Dompet Dhuafa pada 2019, masih banyak masyarakat di wilayah luar Jakarta yang belum mencicipi hewan kurban alasannya adalah keterbatasan ekonomi.
Hewan kurban Dompet Dhuafa pada 2019 (dokpri)
Ironis memang. Sebelum pandemi, jumlah penduduk di Indonesia yang belum mencicipi binatang kurban saja masih banyak. Apalagi ketika pandemi. Tapi apakah kita tetap membiarkan jumlah orang yang enggak kebagian hewan kurban pada tahun ini makin bertambah?

Tentu enggak mau dong? Kalau ada uang buat berkurban sih alhamdulillah. Namun jikalau belum mampu, maka hanya ada satu caranya:

Tunjukkan jalan ninjamu dengan berzakat daging di Dompet Dhuafa! 

Kenapa Sedekah Daging Kurban?

Seperti dibahas di awal, periode pandemi seperti kini adalah masa-periode yang sulit bagi semua orang. Nah, berangkat dari itulah Dompet Dhuafa kemudian mengeluarkan terobosan berupa program sedekah daging kurban. Hal itu karena Dompet Dhuafa percaya bahwa masih banyak orang baik di negeri ini.
Sesuai namanya, acara sedekah daging tergolong pada ibadah sedekah. Meskipun nantinya nominal sedekah akan dikonversikan menjadi hewan, niat dan akadnya yakni komitmen untuk berzakat, bukan janji kurban.
Ini sesuai dengan isi surat At Thalaq ayat 7 yang berbunyi, “Dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban terhadap seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan menawarkan kelapangan sesudah kesempitan.”
Tujuan utama dari acara sedekah daging ialah untuk mengakomodir keinginan dan niat baik masyarakat yang bergotong-royong ingin berkurban namun tidak jadi dikerjakan alasannya terkendala biaya balasan pengaruh covid-19. Selain itu, program ini juga bermaksud untuk menghemat terjadinya pengurangan distribusi hewan kurban ke berbagai kawasan pelosok di Indonesia karena pandemi. Intinya sih, jangan hingga pandemi menyurutkan jumlah penyaluran hewan kurban dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Simbolis penyerahan daging kurban Dompet Dhuafa di Desa Jampang, Bogor pada 2019 (dok. Dompet Dhuafa)
Lalu berapa nominalnya? Bicara nominal, jumlahnya terjangkau banget! Hanya dengan mengeluarkan sedekah/bantuan minimal Rp100.000, kau pun sudah bisa ikutan sedekah daging dan membuatnya sebagai jalan ninjamu untuk menunjukkan ketaqwaan terhadap Allah! 
Donasi yang terkumpul nantinya akan dikonversi menjadi binatang kurban yang lalu akan disalurkan ke pelosok nusantara. Enggak perlu cemas sama penyalurannya. Dompet Dhuafa sudah terpercaya sejak 1993 dan bahkan sempat penghargaan Ramon Magsaysay 2016.
Bagi yang ingin ikut serta, caranya gampang. Cukup dengan mendatangi link berikut ini kemudian donasi sesuai nominal yang kau inginkan, kau pun sudah turut berkontribusi dalam penyebaran daging kurban.
Yuk berinfak daging di Dompet Dhuafa!
Jika Naruto, bapaknya Borutu berkata bahwa “Aku tak akan menawan kembali kata-kataku sebab itu jalan ninjaku”. Maka sekarang tak ada salahnya bagimu untuk berkata,
“sedekah daging kurban yakni jalan ninjaku untuk menunjukkan ketaqwaan terhadap Allah.”

Jikalau Aksara Latin Yakni Insan

Aksara latin
Jika huruf latin adalah insan…
Maka karakter “G” yakni eksklusif yang suka menolong dan rela mengembangkan beban yang dialami oleh orang lain. Itu alasannya adalah abjad “G” diciptakan oleh seorang mantan budak berjulukan Spurius Carvilius Ruga untuk menolong huruf “C” yang pada kala latin antik dipakai untuk merepresentasikan bunyi ambigu, ialah /g/ dan /k/.
Berkat kehadiran “G”, maka huruf “C” tak lagi kewalahan dalam merepresentasikan suara karena huruf “C” cukup berkonsentrasi pada suara /k/ sebab “G” sudah membantu bunyi /g/.
Sementara itu huruf “Z” yaitu eksklusif yang berjiwa besar, pemaaf dan rela berkorban. Itu karena pada mulanya, abjad latin berisikan 21 huruf yakni ABCDEFZHIKLMNOPQRSTVX. Namun pada era ke-3 Sebelum Masehi, karakter “Z” dianggap enggak penting. Alhasil, keberadaannya pun dihapus dari daftar karakter latin dan posisinya di tengah digantikan dengan huruf “G” yang ketika itu baru masuk.
Huruf “Z” juga berjiwa besar alasannya adalah begitu ditetapkan kembali selaku salah satu huruf latin pada kurun “classical latin”, dia tidak pernah berupaya merebut posisi “G” yang ada di posisinya kini seperti yang beliau pernah tempati dulu.
Alih-alih protes dengan hruuf “G” yang ada di posisinya, aksara “Z” justru legowo dan rela berkorban demi melancarkan aksi “G” dalam membantu “C”. 
Huruf “Z” juga pemaaf. Ia bahkan melewatkan segala kenangan pahit yang pernah beliau alami di abad lampau, sekalipun sekarang dia ditempatkan di urutan terakhir dalam daftar karakter latin. “Z” ialah representasi dari orang-orang yang pernah berada di atas roda kehidupan lalu tersakiti tetapi tetap membumi.
Adapun abjad “V” adalah eksklusif yang inspriatif. Ia sungguh-sungguh “real influencer” alasannya mampu menunjukkan dampak aktual kepada orang-orang di sekitarnya sehingga mereka kebaikan juga untuk orang lain. Berkat abjad “V”, kita pun mengenal huruf “W” dan “U” dengan bentuk mirip yang kita kenal sekarang.
Huruf “W” lahir pada abad ke-7 pada kala “middle age” untuk merepresentasikan suara [w] dalam Old English sedangkan aksara “U” baru ada pada era ke-16.
Di ketika “V” pribadi yang inspiratif dan influencer sejati, maka “W” adalah tipikal orang yang kreatif. Ia punya cara tersendiri dalam melakukan hidupnya.
Bentuk “W” lahir karena terinspirasi dari karakter “V”. Namun alih-alih mengikuti bentuk “V”, “W” justru mencurahkan segala kreativitasnya dengan prinsip ATM alias Amati-Tiru-Modifikasi. Hal itu karena bentuk “W” bahu-membahu diadopsi dari karakter “V” yang ditulis secara dobel (VV) yang masuk ke dalam daftar huruf latin pada era ke-7.
Bertolak belakang dengan “W”, abjad “U” justru tipikal orang yang pengennya instan dan tidak punya jati diri. Namun jika dilihat dari perspektif lain, abjad “U” juga tipikal orang yang enggak neko-neko dan cenderung kurang berani dalam mengambil resiko.
Itu sebab huruf “U” mengambil bentuk abjad “v” kecil yang ketika itu berbentuk “u” secara mentah-mentah tanpa modifikasi seperti yang dijalankan oleh “W”. Sejak masuknya karakter “U” ke dalam daftar abjad latin pada abad ke-16, maka “V” sang inspirator pun menyerah sehingga beliau pun mengganti bentuk ‘v’ kecil yang dikala itu berbentuk ‘u’ menjadi ‘v’ mirip yang kita kenal sekarang.
Huruf “Y” yaitu pribadi yang santuy dan “easy going”. Ia tipe orang yang menikmati hidup tanpa membandingkan dirinya dengan orang lain.
Meski “Y” hadir lebih dahulu bersama “Z” model ‘reborn’ pada periode classical latin daripada huruf “W”, “U” dan “J”, “Y” enggak pernah mempermasalahkan begitu beliau ditempatkan di urutan sebelum terakhir dalam urutan 26 aksara latin.
Dekatnya beliau dengan karakter “Z” juga menerangkan betapa ia adalah pribadi yang dekat dan setia kawan sebab sudah mendapatkan “Z” sekalipun “Z” memiliki periode kemudian yang kelam.
Tak lupa, ada pula abjad “J”. Jika “J” yakni insan, maka “J” adalah tipikal orang yang kurang mampu berdiri diatas kaki sendiri dan bergantung pada orang lain namun setidaknya ia sama kreatifnya dengan “W”. Itu bisa dilihat alasannya adalah dalam penulisan bilangan romawi abjad “J” senantiasa diposisikan di urutan terakhir setelah karakter “I” mirip pada bilangan XIIJ yang memiliki arti 23. Di samping itu, aksara “J” juga merupakan swash letter (abjad berdebur atau penyesuaian) dari abjad “I”.
Huruf “J” yakni huruf terakhir yang dimasukkan ke dalam daftar 26 aksara latin yang gres ditetapkan pada abad ke-17. 
Namun adanya ikatan sejarah dengan huruf “I”, maka aksara “J” tidak ditempatkan di urutan terakhir, melainkan di akrab “I”. Itulah kenapa abjad “U” dan “W” juga ditempatkan di akrab “V” dan “G” di tengah-tengah sebab ada ikatan sejarah di baliknya. 
Terlepas itu semua, karakter-huruf ini tidaklah sombong sebab mereka tipikal orang yang tidak melupakan tugas orang lain yang berjasa dalam hidupnya. Sejak itulah kita mengenal 26 karakter latin dari A-Z seperti yang kita kenal mirip sekarang.

Kala Disrupsi Teknologi Tiba, Saatnya Perusahaan Telekomunikasi Untuk Menyesuaikan Diri

Teman-sahabat, sadar enggak sih jikalau kini kita sedang memasuki abad disrupsi teknologi? 
Menurut KBBI, disrupsi yaitu hal tercabut dari akarnya. Jika diartikan dengan konteks teknologi, maka kala disrupsi yakni masa dimana lahirnya berbagai inovasi yang menggantikan seluruh metode lama dengan cara-cara gres. Intinya, di kala ini terjadinya banyak sekali pergeseran dalam teknologi secara cepat, mulai dari bisnis, kompetisi, adopsi, inovasi teknologi dan bahkan sampai pergantian organisasi.
Seminar disrupsi telekomunikasi: beradaptasi atau karam (dokpri)
Era disrupsi mampu terjadi di sektor apapun. Dengan makin tingginya para pengguna telekomunikasi, sektor telekomunikasi adalah salah satu yang terkena dampaknya.

Misalnya nih, dulu kita pakai SMS kan untuk menghubungi orang lain dari jarak jauh. Mulai dari kasih kabar ke orang tua, nanyain tugas sekolah sama temen atau bahkan buat PDKT sama musuh jenis (saya banget nih dahulu waktu SMP), semuanya dijalankan via SMS. 
Telepon juga mampu aja sih. Tapi alasannya adalah lebih mahal, maka SMS jadi tren yang populer ketika itu. Dengan kisaran harga Rp150-Rp350 per sms, mampu dibayangin kan betapa banyaknya laba perusahaan telekomunikasi yang ditemukan dari para pengantarSMS dikala itu?
Itu sih dahulu. Tapi semenjak hadirnya aplikasi pemasokchatting seperti whatsapp atau LINE, SMS jadi kurang laku sebab orang-orang sudah beralih ke WA. Akibatnya, perusahaan telekomunikasi enggak bisa lagi ngandelin SMS karena profitnya telah menurun drastis.
Contoh lainnya, dahulu kan kalau mau internetan kita pakai jaringan 3G. Tapi semenjak masuknya teknologi 4G yang lebih canggih dan lebih cepat, maka orang-orang pun mulai meninggalkan 3G dan beralih ke 4G. Itu pun mungkin enggak berlangsung lama lagi alasannya adalah kurun 5G sudah siap-siap mengambil alih periode 4G.

Dengan kata lain, disrupsi yakni sebuah hal yang niscaya dan tak mampu disingkirkan.

Transformasi dan Kolaborasi, Kunci Utama dalam Hadapi Disrupsi Telekomunikasi

Seperti yang dialami oleh negara-negara lain, abad disrupsi dalam bidang telekomunikasi juga menjadi masalah serius di Indonesia. 
Oleh alasannya adalah itu, Indonesia ICT Institute, lembaga independen yang bergerak dalam kemajuan teknologi dan berita termasuk bidang telekomunikasi pun menyelenggarakan pelatihan bertemakan “Disrupsi Telekomunikasi: Beradaptasi atau Tenggelam?” pada Rabu, 5 Februari 2020 di Balai Kartini, Jakarta. Sebagai orang awam, menurut saya acara ini mempesona banget alasannya membuka pengetahuan saya perihal dunia telekomunikasi.
Seminar tersebut turut didatangi oleh dua orang narasumber yang berkompeten di dalamnya. Selain Heru Sutadi sebagaiDirektur Eksekutif ICT Institute, program juga dihadiri oleh pembicara Nonot Harsono sebagai pakar telekomunikasi.
Heru Sutadi, Direktur Indonesia ICT Institute memaparkan penjelasan dalam pelatihan (dokpri)
“Disrupsi teknologi mengancam keberlangsungan operator telekomunikasi. Bisnis legacy mirip voice dan SMS tidak lagi mampu diandalkan dan mulai tergantikan oleh layanan teknologi digital baru over-the-top.” terperinci Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi.
Untuk mampu menghadapi disrupsi, perusahaan telekomunikasi tidak bisa tinggal membisu begitu saja. Perusahaan telekomunikasi harus beradaptasi. Sebab bila tidak, mereka mampu tenggelam seperti yang telah terjadi pada blackberry dan Nokia yang memilih untuk acuh pada perkembangan teknologi.
Seperti yang disampaikan oleh pakar telekomunikasi Nonot Harsono, setidaknya ada 2 langkah utama yang mampu diambil oleh perusahaan telekomunikasi supaya terus bertahan dari terpaan disruspi teknologi.

1. Transformasi

Pertama yakni transformasi. Untuk menghadapi segala perubahan yang serba cepat terjadi, perusahaan telekomunikasi mesti melaksanakan transformasi yang bertumpu pada tiga aspek, ialah merumuskan kembali visi dan kepemimpinan, penemuan dan adopsi.
“Transformasi operator telekomunikasi mesti dimulai dengan pergeseran mindset, transformasi dari layanan konvensional menjadi solusi digital serta efisiensi organisasi yang berfokus menjawab keperluan pelanggan secara spesifik dan bertindak secara lebih cepat.” jelas Nonot Harsono.
Salah satu cara transformasi adalah dengan melakukan modernisasi perlengkapan atau infrastruktur teknologi yang dimiliki. Dalam hal ini, suatu perusahaan telekomunikasi harus bersungguh-sungguh mengupgrade perlengkapan teknologi yang dimilikinya menjadi perlengkapan yang lebih mutakhir sesuai dengan yang diperlukan oleh masyarakat. 
Intinya, perusahaan tuh mesti ngikutin pertumbuhan jaman. Jangan kudet. 

2. Kolaborasi

Transformasi adalah hal penting untuk dilaksanakan. Namun itu saja tidak cukup. Agar mampu terus panjang umur, perusahaan telekomunikasi juga mesti melakukan sinergi dan kolaborasi dengan pihak-pihak lain. Melakukan jejaring yakni kuncinya.

Misalnya, kini nonton film via streaming sedang jadi tren. Nah, di sinilah kejelian operator telekomunikasi diuji karena ada peluang dalam kesempatan apapun.

Operator telekomunikasi yang pintar pasti akan mempergunakan momen tersebut dalam meraup laba tersebut dengan menciptakan paket internet khusus yang mencakup ongkos langganan nonton film secara streaming. Hal itu mirip yang dilaksanakan oleh Telkomsel saat bekerja sama dengan HOOQ.

Melakukan jejaring ialah kuncinya. Tak semata dengan aplikasi nonton film streaming, tetapi juga sinergi dengan pihak yang lain mirip Google, whatsapp atau bahkan Tiktok.

Itulah pembahasan tentang disrupsi teknologi dan ihwal bagaimana perusahaan telekomunikasi mesti menghadapinya. Dari seminar yang aku ikuti tempo kemudian aku jadi berguru bahwa disrupsi yaitu sebuah keadaan yang tak mampu dikesampingkan.

Poinnya ialah kemajuan teknologi bergerak cepat. Kaprikornus, mau enggak mau dan suka enggak suka, perusahaan telekomunikasi mesti melaksanakan langkah-langkah. Sayangnya, hanya ada dua pilihan yang bisa dipilih: beradaptasi atau justru tenggelam?

5 Hal Sederhana Yang Bikin Aku Senang

(dok. theweek)

Setiap orang memiliki tolok ukur tersendiri dalam merasakan senang. Ada yang bahagia karena membeli gadget baru. Ada yang senang alasannya mempunyai rumah pribadi. Ada yang senang karena menempati jabatan tertentu. Bahkan ada pula yang senang alasannya memiliki duit banyak.

Tentu saya juga berbahagia jikalau menerima sesuatu yang berafiliasi dengan materi mirip yang disebutkan di atas. Namun lupakan sejenak soal standar senang tersebut alasannya bukan itu fokus bahasannya.
Bagaimana pun, aku juga punya tolok ukur kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan ini diperoleh dari hal-hal sederhana yang mungkin bagi orang lain yakni hal yang biasa saja, tetapi bagi aku justru membahagiakan.
Apa sajakah itu? Nah, ini dia beberapa hal sederhana yang bisa bikin saya senang. Sebenarnya ada banyak, namun kali ini aku ingin menceritakan 5 di antaranya saja. 

1. Memanfaatkan akomodasi negara

Inilah hal sederhana pertama yang mampu bikin saya bahagia. Yap, aku merasa bahagia ketika bisa mempergunakan akomodasi negara dengan sebaik-baiknya. Eits, jangan salah. Gimana pun aku suka bayar pajak lho melalui belanja di swalayan atau makan di kedai makanan!
Kayak gimana memanfaatkannya? Macem-macem. Mulai dari naik busway, naik MRT bajalan kaki di trotoar bahkan hingga menyaksikan-lihat tempat Gelora Bung Karno yang indah setelah direnov juga bisa bikin aku merasa senang. 
Berhubung aku suka baca buku dan nonton film, saya juga merasa bahagia tiap kali berkunjung ke Perpustakaan Kemendikbud dan meminjam DVD di sana. Begitu pun ketika aku bisa menyaksikan-lihat kawasan Gelora Bung Karno yang indah sesudah direnov atau bahkan sesederhana berlangsung kaki di trotoar. Macem-macem deh pokoknya.
Intinya sih saya bahagia ketika bisa mengoptimalkan pajak yang dikontrol oleh negara melalui aneka macam layanan dan akomodasi negara. Wah, rasanya puas bukan maen! Seenggaknya pajak yang dikeluarkan oleh rakyat dari rakyat dan untuk rakyat, termasuk saya sendiri lewat PPn dari makan di kedai makanan dampaknya terasa banget dan enggak tidak berguna begitu saja.

2. Melihat orang aktif bekerja dan produktif berkarya

Selain mempergunakan fasilitas negara, saya juga merasa senang dikala melihat orang aktif bekerja. Sesimpel itu.

Misalnya lagi mampir ke swalayan. Terus ngeliatin ada mbak-mbak kasir yang aktif melayani konsumen dan mas-mas yang lagi rapiin display barang atau kuliner. Wah, saat itu juga aku jadi ikut merasa senang.

Saya lagi di jalan terus melihat ada pengendara ojek online mengantarkan penumpang ke suatu daerah. Sesimpel itu, tapi saya merasa bahagia.

Saya lagi di jalan terus melihat ada ibu-ibu dagangtisu. Saya juga merasa senang.

Biar kaum rebahan begini, aku ikut merasa bahagia ketika menyaksikan orang lain berupaya mencari rezeki dengan aktif bekerja dan produktif dalam berkarya. Entah kenapa saya merasa senang saat melihat orang lain berusaha melaksanakan hal-hal yang positif demi kelangsungan diri sendiri dan keluarga. Apapun itu pekerjaannya.

3. Memenuhi kebutuhan keluarga di rumah

Waktu aku masih duduk di kursi sekolah dan kuliah, segala kebutuhan di rumah dipenuhi oleh orang tua. Tapi enggak seluruhnya sih. Terkadang keperluan di rumah juga dipenuhi oleh almh. kakak aku yang ketika itu hidup bercampur dengan orang renta.

Namun sejak abang perempuan saya meninggal dan saya telah berpenghasilan (khususnya di akhir masa-kurun kuliah penghasilan saya lebih baik dibandingkan ketika mengajar les dahulu), kini giliran saya untuk gantian ikut berkontribusi dalam menyanggupi kebutuhan keluarga di rumah, meskipun keluarga saya bergotong-royong bukan keluarga dari ekonomi rendah.

 
Misalnya, ngisi token listrik di rumah setiap waktunya, bayar PAM, ngasih uang buat orang renta terutama ibu, mesenin gojek buat keponakan aku buat pergi ke sekolah (saya males nganterin tiap pagi jadi mending pesenin aja tapi tetep pake promo), bahkan hingga sesederhana beli sabun buat di kamar mandi.
 
Saya sih emang enggak menyanggupi seluruh kebutuhan di rumah. Tetap ada peran orang bau tanah. Namun rasanya ada kebahagiaan tersendiri ketika saya bisa mengeluarkan sebagian rezeki yang aku punya untuk menyanggupi kebutuhan keluarga walaupun jumlahnya tidak banyak. Sesimpel itu. Entah kenapa rasanya ada kepuasan tersendiri saat apa yang saya miliki mampu berguna untuk keluarga sendiri.

4. Beli sesuatu pakai promo

Siapa sih yang enggak suka beli sesuatu pakai promo? Wah, aku rasa siapa saja niscaya menyukainya.

Saya yakni salah satu di antaranya. Mungkin terdengar berlebihan, namun bagi saya berhasil membeli sesuatu dengan harga promo ialah sesuatu yang membahagiakan.

Promo apa? Apa aja. Keseringan saya mendapatkannya dalam bentuk cashback.  

 
Saya sih enggak persoalan juga kalau berbelanja sesuatu dengan harga umumalias tanpa promo. Tapi jika bisa beli dengan harga promo, rasanya beda gitu deh. Rasanya ada prestasi tersendiri dikala bisa membeli sesuatu dengan harga yang jauh lebih hemat biaya. Ibarat kata, bila mampu promo, ngapain cari yang harganya normal?
 
Saking senangnya dengan promo, saya bahkan hingga pernah berburu promo cashback lho ketika dompet digital kayak Dana, Gopay dan OVO ngadain promo cashback besar-besaran (sayangnya kini udah jarang). Apalagi jikalau promonya itu pada harga token listrik dan pulsa, wah kian bahagia deh saya.

5. Menghapus file-file yang sudah tidak penting dan membenahi file yang berantakan

Hal sederhana yang lain yang enggak kalah dalam menciptakan saya senang adalah saat aku telah membersihkan file-file yang sudah tidak penting dan sudah tidak dibutuhkan lagi, baik di laptop ataupun handphone.

Sebagai orang yang aktif dengan gadget, enggak bisa disangkal bahwa laptop dan handphone saya sarat dengan file-file (keseringan gambar Whatsapp ataupun screenshot) yang sifatnya spam alias telah enggak diperlukan lagi. Sayangnya aku jarang meriksain satu per satu. Kaprikornus sekalinya dibuka, sampahnya berasa banyak banget sehingga mesti dihapus.

Padahal yang aku lakuin cuman ngapus-ngapusin doang, tetapi alasannya berasa beres-beres, aku jadi merasa produktif. Karena berasa produktif, balasannya merasa bahagia deh.

Begitu pun dikala saya membenahi file-file di laptop/handphone yang awut-awutan alias belum sesuai dengan foldernya, saya juga merasa ada kebahagiaan saat melakukannya.

Itulah 5 hal sederhana yang bisa bikin aku bahagia. Di luar itu, ada satu hal lagi yang jelas-terperinci membuat saya merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Kebahagiaan itu timbul ketika saya masih diberikan peluang untuk berkumpul dengan keluarga (khususnya orang bau tanah) dan dikelilingi oleh orang-orang terdekat yang mempunyai energi aktual. Itulah sesederhana-sesederhananya tolok ukur kebahagiaan saya.

Nivea Men Extra White, Andalan Pria Indonesia Atasi Paras Kusam Dan MembuatParas Cerah

NIVEA MEN Extra White – Sebagai pria muda Indonesia yang aktif, berhadapan dengan paparan sinar matahari, debu, kotoran serta polusi udara bukan hal gres bagi gue. Gue udah dekat banget dengan hal-hal mirip itu.

Saat masih kuliah, gue harus pulang pergi dari rumah ke Ciputat naik motor untuk menimba ilmu. Saat menjadi guru Bahasa Inggris, gue juga mesti pulang pergi dari rumah ke kawasan les dengan naik motor untuk mengajar Bahasa Inggris. Apalagi sekarang saat jadi kreator konten, gue juga mesti menempuh perjalanan ke daerah berbeda dengan naik kendaraan umum.

NIVEA MEN Extra White (dokpri)

Adanya pekerjaan dan aktivitas yang dinamis menuntut gue untuk sering berpindah dari satu daerah ke tempat lain sehingga mau enggak mau menciptakan gue harus terbiasa dengan polusi kendaraan serta kondisi cuaca dan udara di Jakarta yang jelek.

Awalnya sih gue pikir umumaja dan menganggapnya sepele. Ah, cuman kena matahari doang. Ah, cuman kena polusi doang. Ah, cuman kena kotoran doang. Namun seiring berjalannya waktu, gue sadar bahwa rutinitas yang membuat kita sering terpapar sinar matahari bukan hal yang bagus alasannya adalah mampu merusak penampilan kulit.

Menurut dermatologis dr. Nana Novia Jayadi, Sp.KK, matahari ialah ancaman terbesar bagi kesehatan kulit utamanya bagi yang aktif mirip para pria muda Indonesia. Hal itu dikarenakan matahari mempunyai sinar UVA dan sinar UVB yang berbahaya. UVA disebut selaku UVAging sedangkan UVB disebut selaku UVBurning.

Sinar UV matahari, dilema utama pada kulit (dok. replere.com)

Jika terpapar terlalu usang, sinar UVA akan menembus kulit lebih dalam sehingga mampu menjadikan penuaan kulit berupa keriput dan noda hitam dan bahkan kanker. Sementara radiasi pada sinar UVB akan mengkremasi kulit dan menghipnotis melanin sehingga menciptakan kulit jadi terlihat lebih gelap. Kondisi ini bahkan mampu jadi lebih buruk kalau ditambah dengan polusi, kotoran dan bahkan debu. Wow!

Akibat kecuekan gue terhadap kegiatan rutin sehari-hari di luar ruangan, karenanya penampilan paras gue pun jadi terlihat lebih buruk. Wajah gue awalnya higienis dan putih. Tapi makin lama justru semakin terlihat kusam. Gue mirip orang yang kurang terawat. Bahkan ada bintik-bintik hitamnya. Sejak itu gue merasa enggak pede dan secara enggak langsung kuat pada performa pekerjaan.

Alasan Kenapa Memilih NIVEA MEN Extra White

Memiliki muka yang kusam dan berbintik hitam tentu enggak mampu dibiarkan begitu saja. Soalnya gue berpikir bahwa jikalau dibiarin, kulit gue bakal jadi kian kusem dan semakin enggak lezat buat dipandang. Maka dari itu gue pun mencari solusi untuk menangani kekusaman sekaligus cara untuk menciptakan paras gue jadi kian cerah.
Eits, jangan bayangkan jika gue bakal mandi kembang tujuh rupa apalagi pergi ke orang cerdik buat bikin wajah cerah. Tentu aja gue enggak dong. Buat mengembalikan kesehatan muka, cara yang gue lakuin gampang banget. Cukup dengan mengaplikasikan produk NIVEA MEN Extra White Dark Spot Minimizer Foam ke tampang secara berkala setiap harinya utamanya setelah beraktivitas, gue pun udah berusaha mengatasi duduk perkara wajah yang gue alami.
 NIVEA MEN Extra White, andalan gue dalam atasi muka kusam dan noda hitam (dokpri)

Sebenarnya ada banyak produk perawatan tampang yang beredar di pasaran. Namun gue sendiri menentukan NIVEA MEN Extra White Dark Sport Minimizer Foam sebagai pembersih tampang karena sebab gue yakin banget bahwa kualitas produk Beiersdorf enggak perlu diragukan lagi. Seenggaknya gue punya beberapa argumentasi yang menciptakan gue menentukan NIVEA MEN Extra White.

1. NIVEA MEN Extra White bikin kulit muka lo jadi 10x tambahan cerah

Pertama, argumentasi utama kenapa gue menentukan NIVEA MEN Extra White yakni sebab kandungannya itu juara.

Kandungan dalam NIVEA MEN Extra White ini lengkap banget masbro alasannya adalah memiliki kandungan Active Vitamin C yang telah teruji. Eits, jangan samakan formula Active Vitamin C ini dengan Vitamin C semata ya. Soalnya beda banget!

NIVEA MEN Extra White (dok. Nivea Men)

Active Vitamin C ialah variasi dari berbagai zat nutrien pencerah kulit seperti whitinat/rucinol, vitamin C, licorice, SPF30, vitamin E, vitamin B, ginseng, ginkgo biloba dan aneka macam nutrien yang lain. Sedangkan vitamin C semata bukan campuran dari berbagai zat nutrien.

Itulah kenapa gue memilih NIVEA MEN Extra White alasannya kombinasi tersebut mampu mencerahkan kulit paras 10 kali lebih baik dibandingkan vitamin C semata. Kusam pun tinggal say goodbye dan wajah kita bakalan jadi lebih cerah sehingga dogma diri pun bakal jadi lebih meningkat. 

2. NIVEA MEN Extra White membuatmuka bebas dari noda hitam 

Selain kekusaman, persoalan yang paling kerap menghadang laki-laki muda Indonesia yang aktif ialah noda hitam di wajah. Bukan begitu, sob?
Awalnya gue menyangka bahwa noda hitam itu disebabkan oleh bisul aja. Itu bener sih. Namun ternyata, enggak cuman abses aja loh. Radiasi sinar matahari justru menjadi penyebab utamanya alasannya turut memajukan produksi melanin pada kulit sehingga ada area kulit yang berwarna lebih gelap dibandingkan di sekitarnya!
Faktanya, ada 3 jenis noda hitam yang disebabkan oleh paparan sinar matahari. Pertama, freckles yang disebabkan oleh paparan sinar matahari berlebih di usia dini. Kedua, flek hitam yang timbul karena dipicu sinar UV matahari berlebih hingga menyebabkan gejala penuaan dini. Terakhir, melasma yang dipicu oleh hal-hal yang lebih kompleks, mulai dari paparan sinar UV matahari, perubahan horonal, inflamasi kulit, penggunaan obat tertentu, gangguan tiroid dan bahkan stres.
NIVEA MEN Extra White (dokpri)
Perlu kita ketahui pula bahwa di bawah satu noda hitam yang kecil itu terdapat jutaan sel pigmen yang rusak. Kerusakan ini mulai terjadi ketika kulit terpapar sinar matahari ditambah dengan polusi, keringat, abu dan kotoran. Nah, variasi itulah yang kemudian menjadi penyebab utama kenapa paras kita mempunyai noda hitam.
Beruntung, kandungan vitamin C pada NIVEA MEN Extra White ini enggak cuma bermanfaat dalam mencerahkan tampang aja, tetapi juga terbukti ampuh dalam menyamarkan noda hitam di wajah. Hal ini dikarenakan vitamin C melakukan pekerjaan untuk menghalangi pembentukan melanin yang terlampau banyak secara aman dan efektif. Alhasil, warna kulit dapat dicegah semoga tidak kian gelap sehingga noda hitam pun dapat disamarkan.

3. Wangi maskulinnya bikin wajah jadi lebih segar dan kemasannya mudah

Selain keuntungannya, yang gue perhatikan dari produk perawatan paras itu yakni wanginya. Kira-kira lezat gak sih dikala wanginya dicium? Atau apa justru bikin kita enggak nyaman?

Nah, menurut gue wangi maskulin NIVEA MEN Extra White ini pas banget. Gue makin suka karena wanginya bikin paras gue jadi terasa lebih segar. So, gue pun jadi lebih enjoy dalam menjalani kegiatan rutin harian.

Selain itu, bentuknya yang mudah juga membuat gue untuk gampang dalam membawanya kemana-mana sehingga dapat terus menunjang pekerjaan gue yang dekat dengan luar ruangan.

4. Harganya terjangkau banget!

Ini ia alasan yang dinantikan-tunggu. Iya sih bermanfaat banget buat wajah, namun mahal enggak sih harganya?

Eits, enggak perlu cemas! NIVEA MEN Extra White ukuran 100ml ini dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau. Hanya dengan mengeluarkan kocek berkisar Rp28.700-Rp31.500, kita pun telah bisa menjinjing pulang produk yang satu ini.

Ini setara dengan harga kopi kekinian. Kalau sekali beli kopi kontemporer aja mampu Rp30 ribuan, dengan uang segitu kita udah mampu mendapatkan hasil optimal dalam perawatan kulit lho. Murah banget kan masbro?

Harga produk NIVEA MEN Extra White terjangkau, setara dengan 1 gelas kopi kekinian (dok. realsimple.com)

Makin asik lagi alasannya produk ini mudah ditemukan dimana-mana. Selain bisa ditemukan di supermarket dan minimarket terdekat di seluruh Indonesia, NIVEA MEN Extra White juga bisa didapatkan di aneka macam e-commerce terkemuka. Kaprikornus, jikalau enggak sempat buat beli pribadi, pesan secara daring aja!

Masalah tampang kusam dan noda hitam enggak cuma dialami oleh gue aja, tetapi juga oleh para laki-laki muda Indonesia yang lain. Tak bisa disangkal bahwa meski tinggal di daerah tropis dengan intensitas sinar matahari yang tinggi, banyak pria muda Indonesia ingin wajahnya ekstra cerah dan bebas dari noda hitam tanpa mengurangi kegiatan luar ruang mereka. Hadirnya NIVEA MEN Extra White bisa menjadi solusi dan andalan dalam menangani problem penampilan tampang.

Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, gue rekomen banget buat lo, cowok-perjaka yang aktif dan sering terpapar sinar matahari buat memakai NIVEA MEN Extra White kayak gue juga. Apalagi menurut Fitzpatrick, jenis kulit orang Indonesia yang tinggal di tempat khatulistiwa yaitu prototype antara No. IV dan V yang memang kaya dengan zat pewarna kulit sehingga kulit kita lebih mudah menggelap ketika terkena paparan sinar matahari. Makanya penting banget buat kita melaksanakan persiapan supaya muka kita tampak lebih cerah melalui produk NIVEA MEN.

Gue dan para pemain Real Madrid aja telah membuktikannya dan sudah mendapatkan hasil maksimal. Sekarang saatnya lo buat buktikan sendiri!

Info lebih lanjut sila datangi di https://www.niveamen.co.id ya

Pentingnya Tugas Wanita Jaga Ketahanan Keluarga Di Periode Media Sosial

Siapa sih di antara kita yang enggak pengen punya keluarga yang serasi dan senang? Apapun latar belakang kita, pasti menginginkannya. Hidup dengan langgeng bareng pasangan dan anak-cucu secara bahagia yakni cita-cita bagi siapa saja, termasuk bagi saya yang masih lajang.
Bagi aku, siapapun mampu membangun suatu keluarga. Namun tidak semua orang bisa mempertahankannya dengan baik. Tak bisa dibantah bahwa perempuan yakni tonggak keluarga sehingga kiprahnya sangat diperlukan.
Sayangnya, memasuki kala digital yang dimulai dengan derasnya arus gosip lewat media sosial dan internet, masih banyak perempuan yang belum teredukasi dengan baik tentang bagaimana mempertahankan keluarga. Alih-alih memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan banyak sekali imbas positifnya, seorang perempuan justru bisa menjadi bumerang dari kehancuran keluarga yang tengah dibangunnya.
Saya dikala mengikuti Seminar Sehari Pengarusutamaan Gender yang diadakan oleh Bimas Islam Kementerian Agama RI (dokpri)
Salah satu pola yang sudah terjadi dewasa ini adalah dikala seorang wanita mencuit komentar bernada negatif tentang seorang pejabat di media sosial. Jika dikerjakan oleh orang biasa, mungkin akan lazimsaja. Namun sayangnya, perempuan tersebut berstatus selaku istri seorang Tentara Nasional Indonesia yang harus melaksanakan instruksi etik tertentu. Akibat ulah tersebut, maka sang istri membuat si suami dipecat dari jabatannya selaku seorang TNI.
Saya oke banget jika ada pepatah yang mengatakan bahwa di balik pria berhasil niscaya ada perempuan yang mahir. Namun hal itu juga mampu berlaku sebaliknya bila seorang wanita melakukan hal-hal yang sebaiknya tidak dikerjakan. Dengan kata lain, perempuan memiliki peranan penting dalam mempertahankan ketahanan kurun depan suatu keluarga.
Nah, betapa pentingnya peran wanita pasti enggak boleh didiemin begitu saja. Oleh sebab itu dalam rangka mengedukasi para wanita dalam memperkuat ketahanan keluarga, Bimas Islam Kementerian Agama Republik Indonesia mengadakan acara pelatihan sehari perihal pengarusutamaan gender pada Kamis, 17 Oktober 2019 di Gedung Kementerian Agama. Dengan mengangkat tema “Perempuan dan Media Sosial: Peran Perempuan Menghadapi Pengaruh Media Sosial dalam Menjaga Ketahanan Keluarga”, program ini diharapkan menjadi ilham bagi para perempuan khususnya yang muslimah dalam melakukan tugas terbaiknya di dalam keluarga.
Seminar sehari dibuka oleh Prof. Muhammadiyah Amin (dokpri
Meskipun temanya dikhususkan untuk perempuan, program ini juga dapat diikuti oleh para lelaki mirip aku lho… Selain agar kita yang cowok makin paham tentang kesetaraan gender bahwa posisi laki-laki dan perempuan itu setara, seminar ini juga penting untuk diikuti oleh pria supaya mampu menjadi wangsit bagi mereka dalam mendidik istri masing-masing, utamanya bagi yang telah berumah tangga. Bagi yang lajang kayak aku juga cantik dalam memilih kriteria istri idaman.
Seminar sehari ini dibuka oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin. Kemudian dilanjutkan oleh pemaparan dari banyak sekali narasumber mirip Trisna Willy Lukman Hakim (penasehat Dharma Wanita Kementerian Agama), Henri Subiakto (Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika), Erik Mubarok (praktisi digital) dan Rahmi Dahnan (psikolog).
Ibu Trisna Willy memberikan arahannya dalam pelatihan sehari pengarusutamaan gender (dokpri)
Dari aneka macam klarifikasi narasumber, aku mendapatkan bahwa ada 3 poin utama yang mesti diperhatikan oleh perempuan dalam mengerjakan perannya dalam keluarga.

1. Cerdas dalam menempatkan diri

Seorang perempuan tidak mengerjakan satu peran saja saat berkeluarga, melainkan beberapa peran, mulai dari peran sebagai istri, ibu dan bahkan sampai selaku wanita karier atau seorang pekerja profesional. Oleh alasannya itu saat telah bersuami, seorang perempuan harus tahu kapan saatnya jadi istri, kapan saatnya jadi ibu dan bahkan kapan saatnya jadi wanita karier atau pekerja profesional.
Memiliki jabatan di perusahaan sih tentu boleh-boleh saja. Namun jangan sampai permasalahan pekerjaan dibawa ke rumah sampai hasilnya lupa melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang istri atau bahkan lupa merawat anaknya sendiri. 
Melakukan acara tertentu mirip aktif bermain media sosial juga boleh-boleh saja kok. Apalagi jikalau mampu menciptakan uang (misalnya dagangonline). Namun jangan hingga alasannya adalah keasyikan main media umum, seorang perempuan melalaikan kiprahnya sebagai seorang istri dan juga ibu. Cerdas dalam menempatkan diri adalah kuncinya.  

2. Saring sebelum sharing

Tahu enggak kenapa banyak hoax yang bertebaran di media sosial? Jawabannya, itu alasannya adalah banyak yang gampang percaya dan menyebarkannya dengan gampang begitu saja!
Maka dari itu dalam pelatihan ini, Trisna Willy Lukman Hakim menekankan pentingnya ‘saring sebelum sharing‘. Saat ada informasi yang beredar, pastikan dulu kebenarannya. Apakah isu tersebut benar atau apa justru bohong. Jika benar, tentukan juga nilai kebermanfaatanya. Apakah gosip yang beredar tersebut berfaedah atau apa justru tidak sama sekali.
Naluri emak-emak yang identik dengan nyebarin isu mungkin memang tidak mampu disingkirkan. Namun juga bukan memiliki arti harus senantiasa dibenarkan apalagi kalau info yang disebarkan itu salah. Dengan arus info yang semakin cepat, maka seorang perempuan diperlukan bisa menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyebaran hoax.

3.  Melakukan pengawasan gawai kepada anak

Ini dia yang enggak kalah penting. Sebagai sosok yang keberadaannya lebih sering di rumah ketimbang ayah, seorang wanita yang berstatus selaku seorang ibu mempunyai tugas dalam melakukan pengawasan gawai atau internet terhadap anak. 
Bukan mempunyai arti si anak enggak boleh dikasih gawai. Memperkenalkan anak dengan gawai tentu boleh-boleh aja kok. Namun yang jelas jangan sampai si anak kecanduan hingga tidak mau melakukan kegiatan yang lain seperti mencar ilmu dan makan sebab fokusnya hanya pada gadget
Itulah kenapa seorang ibu harus melakukan pengawasan kepada anak yang bisa didiskusikan dengan suami atau si ayah, mirip memutuskan jam-jam tertentu pada anak dalam bermain gawai dan mengecek handphone perihal apa saja kegiatan gawai yang dikerjakan oleh si anak.
Pada hasilnya, media sosial bagaikan dua sisi mata pedang. Di satu segi memperlihatkan pengaruh aktual, tetapi di segi lain memperlihatkan efek negatif. Perempuan memang berperan penting dalam ketahanan keluarga. Namun dari seminar ini saya mencar ilmu bahwa sepintar-pintarnya seorang wanita, pertolongan dari seorang laki-laki sebagai support system tetap diperlukan karena keserasian keluarga diputuskan dari seperti apa setiap pasangan mampu mengisi satu sama lain. 
Ilustrasi keluarga serasi