Diminta Jokowi, Kemenkes Revisi Aturan Harga Tes PCR Pekan Ini – Nasional – lagikepo.com – LAGIKEPO



LAGIKEPO |

Presiden Joko Widodo meminta harga tes PCR atau Polymerase Chain Reaction untuk Covid-19 l;ebih murah. Permintaan itu direspons Kementerian Kesehatan, yang akan mengubah batas atas biaya tes Covid-19 tersebut dalam pekan ini.

“Kurang lebih dalam lima hari,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakiut Menular Langsung Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi kepada – lagikepo.com, Minggu (15/8). Kemenkes akan berkonsultasi dengan berbagai pemangku kebijakan dalam proses revisi ini.  

Sebelumnya aturan batas atas harga tes PCR Rp 900 ribu termaktub dalam Surat Edaran Nomor Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan berkop HK.02.02/I/3713/2020.

Presiden Joko Widodo memerintahkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menurunkan biaya tes tersebut.   Jokowi mengatakan dengan harga yang murah, maka tes dapat dilakukan lebih banyak untuk membongkar kasus positif Covid-19.

“Saya minta agar biaya PCR di antara Rp 450 ribu sampai Rp 550 ribu,” kata Jokowi dalam keterangan pers virtual, Minggu (15/8).

Tak hanya murah, Jokowi juga meminta hasil tes PCR bisa diketahui masyarakat paling lama 1×24 jam. “Karena kita perlu kecepatan,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, dari data Kementerian Kesehatan harga tes PCR di India hanya mencapai Rp 96 ribu, Malaysia Rp 510 ribu, Vietnam Rp 460 ribu, Turki Rp 422 ribu, Rusia Rp 500 ribu. Sedangkan tes di Amerika Serikat mencapai Rp 1,5 juta, Thailand Rp 1,3 – Rp 2,8 juta, dan Singapura sebesar Rp 1,6 juta.

PCR masih menjadi salah satu syarat aktivitas masyarakat saat PPKM Level 4.  Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatur tes ini sebagai bagian ketentuan masuk mal jika belum mendapatkan vaksin.  

“Hasil tes antigen atau PCR juga harus dilengkapi dengan kode quick response (QR) yang dapat diverifikasi secara digital untuk mempermudah pengecekan,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan dalam konferensi pers virtual, Rabu (11/8).

Sedangkan pada periode Kamis (5/8) hingga Kamis (12/8) rata-rata angka tes Covid-19 turun 7,7% menjadi 130.406 orang per hari. Adapun pada rentang sepekan sebelumnya, jumlah orang yang dites per hari mencapai 141.301.

2021-08-15 12:44:00

Source link

Kemenkes Targetkan Perbaikan Data Kematian Covid-19 Rampung Tiga Pekan – Nasional – lagikepo.com – LAGIKEPO



LAGIKEPO |

Pemerintah menghapus sementara data kematian akibat Covid-19 dari indikator level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM lantaran sedang melakukan perbaikan. Kementerian Kesehatan berharap, perbaikan data rampung dalam tiga minggu.

Langkah ini pemerintah lakukan di seluruh provinsi. ”Tiga minggu diharapkan rampung ya, maksimal,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi kepada – lagikepo.com, Jumat (13/8).

Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan akan melakukan perbaikan data tersebut. Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander K Ginting mengatakan, akan menunggu perbaikan data kematian hingga periode PPKM selesai.

Sebagai informasi, PPKM Level 4 Jawa-Bali saat ini sampai dengan 16 Agustus 2021. Luar Jawa-Bali sampai dengan 23 Agustus. “Nah, kami tunggu setelah periode ini,” ujar dia.

Kematian Covid-19 Indonesia telah mencapai 113.664 jiwa hingga 12 Agustus 2021. Kematian ini bertambah 1.466 jiwa sehari sebelumnya. 

Angka tersebut membawa Indonesia sebagai negara dengan kematian kedua tertinggi Asia pada 13 Agustus 2021. Peringkat pertama masih diduduki oleh India dengan total kasus sebanyak 430.285 jiwa, seperti terlihat pada Databoks di bawah ini. 

Simpang Siur Data Kematian Covid-19

Dalam kurun waktu tiga pekan terakhir, Kementerian Kesehatan merilis angka kematian akibat Covid-19 yang cenderung tinggi. Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menjadi penyumbang angka kematian paling besar.

Namun, ternyata data tersebut tidak akurat karena tidak menunjukkan angka yang benar pada tanggal rilisnya. Tenaga Ahli Kementerian Kesehatan Panji Fortuna Hadisoemarto mengatakan analisis data National All Record (NAR) Kementerian Kesehatan menemukan pelaporan kasus kematian yang dilakukan daerah tidak bersifat realtime dan merupakan akumulasi dari bulan-bulan sebelumnya.

NAR adalah sistem big data untuk pencatatan laboratorium dalam penanganan Covid-19 yang dikelola oleh Kemenkes.

Dia mencontohkan, laporan kasus Covid-19 pada 10 Agustus 2021. Dari 2.048 kematian yang dilaporkan, sebagian besar bukanlah angka kematian pada tanggal tersebut, tapi pada sepekan sebelumnya. Bahkan 10,7% di antaranya berasal dari kasus pasien positif yang sudah tercatat di NAR lebih dari 21 hari tapi baru terkonfirmasi dan dilaporkan bahwa pasien telah meninggal.

Contoh lainnya adalah Kota Bekasi, Jawa Barat. Laporan per 10 Agustus 2021 menunjukkan, dari 397 angka kematian, 94% di antaranya bukan merupakan angka kematian pada hari tersebut.

Mayoritas angka itu rapelan angka kematian dari Juli sebanyak 57% serta Juni dan bulan sebelumnya sebanyak 37%. “6% sisanya merupakan rekapitulasi kematian di minggu pertama Agustus,” kata Panji.

Hal serupa terjadi juga Kalimantan Tengah. Sebanyak 61% dari 70 angka kematian yang dilaporkan pada 10 Agustus 2021 mengacu pada kasus aktif yang sudah lebih dari 21 hari, tapi baru diperbaharui statusnya. Lebih dari 50 ribu kasus aktif saat ini, menurut dia, merupakan kasus yang sudah lebih dari 21 hari tercatat, tapi belum dilakukan pembaruan.

2021-08-14 03:30:00

Source link