Berkemah di Wisata Alam Capolaga Subang, Seru dan Menarik – Lifestyle – lagikepo.com – LAGIKEPO



LAGIKEPO |

Wisata Alam Capolaga adalah sebuah ekowisata yang terletak di Desa Cicadas, Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Wisata alam ini memiliki keindahan sungai Cimuja yang unik dan memiliki beragam air terjun meliputi air terjun Cimuja, Karembong, dan Sawer.

Tempat ini juga didukung dengan berbagai fasilitas untuk kegiatan outbond, outing, family atau company gathering, kegiatan petualangan, tracking, tea walk, camping ground, dan memancing. Manajemen disini menyediakan banyak fasilitas sehingga dapat dipastikan semua orang dapat menikmati kegiatan dengan nyaman dan aman.

Tiket masuk Wisata Alam Capolaga sangat terjangkau, yaitu Rp15.000 per orang saat hari biasa dan Rp 17.000 per orang untuk di akhir pekan dan hari libur. Wisata Alam Capolaga menyediakan fasilitas standar untuk kenyamanan pengunjung seperti gazebo, kamar mandi, musholla, dan area parkir.

Terdapat banyak rambu sepanjang jalur yang dilengkapi denah sehingga area mudah ditelusuri dengan aman dan nyaman. Pengunjung juga dapat beristirahat dan bersantap di warung-warung yang disediakan atau menggelar tikar dibawah gazebo

Rute Menuju Wisata Alam Capolaga

Dari Bandung

Jika berkendara dari arah Bandung, Capolaga berada di sebelah utara dan berjarak sekitar 45 kilometer dari Kota Bandung. Rute yang dapat ditempuh dari arah Bandung adalah melalui jalan menuju Lembang sampai sebelum kawasan wisata Ciater terdapat pertigaan Pasa. Kemudian ikuti jalan menurun sampai kepada lokasi Wisata Alam Capolaga.

Dari Jakarta

Bagi pengunjung dari Jakarta atau Pantura, Wisata Alam Capolaga lebih mudah dicapai melalui jalur tol Cipali dari gerbang tol Subang. Kemudian menuju Ciater selama kurang lebih 55 menit dengan jarak tempuh sekitar 40 kilometer.

Keindahan Wisata Alam Capolaga

Wisata Alam Capolaga terletak di Desa Cicadas yang suhu rata-rata antara 25 – 35 derajat celcius. Letak wisata alam ini dikelilingi oleh hutan yang indah dengan pepohonan pinus, semak belukar, kebun teh, rerumputan, pohon besar, sungai, bebatuan, dan masih banyak lagi.

Wisata alam ini berada di atas bukit sehingga memiliki udara yang segar dan sejuk juga. Selain itu, pihak pengelola juga telah membangun beberapa fasilitas antara lain gazebo, tenda, jembatan, dan masih banyak lagi. Fitur lain yang menarik dari situs ini tidak lain adalah air terjun yang menakjubkan yang berada di dekat perkemahan.

Capolaga Adventure Camp

Keindahan alam Capolaga rasanya tidak cukup jika hanya dinikmati sehari saja. Oleh karena itu, tersedia tempat berkemah yang nyaman dan menyenangkan. Terdapat 10 area camping ground yang bisa anda pilih mulai dari Blok 1-3, Blok A-G, dan Blok Pinus dengan berbagai pemandangan dan ukuran tenda yang beragam.

Pada camping ground Blok F dan G, area yang disediakan cukup luas sehingga pengunjung dapat parkir mobil dekat dengan tenda. Salah satu kemudahan berkemah di Capolaga adalah tersedianya penyewaan tenda dome serta kelengkapan fasilitasnya seperti sleeping bag, selimut, kompor, air galon, api unggun hingga makanan yang cocok selama berkemah.

Biaya tiket masuk camping ground untuk orang dewasa dikenakan harga Rp40.000 per malam, sedangkan anak-anak Rp 25.000 per malam. Biaya tersebut belum termasuk sewa tenda. Ada beberapa ukuran tenda yang dapat dipilih, mulai dari kapasitas empat orang yaitu Rp150.000 sampai dengan kapasitas delapan orang dengan harga Rp 250.000.

Fasilitas Outbond Wisata Alam Capolaga

Outbound adalah aktivitas yang seru dan paling banyak dipilih untuk acara sekolah, kantor, maupun acara liburan keluarga.  Wisata Alam Capolaga menyediakan fasilitas outbound yang lengkap dan aman. Beebrapa aktivitas yang dapat dilakukan saat outbond adalah flying fox, rafting, dan adventure spot. Untuk menambah kenyamanan wisata, fasilitas lain seperti mushola, kolam renang, kamar mandi, saung, terapi air, serta kolam pemancingan juga tersedia.

Rincian Biaya

Berikut ini adalah rincian biaya untuk kegiatan di Capolaga Adventure Camp.

  • Tiket masuk: Rp 10.000
  • Pemesanan area per blok: Rp 500.000
  • Biaya penerangan listrik: Rp 150.000
  • Parkir motor: Rp 2.000
  • Parkir mobil: Rp 5.000
  • Parkir truk: Rp 10.000
  • Meja: Rp 20.000
  • Sistem suara: Rp 300.000
  • Tenda peneduh 6 x 9 meter: Rp 200.000
  • Matras: Rp 2.500 per buah
  • Matras tidur: Rp 7.500
  • Dispenser: Rp6.500
  • Terpal ukuran 4 x 6 meter: Rp 30.000
  • Terpal ukuran 4 x 6 meter: Rp 40.000
  • Tenda Dome (kapasitas 5 orang): Rp 150.000
  • Tenda Kelabang (kapasitas 10 orang): Rp 200.000
  • Tenda Lontong (kapasitas 12 orang): Rp 250.000
  • Tenda Peleton Tentara (kapasitas 45 orang): Rp 1.500.000
  • Sewa rumah kayu: Rp 800.000 – Rp 1.250.000

Pengunjung dapat memilih barang sesuai kebutuhan. Capolaga Adventure Camp juga cocok digunakan sebagai tempat kegiatan besar seperti rekreasi kantor atau sekolah.

Penginapan Capolaga

Selain menginap menggunakan tenda, pengunjung juga dapat menginap di Penginapan Capolaga yang terletak di pintu masuk utama Wisata Alam Capolaga. Biaya penginapan Capolaga mulai dari 1 juta rupiah per malam untuk kapasitas maksimal 10 orang hingga harga 1.7 juta per malam untuk kapasitas maksimal 20 orang.

Itulah ulasan mengenai Wisata Alam Capolaga, berkunjung ke wisata alam ini dapat menjadi sarana rekreasi akhir pekan yang menyenangkan dan dapat melepas lelah.

2021-08-17 10:03:00

Source link

Rangkuman Sejarah Kesultanan Cirebon – LAGIKEPO



LAGIKEPO |

Dahulu tanah nusantara ditempati banyak kerajaan-kerajaan besar, salah satunya Kesultanan Cirebon. Poros penyebaran agama Islam di Jawa Barat dan sekitarnya banyak dilakukan kerajaan ini. Ada sejarah panjang dan menarik dari Kesultanan Cirebon. Penasaran bagaimana sejarahnya?

Awal Berdiri Kesultanan Cirebon

Kesultanan Cirebon merupakan kerajaan Islam pertama di tanah Sunda. Kerajaan ini berdiri sekitar abad ke 15 dan 16 masehi. Dahulu, tempat ini yang sangat penting sebab menghubungkan berbagai jalur perdagangan sejumlah pulau.

Lokasi kerajaan Islam ini di sebelah utara Pulau Jawa, di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Letak geografis ini juga yang membuat Cirebon sebagai penghubung dua kebudayaan sekaligus yakni Jawa dan Sunda.

Semula Cirebon hanya sebuah dukuh kecil yang didirikan oleh Ki Gedeng Tapa. Tempat ini kemudian menjadi pelabuhan penting dan ramai dikunjungi orang. Lama-kelamaan berkembang menjadi kota besar. Cirebon kemudian berubah menjadi tempat pelayaran dan perdagangan hingga akhirnya menjadi pusat penyebaran Islam di daerah Jawa Barat.

Proses pendirian dari Keraton Cirebon bermula dari keturunan Kerajaan Pajajaran yang bernama Pangeran Cakrabuana, anak dari Prabu Siliwangi dan istri pertamanya bernama Subanglarang, puteri dari Ki Gedeng Tapa. Pangeran Cakrabuana bukan anak satu-satunya, ia memiliki saudara kandung bernama Nyai Rara Antang dan Raden Kian Santang.

Karena Pangeran Cakrabuana merupakan anak pertama, ia memiliki hak untuk meneruskan tahta di Kerajaan Pajajaran. Namun karena ia beragam Islam seperti agama ibundanya, posisi putra mahkota yang didudukinya terpaksa digantikan adik tirinya yang bernama Prabu Surawisesa anak dari Prabu Siliwangi dengan istri keduanya.

Pangeran Cakrabuana kemudian memperdalami agama Islam dan membuat perdukuran di sekitar Kebon Pesisir. Dia membuat Kuta Kosod atau susunan tembok bata tanpa spasi, membuat Dalem Agung Pakungwati, dan mendirikan pemerintahan di Cirebon pada 1430 M.

Karena itu Pangeran Cakrabuana dianggap sebagai pendiri dari Keraton Cirebon sekaligus menjadi raja pertama. Kerajaan ini kemudian tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan, juga bagian dari penyebaran agama Islam.

Berdirinya Kesultanan Cirebon ternyata tidak lepas dari pengaruh kerajaan Islam lainnya yakni Kesultanan Demak yang ada di Jawa Tengah. Seiring berjalannya waktu, kerajaan ini kemudian berkembang dengan cukup pesat. Pemimpin selanjutnya dari kesultanan ini yaitu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, keponakan dari Pangeran Cakrabuana.

Masa Keemasan Kesultanan Cirebon

Sunan Gunung Jati melanjutkan estafet pemerintahan dari tahun 1479 hingga 1568. Pada kepemimpinannya, Kesultanan Cirebon memasuki masa kejayaan. Semua sektor berkembang dengan pesat mulai dari agama, politik, hingga perdagangan. Persebaran agama Islam juga sangat pesat. Dakwah digaungkan di berbagai daerah secara berkelanjutan. Islam semakin dikenal dan penganutnya bertambah banyak.

Pada bidang politik, terjadi perluasan daerah. Berkerja sama dengan Kerajaan Islam Demak, Kesultanan Cirebon mampu menduduki Pelabuhan Sunda Kelapa pada 1527 M dengan tujuan untuk mencegah masuknya pengaruh Portugis ke wilayah tersebut.

Sunan Gunung Jati sukses menggunakan sistem politik dengan asas desentralisasi berpola kerajaan pesisir. Strategi politik ini menerapkan program pemerintah dengan tumpuan intensitas pengembangan dakwah ke seluruh daerah di tanah Sunda. Sementara itu, pada sistem ekonomi, Kesultanan Cirebon pada saat itu melakukan aktivitas kerja sama perdagangan dengan bangsa Campa, Malaka, India, China, dan Arab.

Runtuhnya Kesultanan Cirebon

Masa keemasan dari Kerajaan Cirebon ternyata tidak bisa bertahan lama. Sepeninggalan Sunan Gunung Jati pada 1568, kesultanan ini mengalami masa kemunduran. Masuknya pengaruh bangsa asing terutama Belanda menghadirkan banyak polemik yang tidak berkesudahan.

Hingga akhirnya pada 1681 ditandatangani perjanjian antara pemegang kekuasaan di Cirebon dan pihak Belanda. Perjanjian tersebut sangat menguntungkan Belanda, karena kongsi dagang miliknya yang bernama VOC bisa melakukan monopoli perdagangan di Cirebon. Tidak hanya itu, wilayah Kerajaan Cirebon juga dijadikan pretektorat di bawah kekuasaan Belanda.

Hingga akhirnya pada 1902 – 1926, Belanda resmi menghapus Kesultanan Cirebon. Setelah sekian lama berkuasa, akhirnya pada 1941, Cirebon terbebas dari kekuasaan Belanda dan menjadi bagian dari Republik Indonesia pada 1945.

Peninggalan Kesultanan Cirebon

Pernah menjadi kerajaan yang sangat berkuasa membuat Kesultanan Cirebon meninggalkan banyak kenangan. Bukan hanya cerita, juga dalam bentuk tempat atau benda yang bisa dikenal hingga sekarang. Tempat bersejarah ini bahkan masih berdiri koko, dan tak jarang menjadi destinasi wisata Cirebon yang menarik untuk dikunjungi. Beberapa peninggalan dari Kerajaan Cirebon di antaranya:

  1. Keraton Kasepuhan
  2. Keraton Kanoman
  3. Keraton Kacirebonan
  4. Taman Sunyaragi
  5. Kompleks Makan Gunung Sembung
  6. Kompleks Makam Gunung Jati

Itulah rangkuman sejarah Kesultanan Cirebon. Melihat sejarah tersebut tentu menjadikan bahan refleksi bersama, bahwa kita pernah menjadi bangsa yang kuat dan mandiri. Sehingga semangat itu seharusnya dibangun di masa sekarang.

2021-08-13 14:30:00

Source link