Jababeka Terbitkan Obligasi Valas Rp 4,9 Triliun untuk Bayar Utang – Korporasi – lagikepo.com – LAGIKEPO



LAGIKEPO |

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), melalui anak usahanya Jababeka International B.V (JIBV), berencana menerbitkan surat utang global senilai US$ 350 juta atau setara Rp 4,9 triliun (US$ 1 = Rp 14.105).

Terkait hal ini, perusahaan akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 31 Agustus 2021.

Nilai penerbitan obligasi berdenominasi valas itu ttercatat 78,86% dari nilai ekuitas perusahaan. Perusahaan akan merilis surat utang dengan jaminan perusahaan dan entitas anak.

“Kupon surat utang akan dibayar semi-annual dibandingkan pembayaran bunga setiap satu bulan dan tiga bulan di bawah fasilitas pinjaman bank,” demikian pengumuman tertulis perusahaan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (16/8). 

Dana hasil perolehan obligasi global akan digunakan untuk menukar dan/atau membeli kembali dan/atau melunasi dan/atau membayar surat utang senior senilai US$ 300 juta yang akan jatuh tempo pada 2023. Hal ini dianggap dapat memperbaiki profil jatuh tempo pinjaman dan mengurangi risiko kredit perusahaan.

Dana juga akan digunakan untuk membiayai kelompok entitas anak usaha dalam mendukung pertumbuhan usaha di masa mendatang. Usaha yang dimaksud ialah kegiatan di bidang pengembangan kawasan industri, jasa kawasan industri berikut sarana penunjangnya, pengembangan kawasan perumahan, kawasan komersial, penyediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung serta hiburan. 

Pada 2019 lalu, perusahaan sempat berisiko gagal memenuhi kewajiban atas surat utang atau default notes. Potensi gagal bayar ini karena disebabkan oleh perubahan komposisi pemegang saham.

KIJA wajib memberikan penawaran pembelian kepada pemegang notes dengan harga pembelian 101% dari nilai pokok notes sebesar US$ 300 juta. Selain itu, ada juga penambahan kewajiban bunga.

Dengan aksi korporasi ini, maka jumlah aset konsolidasian perseroan akan meningkat 40% atau Rp 4,93 triliun menjadi sebesar Rp 17,13 triliun. Peningkatan tersebut terutama diperoleh dari kenaikan kas dan setara kas yang meningkat sebesar Rp 4,937 triliun.

Di sisi lain, jumlah liabilitas konsolidasian perseroan juga meningkat sebesar 83% atau Rp 4,93 triliun menjadi sebesar Rp 10,075 triliun. Namun, penambahan ini akan kembali berkurang sesuai dengan jumlah realisasi pembayaran pinjaman.

2021-08-17 09:46:00

Source link