banner 728x250

Sejarah Igi (Ikatan Guru Indonesia) Catatan Dari Sang Pendiri

  • Share
banner 468x60

Postingan ini sengaja saya buat khusus untuk menyimpan catatan sejarah lahirnya organisasi Guru yang bernama IGI ( Ikatan Guru Indonesia). tulisan yang cukup panjang dengan bahasa kalem, sedikit guyonan, dan ada beberapa bahasa yang mungkin butuh mikir sebentar, karena menggunakan bahasa tempat dari sang penulis. Tulisan tentang sejarah IGI ini aku ambil dari group WhatsApp Ikatan Guru Indonesia.

SEJARAH IGI

Oleh: Ahmad Rizali (Salah satu pendiri IGI)

banner 336x280

Saya sengaja memulai menulis sejarah IGI dari perspektif aku dan sekuat kenangan saya. Sangat banyak faset yg bolong, tokoh yang terlupa. Seingatku Dhitta Puti Sarasvati pernah juga menulisnya dari obrolan dengan para pelaku. Saya cuma mampu menulisnya sd aku ikut aktif selaku pembina dan masih ikut muter2 ke daerah.

IGI akan terus berlangsung dan menebar kebaikan dan jika sempat, para pelaku sejarah setelah kami, berkenan menuliskannya, sesubyektif apapun, biarlah sejarawan dan cucu kita nanti yang menilai kebenarannya. So, silahkan semua menulis dan tak mesti diposting jika akan tak produktif, tetapi catatan anda akan sangat bernilai sebab melihat genomnya dan fengshui nya, IGI ini “Sintong” dan akan jadi Bengcu nanti, believe me.

Ayo yo ayo….

Banyak sekali momen bersejarah ihwal IGI yang saya dan cak Satria Dharma lupakan. Tetapi yg tidak akan pernah saya lupa yakni dikala saat masih dalam format Klub Guru Indonesia (KGI) sebab “enggrik enggriken” kolam bayi yg masuk Inkubator melulu, maka diboyong oleh cak Satria ke Surabaya dan ternyata di kota yg panas sekali ini memperoleh ibu dan bapak angkat yg lebih baik dari kami berdua. Jadilah bu Sirikit Syah Wartawati beken itu menjadi Ketua KGI dan mas Ihsan Mohammad sebagai Sekretaris Jenderalnya. Setahuku logo “guru pi##s bangun” itu ialah produk mas Ihsan dan bu Sirikit Syah. Peran cak Satria dan saya ttg logo ?

Kalau sampeyan semua berfikir bahwa kami cawe cawe dlm urusan Logo, artinya sampeyan semua ndak kenal sifat Kai Pang yg katrok dgn persoalan simbol atau logo kecuali mangkok dan capitan “otis” dan karung gembolan. Yg peduli logo dan sejenisnya itu pasti murid Bu Tong Pay atau Siaw Lim atau Gobi Pay. Tetapi seperti ciri KayPang, meskipun mereka setia kepada saudaranya (dan pemberi duit receh di mangkok) tetapi tetap kegemaran kelayapan. Entah mengapa, bu Sirikit mengundurkan diri, cak Satria dan mas Ihsan yg faham, Why.

Singkat kata, alasannya adalah UU Guru dan Dosen yg mewajibkan Guru wajib menjadi anggota organisasi Profesi, sembari KGI mulai rekrut anggota dan mengadakan pelatihan2 yg didukung oleh Telkom, Bank Mandiri, sementara mas Ihsan mundur dari pekerjaan selaku IT Consultant, aku yg di Jakarta dibantu cak Habe mulai ngurus Akte IGI. Di Surabaya, mas Ihsan yg dibantu mas Yasin dan satu staf wanita (my god aku lupa namanya) terus ngurusi KGI. Sik…sik… pemberian Telkom dsb tadi bukan digrojok duit CSR tetapi kalau pinjam Aula mereka, gratis.

Saat itulah saya sukses mengajak oppung Bag menjadi “tuwek tuwekane” IGI, alasannya adalah ia juga sudah menjadi Pembina mbahnya IGI, the CBE. Ini LSM Kebijakan Pendidikan yg saya dirikan dan nyaris saya buang tetapi dipulung oleh cak Satria. Sejarah CBE di Jatipadang Ragunan itu ada jejak pakar Pendidikan ahli Rasch Model, Bambang Sumintono PhD.

Karena ada Oppung aku dan cak Satria mengajukan pertanyaan terhadap dia apakah pak Gatot dan Pak Indra Djati mampu diajak ikutan membesarkan IGI. Nah, wajah pak Bag lah yg dipandang oleh kedua tokoh yg menjadi fans kami itu. Bayangkan, kalau kami berdua dengan atribut KayPang itu menghadap Dirjen Dikdasmen dan Direktur Dikmenjur meminta mereka nggabung IGI, haqqul yaqin akan “dipleroki”… “sopo awakmu le…” apalagi bila Suheng aku yg mekedele pol itu yg ngomong, gak hanya dipleroki, pribadi diusir satpam.

Seingatku, saat proses mendapatkan akte IGI sedang berjalan, saya ngobrol panjang sambil ngopi di “lounge” stasiun Gambir yg sedang dipermak, di situ seingatku pertama kali bertemu dengan Dhitta Puti Sarasvati,¬† aku merasa Puti ialah next generation sehabis CBE, yg kami besarkan dengan sokongan brother Aminullah Moh yg punya jabatan selaku Education Officer Oxfam. Kawanku Ita Budhi seorang pakar pajak dari PWC juga tidak sedikit “tak jaluki duwit” agar kegiatan gerakan CBE berlangsung.

Baca juga:  Solusi Masalah Teks Arab Aplikasi Yasin Dan Tahlil Berwarna Putih

Di CBE lah berkumpul pegiat Pendidikan unt berdiskusi dlm format “Dialog Komunitas Pendidikan” di situ ngumpul mas Eko Purwono dosen Arsitek ITB, mas Darmaningtyas Instran, alm Mochtar Buchori, kang Endo Suanda, Pater Drost alm, Ida N Sitompul, Danardana Soeprajitno dan banyak lagi, termasuk bung Tabrani Yunis Dua. Komunitas ini ikut ngoprek UU Sisdiknas “mewakili” komunitas Pendidikan. Di CBE pula pak Satria dan aku sering berjumpa difasilitasi oleh One Aminullah dan operator CBE yaitu Dwi Fatan Lilyana, Gigin St Onge dan Dini Cawte, diteruskan oleh Nurul Azkiyah dan Aquino Hayunta dan diakhiri oleh RisLa Riswan Lapagu. Terkmakasih kepada mereka semua pelaku sejarah Pendidikan.

Singkat kata, CBE yg beken dengan milis pendidikan [email protected], selsai ketika perjanjian kantor Jatipadang habis dan tdk boleh diperpanjang. Apalagi semua pegiatnya mencar mengisi “lumbung” masing masing yg harus diisi kian banyak. Saat itu pula aku sedang asyik mengerjakan Sepeda Unt Sekolah dengan cak Heru Habe, Sony Danang Caksono dkk berafiliasi dengan Pertamina.

Di Tahun 2004 saat Alm CakNur menjadi bakal calon Presiden dlm kovensi Golkar, saya menjadi relawan tim beliau dan menjadi Koordinator Pembangunan Jejaring penunjang CakNur, disinilah saya mengenal daeng Ramli yg bertugas selaku koordinator hub Sulawesi dan Indonesia Timur, daeng belum usang lulus dari Unhas dan mantan Ketua BEM Unhas jaman reformasi 1998. Kami berpekan pekan bekerja bareng dlm sulit dan senang keliling sulawesi seperti bang Thoyib dan ia masih Jombo dan aku terkesan dengan reputasinya ketika jadi pimpinan mahasiswa dan kualitas leadershipnya.

Ketika KGI melebarkan sayap ke Indonesia Timur, saya pribadi ingat daeng Ramli dan saat bertemu eksklusif aku titipkan organisasi guru ini di Sulsel dan Indonesia Timur. Saat itu daeng telah menjadi kader muda Golkar dan memenuhi usul saya unt ngurusi KGI/IGI dan mundur dari kegiatan selaku kader aktif di Golkar. Sejak itulah daeng Ramli menjadi Ketua Wilayah IGI Sulsel dengan TanggungJawab melebarkan sayap ke seluruh Indonesia Timur. Gusti Surian Ketua Wilayah Kalsel, Mampu Ono pegang Jateng, DKI oleh Abah Rama Royani dan uluh itah bu Rusnanie Aden sebagai Ketua Wilayah Kalteng.

Banyak sekali tokoh yg saya lupakan dalam lintasan sejarah IGI. Ad Pito Sujatmiko arek Suroboyo yg sangat bonek dan kebonekannya menciptakan beliau nyampe Irlandia dengan Dhitta Puti Sarasvati dan Nina Soeparno, duo perempuan sakti yg mengorganisir Kongres IGI pertama membantu pak Sururi Aziz. Ada lagi bu Dedeh tandemnya bu Yuli “alumnus” SD Al Ikhlas Alix dan banyak lagi.

Mengapa tokoh2 luar jawa di IGI (4) itu yg saya paling ingat, alasannya merekalah bu Rusnanie Aden dkk yg berbagi IGI di seantero Kalimantan, bertahun tahun merambah kebun2 sawit diakhir pekan dan lahan lahan gambut, selain asal sukuan (#etnocentris) sesama berdarah dayak banjar. Ada satulagi petarung IGI yg mahir adalah bu Ermawati dari NTB yg seangkatan dengan daeng dan pak Gusti Surian dan ketua daerah IGI Jabar sebelum pak Cucu Sukmana yg aku lupa nama dia yg dosen populer itu.

Lantas bagaimana cerita Jawa Timur, yg aku ingat gres pak Mardjuki di Gresik dan bu Istiqomah Almaky dan pak Shofwan mantan Kadisdik Kota Malang yg dlm sejarah merangkap Ketua IGI/Ketua PGRI. Selain itu aku samar samar mengenang IGI Jawa Timur yang ketika itu memang dikelola oleh mas Ihsan Mohammad dan Cak Satria Dharma selaku mbaureksonya Alumnus Unesa (d/h IKIP Surabaya) dan Lurahe Surabaya. Dengan kata lain, saya jeri mbediding menjawil Jawa Timur nenteng IGI. Saya yaqin, kisah IGI Jatim yg militan akan sama banyak dan serunya mirip cerita aku ini.

Baca juga:  Pengalaman Adalah Guru Terbaik Sebagai Bahan Menulis Di Blog

Ketika mas Ihsan menjadi Sekjen dan pak Satria Ketum, aku masuk jajaran Pembina IGI bersamapak Indra Djati, pak Gatot Hp Priowirjanto dan pak Bagiono Djokosumbogo dll dan sebelum Kongres I di Jakarta yang alasannya adalah masih infant, gaya bergerak IGI masih terbatas, berbagai SOP yg harus ditata. Persoalan terbesar yaitu “energi gerak” IGI itu darimana, kok mas Ihsan masih mampu klayapan ke seantero Indonesia ? Ya umumnya dari kantong pengurus sendirilah, pak Satria dan mas Ihsan dkk.di PP dan kantong pengurus Wilayah dkk. Lha kok mau ya, ini perkara Hobi.

Ketika Kongres II di Makasar terselenggara dan daeng Mrr Muhammad Ramli Rahim terpilih dan mas Ihsan menjadi Ketua Pembina, IGI melejit hingga mirip saat ini. Lha ini hanya kisah baik baik saja, jelas sejarah IGI penuh kisah baik, namun akan menjadi “Too Good To Be True” jikalau yg jelek tidak dikenang. Betul, di IGI juga ada gesekan internal, di pusat dan di wilayah dan di kabupaten kota, namun aku sungguh gembira bahwa IGI memang dipenuhi insan yg selalu berfikir visioner dan pemaaf, sehingga setiap ukiran senantiasa tamat dengan kebesaran hati mereka. It is impossible IGI berlangsung kencang dengan manusia2 yg dinamis dan tidak terjadi tabrakan, terlebih abad Bulan Madu sudah usang usai.

Kaprikornus, buat aku yg menggeluti teori Organisasi, gesekan di IGI yakni suatu keniscayaan suatu organisasi yg sedang tumbuh seperti Organisme dan disebut fase STORMING, fase sampaumur awal menuju cukup umur dan akil balig cukup akal. Makara, buatku dan kawan kawan senior Pendiri, menyaksikan IGI “meriang” menciptakan kami bahagia, namun Alert! sebab jikalau panasnya tidak diturunkan, proses tumbuhnya IGI akan tersendat. Di sinilah tugas orang tua seperti kami, lebih tua mirip cak Satria dan tertua seperti pak Bagiono yg kami sebut Lo Cian Pwe (Oppung) yg wajib memberi sinyal kpd yg muda muda bahwa “Hi… look at us, we always here with you, dont worry and keep moving”.

IGI: Satria Dharma dan Aku

Sebelum aku berkisah tentang cak Satria Dharma, manusia yang sangaat kuat ke diri saya dalam penggiatan pendidikan, ingin ku berkisah tentang manusia manusia pendiam dan pemalu yang sungguh cinta IGI dan pekerja keras dan rajin.

Di permulaan usia IGI ada manusia seperti Pito Sujatmiko yg rodok sempel boneke kalo sedang ber IGI. Kotak tunjangan maksi KFC di tenteng dari MallTaman Anggrek ke Plaza Telkom di ujung Merdeka Barat patung Kuda. Ada lagi mas Andi Muhammad Yasin, bugis yg nyasar ke Surabaya dan dengan tanpa.bunyi mengontrol IGI dari Surabaya. Ada bu Yuli Alix, bu Novi Kd dan banyak lagi. Manusia sejenis mereka ini aku nilai senagai anasir sukses IGI.

Jika kita saksikan gelaran Piala Dunia Sepak Bola, niscaya ada pemain berkarakter pekerja keras selain kapten yg baik. Jaman Italia Juara, ada Gatuso yg melapis Canavaro sebagai Kapten. Barusan Perancis menang ada bek mungil lugas dan berlari sepanjang lapangan melapis kaptennya. Dia sejenis insan “hub” yg mengalirkan “resources” ke “pengguna” dan Hub ini sulit tampaksehingga sulit menjadi bintang, tetapi mereka menyayangi posisi itu. Saya yakin, di segi kapten daeng Ramli yg lugas banyak pekerja2 pemalu dan pendiam yg lebih senang senyum2 gembira dipojok ruangan melihat mitra kawan2nya berekspresi di panggumg sambil selfi.

Jika IGI itu lndonesia, maka Satria Dharma yaitu Soekarno dan aku adalah Hatta. Cak Satria itu tidak sabaran, meledak ledak dan ingin semua gagasannya terwujut hari itu juga bahkan kalo bisa terwujut kemarin. Satria juga raja ide dan senantiasa sukses memaksa orang lain bermakmum terhadap gagasannya, sure… cak Satria itu seperti Soekarno. Saya mengikuti saja jalan “Soekarno” yg nggak kontenstual saya kontekskan, yg tidak relevan ketika ini simpan sambil diperkuat. Jika saya dan Satria bertemu, tak jarang kami berdebat habisZan.

Baca juga:  Download Perangkat Pembelajaran K13 Bahasa Jawa Smp Kelas 8

Cak Satrialah yg mengajak aku bertemu Elan Merdy bos Sampoerna Foundation yg risikonya kami berdua disewa sebagai Konsultan SQIP yg jadi USP: Teachers Club yg sekarang jadi Universitas Sampoerna daerah Dhitta Puti Sarasvati menjadi dosen unt sekolah guru. Elan mengaku awalnya sering gundah melihat 2 konsultan kerjaannya berkelahi, tetapi karenanya beliau maklumi dan justru mendapatkan yg terbaik dari perdebatan itu.

Cak Satria itu sikapnya terbuka, dan nggak duwe isin dan takut blas, maklum darah bugis yg besar di Surabaya dan saya lebih pemalu dan pendiam, maklum darah dayak bakumpai/ngaju/banjar lahir di Malang. Junior kami di IGI dalam goresan pena selalu menggelari cak Satria Aimukarom (Yg Mulia) dan saya dipanggil HS (Hadratus Syech) alasannya adalah mendirikan CBE lanjut, KGI dan hasilnya IGI. Dan kami berdua mirip tumbu oleh tutup. Jika “lumbung” saya terlihat dasarnya, biasanya saya “nempur” lumbung cak Satria. Apakah saya tidak pernah sebal kepada ia dan beliau sebal ke aku ? Jelas pernah, tetapi senantiasa lebih cepat lupa karena mungkin kami anggap tidak substansial.

“Lumbung padi” aku yang mungil dan kelakuan yg nganeh2i sering memunculkan kasus “lumbung terlihat dasarnya” itu, tetapi saya senantiasa punya “kunci lumbung” cak Satria yg besar, luas dan terbuka untuk siapa saja itu. Tetapi ada yg unik, aku telah samar2 mengenang kapan aku kenal dengan “Soekarno” yg berani tidak mengikutinya dalam problem wanita bagus, padahal aku juga tau, sak jane ia ini yo “liur menyurung” juga lho.

Saya sudah tak terhitung jumlahnya nginap di rumah ia di Balikpapan dan Soerabaya, kenal dan pernah mentraktir anakku di Denpasar hingga dikenal sebagai “Om yg punya hotel”. Kenal dengan “Istri muda” nya yg bagus dan biater (bukan bahasa madura). Tetapi, beliau belum pernah kenal istriku, mampir rumahku apalagi bermalam, sebab hingga sekarang saya masih sungkan dan pemalu memanggil ia mampir ke tempat tinggal yg cukup jauh dari Jakarta. Bukankah memang lebih banyak foto foto Hatta yg bertandang ke rumah Soekarno ? Hehehe…

Jika ada pemain Soekarno dan Hatta, adakah Tjokro, Agus Salim, Tan Malaka dan Founding Fathers lain ? Merekalah oppung Bagiono Djokosumbogo, pak Indra Djati, pak Gatot Hp Priowirjanto, Abah Rama Royani, Bu Sirikit, mas ihsan Mohammad, Sururi Aziz, Heru Habe, Setiawan Agung Wibowo, bu Yuli dII yang sungguh banyak dan seluruhnya memiliki peran sama besarnya dengan kami berdua dan diteruskan oleh generasi berikut yg seangkatan dengan daeng Mrr Muhammad Ramli Rahim dkk.

Yakinlah, sejarah Risalah saja berdarah darah dan dalam perang di jaman Kanjeng Rasul saw dan sesudahnyapun para sobat saling berhadapan. Sejarah senantiasa punya “korban”, sampai dikala ini Safrudin Prawiranegara presiden Pemerintah Darurat RI sering dilupakan selaku presiden sah. Tan Malaka itu jagoan Nasional dan juga sering dilupakan. Bahkan Soekarno sangat manusiawi penuh salah digambarkan oleh Gibbles dlm buku Sejarahnya dan saya semakin kagum terhadap dia.

Closing 

IGI dibawah pimpinan daeng Ramli menjadi organisasi yang tak terbayangkan olehku dan sebagai Ieader bahu-membahu ia “lonely” dan sendirian. He put everything in IGI basket dan pasti sebagai Ieader dia niscaya tidak maksum. Tanyalah kepada semua Ketua IGI yg sekarang menolong beliau, bu Rusnanie Aden, Gusti Surian dll gudang sebalnya terhadap si bos sudah berpuluh kali penuh dan cepat kosong hehe… dan merujuk ke tulisan sebelumnya, IGI sedang proses mendewasa dan membesar dan kami yg senior ini sudah sering OFF dalam persoalan IGI tetapi tetap “We are sitting here and always be with you…. ” Semuanya, alhasil terserah kalian semua IGI-ers, mau dibubarkan mirip undangan omjay atau membengkak seperti raksasa Kumbokarno yg besar namun sakti mandraguna, lurus hati dan berguna untuk ibu Pertiwi.

(Dirangkum oleh Sekjen IGI Mampuono dari postingan mas Ahmad Rizali, Pendiri IGI, di wall FB nya).

banner 336x280
banner 120x600
  • Share