banner 728x250

Sdm Unggul Berkat Pendidikan Karakter, Saya Optimis!

  • Share
banner 468x60
Perkembangan teknologi bagaikan dua sisi mata duit dalam dunia pendidikan. Di satu segi menunjukkan laba alasannya adalah membuat lebih mudah peserta ajar dalam menjalankan peran. Misalnya, dahulu kita cuma bisa mencari informasi di buku untuk menuntaskan PR ketika berada di sekolah. Nah, sekarang tinggal ketik gosip apa yang kita ingin cari di mbah gugel, maka kita akan dapat dengan gampang menemukannya.
Namun di sisi lain, kehebatan teknologi justru menjadi tantangan tersendiri. Dengan melekatnya gawai dan mudahnya kanal internet bagi semua orang, dikhawatirkan generasi muda akan menjadi pribadi yang asosial sehingga menyebabkan terjadinya degradasi tabiat. Kita pasti pasti ingat kan dengan beberapa peristiwa booming perihal anak murid yang berani melawan gurunya dikala berada di kelas? Bukan enggak mungkin, salah satu penyebabnya ialah alasannya aspek teknologi. Wow!
Temu wicara di Pekan Perpustakaan Kemdikbud 2019 (dokpri)
Jika sudah begini, maka pendidikan karakter ialah solusinya. Itulah yang dibahas dalam temu wicara bertemakan pendidikan aksara dan digitalisasi sekolah di Pekan Perpustakaan Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan (Kemendikbud) pada Selasa, 3 Desember 2019 kemudian. Turut hadir dua narasumber dari Kemendikbud ialah Pak Ade Erlangga sebagai Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) dan Hasan Chabibie selaku Kepala Bidang Pengembangan Teknologi Pembelajaran Berbasis Multimedia dan Web Kemendikbud.
Dalam sambutannya, Pak Ade menyatakan bahwa infrastruktur itu penting dalam pendidikan. Namun itu saja enggak cukup sebab pendidikan karakter jauh lebih penting.  
“Karena infrastruktur yang anggun pun tidak cukup untuk menciptakan suatu hasil pendidikan yang andal. Untuk itu peranan guru dalam membangun pendidikan abjad itu sungguh penting alasannya adalah guru itu digugu dan ditiru. Guru dapat mengukir sejarah hidup seseorang.” jelasnya.

Penguatan Pendidikan Karakter, Strategi Pemerintah untuk Majukan Pendidikan

Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh Pak Ade Erlangga sebagai Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM).
Untuk mewujudkan generasi yang berkarakter, oleh sebab itu pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan acara berbentukPenguatan Pendidikan Karakter (PPK). Program ini enggak cuma untuk menyiapkan anak agar berdaya saing secara global, tetapi juga memiliki adab dan abjad yang baik.
Nah, ternyata prinsip-prinsip PPK ini sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo lho! Seenggaknya ada 3 poin yang ditekankan pada peraturan ini. 
Pertama, berorientasi pada berkembangnya potensi akseptor latih secara menyeluruh dan terpadu. Kedua, keteladanan dalam penerapan pendidikan huruf pada masing-masing lingkungan pendidikan. Terakhir, berjalan melalui penyesuaian dan sepanjang waktu dalam kehidupan sehari-hari. Contoh sederhananya yakni penggalangan dana untuk korban peristiwa, kerja bakti dan menjenguk sobat yang sakit.
Oh ya, PPK ini enggak bisa berjalan sendirian lho… Untuk menyukseskan program ini, maka perlu kolaborasi dan sinergi antara sekolah, keluarga dan masyarakat yang sering disebut sebagai tripusat pendidikan. Kolaborasi ialah kuncinya. Hal itu dikarenakan PPK memakai pendekatan berbasis kelas, budaya sekolah dan bahkan penduduk .
Latihan angklung, salah satu cara yang bisa dilaksanakan dalam memupuk karakter (dokpri)
Caranya gimana? Tentu sesuai dengan perannya masing-masing. Sebagai kepala sekolah, mereka harus memutuskan koordinasi dengan orang bau tanah dan masyarakat semoga berjalan dengan baik. Sebagai guru, mereka mesti bisa menggali karakteristik masing-masing siswa dan menjalin komunikasi lewat orang tuanya masing-masing, mulai dari apakah anaknya tertutup, bagaimana beliau berinteraksi dengan sahabat-temannya dan bahkan hingga mirip apa potensi yang dimiliki oleh si anak. Sebagai orang renta, mereka harus aktif untuk menjalin komunikasi dengan guru dan bahkan memberikan informasi terkait karakteristik anaknya. 
Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan, seorang pendidik harus memberi contoh atau contoh tindakan baik; di tengah atau di antara murid, guru harus membuat prakarsa dan inspirasi; dari belakang seorang guru harus memperlihatkan dorongan dan instruksi. —-Ki Hadjar Dewantara
Selain itu, pihak sekolah juga dihimbau untuk turut merangkul komunitas atau penduduk alasannya adalah berguru bisa dikerjakan dimana saja. Berbagai cara mampu dilakukan, seperti memanggil alumni atau tokoh tertentu untuk hadir menunjukkan inspirasi kepada para siswa, melaksanakan kunjungan ke museum atau perpustakaan komunitas dan menghadirkan sanggar seni ke sekolah. Bukan hal yang mudah. Namun kalau dilaksanakan, saya percaya bahwa suasana berguru niscaya akan jadi lebih menyenangkan.

Digitalisasi Sekolah melalui Rumah Belajar

Selain PPK, Kemendikbud juga punya terobosan lain dalam mengembangkan dunia pendidikan di Indonesia. Yap! Apalagi bila bukan digitalisasi sekolah. Hal itu dikerjakan untuk menjawab tantangan zaman yang semakin canggih.
Teman-teman tahu Rumah Belajar? Nah, itulah salah satu upaya digitalisasi sekolah yang sudah kita punya! Rumah Belajar sendiri adalah portal pembelajaran berbasis internet yang diciptakan oleh Kemendikbud semenjak 2011. 
Mulanya, portal ini hanya mampu diakses via web di belajar.kemdikbud.go.id. Namun seiring berjalannya waktu, Rumah Belajar juga telah hadir dalam bentuk aplikasi android  semenjak 2018. Enggak perlu khawatir soal biaya karena portal pembelajaran ini mampu diakses secara gratis.
Logo Rumah Belajar (dok. Kemdikbud)
Perkembangan portal ini hebat. Dari permulaan hanya sebatas ‘sumber belajar’, sekarang Rumah Belajar telah menjadi learning management system (LMS) terintegrasi sekaligus one stop service bagi para pemangku kepentingan di bidang pendidikan.
Hasan Chabibie selaku Kepala Bidang Pengembangan Teknologi Pembelajaran Berbasis Multimedia dan Web Kemendikbud menerangkan bahawa rumah belajar ialah upaya dalam merencanakan bekal bagi generasi muda di kala sekarang biar dapat hidup sesuai zamannya nanti.
Rumah Belajar tersedia sebagai aplikasi di android (dok. Google Play Store)
Terdapat berbagai fitur menawan di Rumah Belajar. Ada Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang memungkinkan akseptor ajar untuk mempelajari bank soal yang berisi kumpulan soal-soal latihan dan tes, laboratorium maya dan kelas maya, kelas virtual yang dapat dimanfaatkan oleh fasilitator atau guru yang ingin mengajar jarak jauh. Selain itu ada pula Peta Budaya yang menyediakan bermacam-macam berita terkait budaya di Indonesia dan Wahana Jelajah Angkasa yang mempermudah peserta ajar dalam mengenal benda-benda di angkasa. 
Asiknya, Rumah Belajar berupaya mengakomodir kebutuhan semua akseptor bimbing seluruh Indonesia. Oleh alasannya adalah itu, Rumah Belajar juga dapat diakses secara luring bagi peserta didik yang tinggal di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Mantap! Ini mah sesuai banget dengan slogan Rumah Belajar yaitu “Belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja.”

Saya Optimis!

Dengan datangnya penemuan yang dikerjakan pemerintah seperti PPK dan digitalisasi sekolah, maka aku pun turut memberikan pertolongan. Saya tahu bahwa ke depannya akan ada banyak tantangan yang menghadang di dunia pendidikan Indonesia, tetapi aku percaya bahwa dengan kerja sama seperti yang dijalankan kini, SDM Indonesia akan unggul alasannya memiliki periode depan yang cerah. Saya optimis!
Dengan ilmu kita menuju kemuliaan —-Ki Hadjar Dewantara
Foto bareng belum dewasa SDN Kutakarang 03 saat menjadi relawan pengajar di Banten Mengajar (dokpri)
banner 336x280
Baca juga:  Download Perangkat Pembelajaran K13 Smp Prakarya Kelas 7
banner 120x600
  • Share