Saling Memaafkan Itu Indah

Diposting pada
 sepasang suami istri sedang melintasi gurun pasir Saling Memaafkan Itu Indah
Ilustrasi : erinaumi.blogspot.com

 Saling Memaafkan Itu Indah | dikisahkan, sepasang suami istri sedang melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan mereka bertengkar da suami nenghardik istrinya dengan sangat keras…
Isti yang alasannya ialah hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata dia menulis di atas pasir:
“HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU”
Mereka terus berjalan, hingga menemukan oasis dimana memutuskan untuk mandi.
Si istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, namun pada kesannya diselamatkan suaminya, saat sang istri mulai siuman dan rasa takut hilang, dia menulis di sebuah kerikil :
“HARI INI SUAMIKU YANG BAIK MENYALAMATKAN NYAWAKU”
Suami bertanya :
“kenapa sesudah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir dan kini kau menulis di atas batu?”
Istri menjawab:
“saya menulis di atas pasir biar angin maaf tiba berhembus dan menghapus goresan pena itu…
Dan bila suatu hal baik diperbuat sumiku, saya harus memahatnya di atas batu, biar tidak sanggup hilang tertiup angin.

Kisah di atas sanggup menjadi perenungan terhadap kita semua, ibarat apakah perilaku kita sebagai suami atau istri kepada pasangan kita. Atau mungkin kepada semua orang yang ada disekitar kita.
Siapa di antara kita yang tidak pernah melaksanakan kesalahan?

Siapapun kita niscaya pernah melaksanakan kesalahan, kahilafa, dan kealpaan. Tak pelak insan itu pulalah yang menjadi kawasan “bersemanyamnya” kesalahan.

Tinggal lagi soal kualitas dan kuantitas kesalahan itu sendiri. Soal kualitas, artinya menyangkut kadar atau berat, dan soal kuantitas menyangkut banyak atau seringnnya. Adapun sebesar apapun kesalahan itu ada cara dan alamat penyelesaiannya untuk seseorang memperbaiki agama.

Walaupun Allah telah banyak menjelaskan dalam firman-firmanNya, bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa ialah memaafkan kesalahan orang lain, namun dalam prakteknya memaafkan ialah suatu kasus mudah.

Masih ingat kita akan dongeng Abu Bakar As Shiddiq yang pada suatu hari bersumpah untuk tidak lagi membantu Misthah bin Atsathah, salah seorang kerabatnya?

Begitu berat kenyataan itu bagi beliu alasannya ialah Misthah bin Atsathah telah ikut mengembangkan isu bohong perihal putri berliau yaitu Aisyah. Tetapi Allah maha Rahman melarang perilaku Abu Bakar tersebut. Sehingga turunlah ayat ke-22 dari surah An-Nur.

“Dan janganlah orang-orang yang memiliki kelebihan dan kelapangan di antara kau bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kau tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah ialah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S An-Nur:22)

Ayat ini mengajarka kepada kita biar melaksanakan sebuah hal mulia kepada orang-orang yang pernah berbuat dosa kepada kita, yaitu memaafkan. Dan sebuah kemaafan masih belum tepat saat masih tersisa ganjalan, apalagi dendam yang membara di dalam hati kita.

BERMAAF-MAAFAN ialah sifat terpuji yang perlu dilakukan sepanjang masa.

Allah swt, berfirman:


Jika kau menceraikan isteri-isterimu sebelum kau bercampur dengan mereka, padahal sebetulnya kau sudah memilih maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kau tentukan itu, kecuali jikalau isteri-isterimu itu mema’afkan atau dima’afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pema’afan kau itu lebih bersahabat kepada takwa. Dan janganlah kau melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kau kerjakan (Q.S al-Baqarah: 237)

Manurut Imam Al-Ghazali, pengertian maaf itu apabila anda memiliki hak untuk membalas, kemudian anda gugurkan hak itu, dan membebaskan orang yang patut mendapatkan jawaban itu, dari aturan qisas atau aturan denda.

Dalam sebuah hadist qudsi Allah swt, berfirman:
“nabi Musa telah bertanya kepada Allah, wahai Tuhanku!, manakah hamba-Mu yang lebih mulia berdasarkan pandangan Mu?”

Allah swt berfirman:
“ialah orang yang apabila berkuasa (mengusai musuhnya) sanggup segera memaafkannya”.

Dari hadist itu, Allah menjelaskan bahwa hamba yang mulia di sisi Allah ialah mereka yang berhati mulia, bersikap lembut, dan mempuyai toleransi yang tinggi dan bertolah unsur terhadap musuh.
Dia tidak bertindak membalas dendam atau sakit hati terhadap orang yang memusuhinya, walupun telah ditawannya, melainkan memaafkannya alasannya ialah Allah semata-mata. Orang yang ibarat inilah yang dikenali berhati emas, terpuji kedudukannya di sisi Allah. Memaafkan lawan dimana kita berada dalam kemenangan, kita berkuasa, tetapi tidak berkehendak sesuka hati. Inilah sifat mulia dan terpuji.

Belajar dari dongeng di atas, sebaiknya kita selalu sanggup memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain, alasannya ialah terkadang 10 kebaikan seseorang sanggup terlupakan hanya alasannya ialah satu kesalahan, padahal insan itu tidak ada yang tepat dan semua orang itu niscaya pernah melaksanakan kesalahan. Allah saja selalu memaafkan kesalahan hambanya, kenapa kita tidak sanggup memaafkan kesalahan orang lain?

Sumber tumpuan : Buletin da’wah Hidayah, edisi 1 Syawal 1434 H dan Al Qur’an Digital