banner 728x250

Rangkul Disabilitas, Kini Sudah Hadir Peta Jalan Layanan Kesehatan Inklusi Disabilitas!

  • Share
banner 468x60
Kayaknya gres kemarin bulan November. Namun ternyata bulan Desember udah datang aja. Itu artinya kita sudah berada di penghujung tahun dan sebentar lagi kita akan mengalami perubahan tahun.
Btw, ngomon-ngomong soal bulan Desember, sobat-teman tahu enggak jikalau Bulan Desember yaitu bulannya sahabat-sobat disabilitas? 
Yap! Bulan Desember yakni bulannya kesadaran disabilitas alasannya adalah sejak tahun 1992, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan tanggal 3 Desember selaku hari disabilitas internasional. Sejak itu tanggal 3 Desember menjadi momen yang penting alasannya mengingatkan kita perihal betapa pentingnya peran disabilitas dalam pertumbuhan masyarakat serta betapa seharusnya kita sebagai orang yang nondisabilitas sadar dan menghargai hak-hak mereka.
Logo Hari Disabilitas Internasional (dok. un.org)
Seperti pelaksanaan hari-hari tertentu lainnya, hari disabilitas juga mengangkat tema yang berlainan tiap tahunnya. Nah, khusus tahun ini tema yang diangkat adalah ‘Promoting the participation of persons with disabilities and their leadership: taking action on the 2030 Development Agenda’ (Mempromosikan partisipasi penyandang disabilitas dan kepemimpinan mereka: mengambil bab dalam Agenda Pengembangan 2030).  
Intinya yakni, PBB ingin supaya negara-negara di dunia mampu berkonsentrasi pada pemberdayaan penyandang disabilitas secara inklusif, adil dan berkesinambungan mirip yang tercantum dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 (2030 Agenda for Sustainable Development). Selain untuk merealisasikan keadaan ‘leave no one behind’ alias tidak ada seorang pun yang tertinggal’, juga untuk mengakui bahwa disabilitas yakni isu lintas sektor yang dicakup dalam 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (17 Sustainable Development Goals). 
Kenapa? Dengan banyaknya orang yang mengalami disabilitas, informasi ini menjadi berita yang perlu untuk diamati. Faktanya, kemajuan jumlah penyandang disabilitas di dunia kian banyak dari waktu ke waktu. 
Menurut data WHO, jumlah penyandang disabilitas di dunia pada 2010 ialah sebanyak 15,6% dari total populasi dunia atau lebih dari 1 miliar. Itu artinya, 15 dari setiap 100 orang di dunia tercatat sebagai penyandang disabilitas sedangkan sekitar 2-4 orang dari 100 orang di dunia masuk dalam klasifikasi penyandang disabilitas berat. Wow!
Terus gimana dengan Indonesia? Berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi disabilitas pada masyarakatIndonesia yang berusia 5-17 tahun mencapai 3,3% sedangkan pada usia 18-59 tahun mencapai 22%. Dari jumlah tersebut, angka tertinggi terdapat di provinsi Sulawesi Tengah sementara yang terendah terdapat di Lampung. 
Dengan prevalensi tersebut, bantu-membantu kini Indonesia sudah mulai terbuka sedikit demi sedikit dalam pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Hal itu bisa kita lihat di berbagai kemudahan lazim. Garis kuning penunjuk di trotoar atau stasiun yang telah tersedia bagi orang buta dan kursi prioritas yang tersedia di busway contohnya. 
Namun sayangnya, itu belum cukup. Besarnya potensi kecenderungan meningkatnya jumlah penyandang disabilitas balasan proses degeneratif serta minimnya susukan kesehatan yang inklusi bagi sobat-teman disabilitas masih menjadi PR yang mesti Indonesia selesaikan. Oleh sebab itu, pemerintah lewat Kementerian Kesehatan melakukan berbagai program. Salah satunya ialah lewat peluncuran Peta Jalan Layanan Kesehatan Inklusi Disabilitas.

Apa itu Peta Jalan Layanan Kesehatan Inklusi Disabilitas?

Peta Jalan Layanan Kesehatan Inklusi Kesehatan mungkin masih terdengar asing di indera pendengaran kita. Saya sendiri bahkan gres mendengarnya. Namun menyerupai suatu bangunan yang butuh tiang, inilah pondasi dasar yang pemerintah kerjakan dalam rangka memenuhi hak-hak masyarakat disabilitas dalam meraih terusan kesehatan.
Peta Jalan Layanan Kesehatan Inklusi Disabilitas 2020-2024 yakni acuan kebijakan dan program bagi seluruh jajaran kesehatan baik di tingkat pusat maupun daerah. Tujuannya ialah untuk membuat lebih mudah kerja sama dalam mewujudkan tata cara dan layanan kesehatan yang aksesibel, menyeluruh, terjangkau, berkualitas, menghargai martabat dan bahkan hingga mempekerjakan penyandang disabilitas di seluruh Indonesia.
(dokpri)
Oh ya, terciptanya Peta Jalan Layanan Kesehatan Inklusi Disabilitas (seterusnya disingkat PJLKID) enggak terjadi begitu saja lho! Namun telah lewat serangkaian proses panjang, mulai dari konsultasi dengan pemerintah dan DPO (Disability Person Organization), wawancara dengan pemerintah dan DPO, proses validasi dengan pemerintah dan DPO, pengkajian literatur, publikasi ilmiah dan kebijakan sampai pengkajian laporan acara-program yang dijalankan oleh kawan pembangunan, LSM, DPO, pemerintah dan sejumlah negara.
Untuk menyukseskan peta jalan ini, aneka macam pihak pun dilibatkan. Tercatat ada 29 pihak yang berpartisipasi yang berisikan 4 direktorat Kementerian Kesehatan, 5 Kementerian/Lembaga dan 25 CSO (Civil Society Organization)/DPO di seluruh Indonesia. 
Nah, output dari peta jalan ini adalah melahirkan 7 taktik utama yang merujuk pada WHO Disability Action dan Health System Strengthening. Adapun ketujuh taktik utama tersebut yaitu:
1. Mengatasi hambatan fisik dan gosip dalam mengakses layanan
2. Menyediakan tenaga kesehatan yang terampil dan peka disabilitas
3. Menyediakan layanan kesehatan yang menyeluruh
4. Meningkatkan partisipasi penyandang disabilitas
5. Menguatkan mekanisme dan pelembagaan implementasi kerangka kebijakan
6. Meningkatkan anggaran sektor kesehatan di tingkat sentra dan tempat untuk pengembangan layanan inklusif.
7. Mendorong kebijakan dan program yang berlandaskan berita akurat.
(dokpri)
Demikian langkah yang dijalankan oleh pemerintah dalam merealisasikan saluran kesehatan yang inklusi bagi penyandang disabilitas. Tak lupa pula pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga membangun Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM), suatu upaya untuk memberdayakan penyandang disabilitas dalam berbagai aspek kehidupan baik di tatanan keluarga bahkan sampai penduduk .  RBM sendiri telah dikembangkan di sejumlah provinsi dalam kala 2017-2018. 
Sebagai nondisabilitas, saya menyambut baik program-acara yang dilaksanakan oleh pemerintah. Saya berharap lewat acara ini terciptalah masyarakat yang inklusi terhadap penyandang disabilitas yang ditandai dengan meningkatnya partisipasi keluarga penyandang disabilitas dan penduduk sekitarnya.
banner 336x280
Baca juga:  Cara Memperlihatkan Instagram Di Blog Gampang Dan Cepat
banner 120x600
  • Share