Ptk Taktik Active Debate Variasi

Diposting pada
Penggunaan Strategi Active Debate Variasi Untuk Menumbuhkan Sikap Menghargai Pendapat Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewagranegaraan Materi Demokrasi Pada Siswa 
SMK Kelas XI
trategi Active Debate Variasi Untuk Menumbuhkan Sikap Menghargai Pendapat Dalam Pembelajar PTK Strategi Active Debate Variasi

Sumber Gambar: sragenkab.go.id
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sikap menghargai pendapat dikalangan akseptor didik sulit ditumbuhkan dengan baik. Hal ini terjadi sebab kurangnya keteladanan yang diberikan pemimpin dalam rapat-rapatnya. Banyak dijumpai anggota dewan perwakilan rakyat yang tidur atau bertindak angkuh ketika rapat berlangsung. Oleh sebab itu, perlu adanya solusi yang sempurna biar perilaku menghargai pendapat sanggup tumbuhkan di kalangan generasi penerus bangsa, salah satunya melalui pendidikan di sekolah.
Pendidikan di sekolah merupakan cuilan yang penting dalam menentukan masa depan suatu bangsa. Nilai-nilai wacana karekteristik bangsa diajarkan dalam pendidikan di sekolah. Tercapainya kualitas pendidikan yang baik dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran di kelas.
Pembelajaran di kelas haruslah bertujuan untuk menumbuhkan huruf bagi akseptor didik. Penumbuhan perilaku menghargai pendapat sanggup dilakukan melalui penggunaan seni administrasi pembelajaran yang tepat.
Strategi pembelajaran Active Debate merupakan seni administrasi yang memakai diskusi sebagai media utamanya. Penggunaan diskusi sebagai media utama akan membuat siswa berinteraksi dengan siswa lainya. Bentuk interaksinya dengan siswa mengemukakan pendapat. Namun diskusi yang dilakukan dalam strategi Active Debate hanya didominasi oleh beberapa orang siswa saja. Oleh sebab itu, biar seni administrasi ini lebih efektif perlu dibuat bervariasi, yaitu dengan penggantian juru bicara dalam setiap perdebatan yang terjadi. Dengan demikian, guru sanggup mengajarkan cara-cara yang baik dalam menyikapi perbedaan pendapat yang terjadi, termasuk perilaku menghargai perbedaan pendapat antara siswa secara merata dalam berdiskusi.
B. Rumusan Masalah
Perumusan problem merupakan cuilan penting yang harus ada dalam penulisan suatu karya ilmiah. Adanya permasalahan yang terang maka proses pemecahannya akan terarah dan terfokus. Berdasarkan latar belakang problem di atas, maka sanggup dirumuskan suatu permasalahan, yaitu: Bagaimana penggunaan seni administrasi Active Debate Variasi dalam menumbuhkan perilaku menghargai pendapat dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bahan demokrasi pada siswa Sekolah Menengah kejuruan kelas XI?
C. Tujuan
Tujuan penelitian merupakan titik pijak untuk acara yang akan dilaksanakan, sehingga perlu dirumuskan secara jelas. Penelitian ini perlu adanya tujuan yang berfungsi sebagai pola pokok terhadap problem yang diteliti, sehingga peneliti sanggup bekerja dengan terarah dalam mencari data hingga pada langkah pemecahan masalahnya. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana penggunaan seni administrasi Active Debate Variasi dalam menumbuhkan perilaku menghargai pendapat dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bahan demokrasi pada siswa Sekolah Menengah kejuruan kelas XI.

BAB II
KAJIAN TEORI


A. Kajian mengenai Strategi Active Debate Variasi


1. Pengertian Strategi

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 wacana Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menegah dinyatakan bahwa “Strategi ialah pendekatan menyeluruh yang berupa padoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai suatu tujuan dan biasanya dijabarkan dari pandangan falsafah atau teori tertentu”. Sementara itu, Darmawan (2019:696) menyatakan bahwa “strategi ialah ilmu siasat perang; budi amis untuk mencapai sesuatu”.
2. Pengertian Strategi Active Debate
Widodo (2019) mengemukakan bahwa Debat ialah metode pembelajaran dengan memakai dua kelompok yang bersebrangan pandangan. Berdasarkan pendapat di atas, sanggup disimpulkan bahwa Active Debate ialah seni administrasi pembelajaran yang memakai metode diskusi dan dilakukan oleh dua kelompok yang bersebrangan pandangan mengenai permasalahan tertentu.
3. Manfaat Penerapan Strategi Active Debate
Widodo (2019) menyatakan bahwa penggunaan metode Debat sanggup melatih siswa dalam mengemukakan pendapat serta bertanggung jawab atas pendapatnya. Sementra itu, Maryati (2019:14-15) mengemukakan bahwa manfaat metode Active Debate, yaitu:
a. Mendorong perenungan siswa, terutama kalau siswa diharapkan mempertahankan pendapat yang bertentangan dengan keyakinannya.
b. Mengaktifkan siswa dalam pembelajaran.
c. Mendorong siswa untuk berpikir kritis.
4. Kelemahan Strategi Active Debate
Menurut Tarigan (2019:53), kelemahan penerapan metode Debat yaitu:
a. Kegagalan memahami masalah.
b. Kesalah pahaman terhadap makna-makna setiap kata orang lain.
c. Perselisihan antara kelompok yang berdiskusi.
d. Dapat memicu kemarahan siswa.
e. Memerlukan waktu yang usang dalam penerapannya.
5. Kelebihan Strategi Active Debate
Nurchabibah (2019:20-23) mengemukakan bahwa seni administrasi Debat Aktif mempunyai kelebihan-kelebihan yaitu:
a. Menstimulasi diskusi kelas.
b. Melatih siswa dalam memecahkan problem melalui diskusi.
c. Melatih siswa dalam mengemukakan pendapat.
6. Langkah-langkah Penerapan Strategi Active Debate Variasi
Maryati (2019:15-16) menjelaskan bahwa mekanisme pembelajaran Active Debate (Debat Aktif) ialah sebagai berikut:
a. Kembangkan sebuah pernyataan kontroversial yang berkaitan dengan bahan perkuliahan, contohnya “Tidak ada keharusan mendirikan negara Islam”.
b. Bagilah kelas menjadi dua tim, yakni kelompok “pro” dan “kontra”.
c. Berikutnya, buatlah dua hingga empat subkelompok dalam masing¬-masing kelompok debat. Setiap subkelompok diminta untuk menyebarkan argumen yang mendukung masing-masing posisi atau menyiapkan urutan daftar argumen yang bisa mereka diskusikan dan seleksi. Pada simpulan diskusi, setiap subkelompok menentukan seorang juru bicara.
d. Siapkan dua hingga empat dingklik untuk para juru bicara pada keleompok “pro” dg jumlah dingklik yang sama untuk kelompok “kontra”. Siswa lainnya duduk di belakang para juru bicara. Mulailah perdebatan dengan para juru bicara mempresentasikan pandangan mereka. Proses ini disebut argumen pembuka.
e. Setelah mendengarkan argumen pembuka, hentikan perdebatan, dan kembali ke subkelompok. Setiap subkelompok mempersiapkan argumen untuk menyanggah argumen pembuka dari kelompok ¬lawan. Setiap subkelompok menentukan juru bicara yang gres (yang belum pernah bertindak sebagai juru bicara).
f. Lanjutkan kembali perdebatan. Juru bicara yang saling berhadapan diminta untuk menawarkan sanggahan argumen. Ketika perdebatan berlangsung, akseptor lainnya didorong untuk menawarkan catatan yang berisi proposal argumen atau bantahan. Mintalah mereka untuk bersorak atau bertepuk tangan untuk masing-masing argumen dari para wakil kelompok.
g. Pada dikala yang sempurna akhiri perdebatan. Tidak perlu menentukan kelompok mana yang menang. Kemudian, buatlah kelas dengan posisi melingkar. Pastikan bahwa kelas terintegrasi. Untuk itu, mereka diminta duduk berdampingan dengan mereka yang berada di kelompok lawan. Diskusikan wacana sesuatu yang sanggup dipelajari siswa dari pengalaman perdebatan tersebut. Mintalah siswa untuk mengidentifikasi argumen yang paling baik berdasarkan mereka.
Silberman (2019:129) menyatakan bahwa seni administrasi Active Debate sanggup dibuat bervariasi yaitu dengan:
a. Tambahkan satu atau lebih kursi-kursi kosong pada tim-tim debat itu. Izinkan para akseptor didik menempati kursi-kursi kosong ini kapanpun mereka inginkan untuk ikut perdebatan.
b. Mulailah kegiatan itu segera dengan argumen-argumen pembuka dari perdebatan itu. Lanjutkan dengan sebuah perdebatan konvensional, namun dengan sering memutar para juru debat.
B. Kajian mengenai Sikap Menghargai Pendapat

1. Pengertian Sikap

Jenny (2019) menyatakan bahwa “sikap ialah keadaan diri dalam insan yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya”. Sementara itu, Suparyanto (2019) menyatakan bahwa perilaku merupakan “pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu dan menawarkan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon dalam cara yang tertentu yang dipilihnya”.

2. Tingkatan-tingkatan Sikap

Suparyanto (2019) menyatakan bahwa perilaku terdiri dari beberapa tingkatan yakni:
a. Menerima (receiving). Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
b. Merespon (responding). Memberikan tanggapan apabila ditanya, mengerjakan dan menuntaskan kiprah yang diberikan ialah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu perjuangan untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan kiprah yang di berikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah ialah berarti bahwa orang mendapatkan ilham tersebut.
c. Menghargai (valuing). Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu problem ialah suatu indikasi perilaku tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab (responsible). Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan perilaku yang paling tinggi.

3. Macam-macam Sikap

Soekamto (1982:111) menjelaskan bahwa perilaku dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:
a. Sikap sosial. Sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap obyek sosial. Sikap sosial mengakibatkan terjadinya cara-cara tingkah laris yang dinyatakan berulang-ulang terhadap suatu obyek sosial, dan biasanya perilaku sosial itu dinyatakan tidak hanya oleh seorang saja, tetapi juga oleh orang-orang lain yang sekelompok atau semasyarakat.
b. Sikap individual. Sikap individual ialah perilaku yang khusus yang terdapat pada satu-satu orang terhadap obyek-obyek yang menjadi perhatian orang-orang yang bersangkutan saja.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap

Arianto (2019) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang yaitu:
a. Pengalaman pribadi.
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting.
c. Pengaruh kebudayaan.
d. Pengaruh media massa.
e. Lembaga pendidikan dan forum agama.
f. Pengaruh faktor emosional.

5. Pengertian Menghargai

Aprilia (2019) menyatakan bahwa “Menghargai ialah suatu perilaku memberi terhadap suatu nilai yang diterima oleh manusia”. Berdasarkan pengertian di atas, sanggup disimpulkan bahwa menghargai ialah suatu perilaku menawarkan evaluasi terhadap sesuatu yang diberikan orang lain.

6. Pengertian Sikap Menghargai Pendapat

Delta (2019) meyatakan bahwa pendapat ialah “Suatu yang diajukan dari buah berfikir atau hasil referensi yang sifatnya boleh diterima, ditolak atau dibantah”. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, sanggup disimpulkan bahwa perilaku menghargai pendapat ialah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk menilai pendapat yang diberikan.

7. Bentuk-bentuk Sikap Menghargai Pendapat

Nadya (2019) menyatakan bahwa cara menghargai pendapat orang lain dalam diskusi adalah:
a. Kesediaan untuk mendengarkan pendapat orang lain.
b. Menyampaikan ketidaksetujuan atas pendapat orang lain secara elegan dan sopan.
c. Tidak memotong pembicaraan orang lain.

8. Indikator Sikap Menghargai Pendapat

Berdasarkan teori di atas, sanggup disimpulkan bahwa indikator perilaku menghargai pendapat ialah sebagai berikut:
a. Kesediaan untuk mendengarkan pendapat orang lain.
b. Menyampaikan ketidaksetujuan atas pendapat orang lain secara elegan dan sopan.
c. Tidak memotong pembicaraan orang lain.

C. Kajian mengenai Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

1. Pengertian Pembelajaran

Sagala (2019:61) menyatakan bahwa “Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan berguru dilakukan oleh akseptor didik atau murid”. Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 wacana Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa “Pembelajaran ialah proses interaksi akseptor didik dengan pendidik dan sumber berguru pada suatu lingkungan belajar”. Berdasarkan pengertian di atas, sanggup disimpulkan bahwa pembelajaran ialah proses interaksi antara pendidik dengan akseptor didik dan sumber berguru pada suatu lingkungan belajar.

2. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

Azra (2019) menyatakan bahwa “Pendidikan Kewarganegaraan ialah pendidikan yang mengkaji dan membahas wacana pemerintahan, konstitusi, lembaga-lembaga demokrasi, rule of law, HAM, hak dan kewajiban warganegara serta proses demokrasi”.

3. Pengertian Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

Berdasarkan pengertian di atas, maka sanggup disimpulkan bahwa pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ialah interakasi yang terjadi antara pendidik dengan akseptor didik yang di dalamnya terkandung upaya sosialisasi, diseminasi, aktualisasi konsep, sistem, nilai, dan budaya demokrasi.

4. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Wijianto (2019:232) menyatakan bahwa mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan biar akseptor didik mempunyai kemampuan sebagai berikut:
a. Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan.
b. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti-korupsi.
c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia biar sanggup hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara pribadi atau tidak pribadi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

D. Kajian mengenai Demokrasi

1. Pengertian Demokrasi

Handoyo (2019:144) menyatakan bahwa “demokrasi ialah paham yang menghendaki adanya keikut sertaan rakyat atau warganegara dalam aktifitas penyelenggaraan kehidupan ketatanegaraan”. Berdasarkan pendapat di atas, sanggup disimpulkan bahwa demokrasi ialah suatu paham yang menekankan pada kedaulatan rakyat dalam suatu pemerintahan.

2. Bentuk-bentuk Demokrasi

Menurut Tim Penyusun Modul MGMP PKn Sekolah Menengah kejuruan Kabupaten Klaten (2019:21-22) bentuk-bentuk demokrasi ialah sebagai berikut:
a. Berdasarkan penyaluran kehendak rakyat. Dilihat dari penyeluran kehendak rakyat demokrasi dibagi menjadi:
1) Demokrasi langsung, yaitu paham demokrasi yang mengikutsertakan setiap warganegara dalam permusyawatan untuk menentukan kebijakan umum negara atau undang-undang secara langsung.
2) Demokrasi tidak langsung, yaitu paham demokrasi yang dilaksanakan melalui sistem perwakilan.
b. Berdasarkan ideologi. Dilihat dari ideologi demokrasi dibagi menjadi:
1) Demokrasi liberal, yaitu demokrasi yang didasarkan pada kebebasan individu.
2) Demokrasi konstitusional, yaitu demokrasi yang didasarkan atau dibatasi oleh konstitusi atau Undang-Undang Dasar.
3) Demokrasi rakyat atau demokrasi proletar, yaitu demokrasi yang didasarkan pada paham marxisme dan komunisme.
c. Berdasarkan titik perhatiannya. Dilihat dari titik perhatiannya demokrasi dibagi menjadi:
1) Demokrasi formal, yaitu suatu sistem politik demokrasi yang menjunjung tinggi persamaan dalam bidang politik tanpa disertai upaya untuk mengurangi atau menghilangkan kesenjangan dalam bidang ekonomi.
2) Demokasi material, yaitu sistem demokasi yang dititik beratkan pada upaya-upaya menghilangkan perbedaan dalam bidang ekonomi, sedangkan persamaan dalam bidang politik kurang diperhatikan.
3) Demokrasi gabungan, yaitu sistem politik demokrasi yang mempengaruhi kebaikan serta membuang keburukan dari bentuk demokrasi formal dan demokrasi material.
3. Prinsip-prinsip Demokrasi
Cipto, et al (dalam Tim Nasional Dosen Pendidikan Kewarganegaraan, 2019:126-129) menyebutkan nilai-nilai demokrasi, yaitu:
1) Kebebasan menyatakan pendapat.
2) Kebebasan berkelompok.
3) Kebebasan berpartisipasi.
4) Kesetaraan antar warganegara.
5) Rasa percaya (trust).
6) Kerjasama.

4. Kelemahan Sistem Demokrasi

Menurut Dubay (2019), kelemahan-kelemahan dalam sistem demokrasi adalah: Pertama, demokrasi berdasar terhadap anggapan bahwa insan semua sama atau sederajat, sebab mereka dekat dan mempunyai hal serupa didalam mental, spiritual dan kualitas moral. Akan tetapi para pengkritik demokrasi membantah bahwa anggapan tersebut. Manusia tampak sangat berbeda didalam banyak sekali hal, menyerupai stamina moral, dan kapasitas untuk berguru dengan berlatih dan pengalaman. Kedua, pemerintahan oleh lebih banyak didominasi merupakan peraturan yang dipegang oleh insan biasa, dimana secara umum tidak intelligent, mempunyai opini yang tak terkontrol dan bertindak emosional tanpa alasan, berpengetahuan terbatas, kekurangan waktu luang yang dibutuhkan untuk perolehan dalam memahami informasi, dan curiga atas kecakapan yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu, demokrasi ialah lemah didalam kualitas. Ketiga, dalam demokrasi yang memerintah ialah publik, sedangkan publik atau kelompok seringkali beraksi dengan cara mencolok. Tindakan rakyat seringkali bersifat menuruti kata hati dan dengan gampang terpengaruh atas saran dari kelompok lainnya. Publik seringkali bertindak anarkis atas nama kebebasan. Hal yang tidak terpuji, dimana pemimpin politik memanfaatkan psikologis rakyat banyak dan membangunkan nafsu masyarakat dalam rangka untuk memenangkan sumbangan masyarakat. Keempat, demokrasi didasarkan atas sistem partai. Partai-partai dipandang sangat dibutuhkan untuk kesuksesan demokrasi. Akan tetapi sistem partai telah merusak demokrasi dimana-mana. Partai- partai meletakkan perhatian utama untuk mereka sendiri daripada bangsa mereka. Mereka berkembang diatas ketidaktahuan masyarakat. Kelima, propaganda partai dan sering mengunjungi masyarakat tertentu membutuhkan pengeluaran yang besar. Sebagai contoh di Indonesia, milyaran rupiah tersalurkan untuk setiap lima tahun pemilihan. Jumlah uang yang sangat besar ini dikeluarkan sebagai honor dan upah para legislator. Dana yang seharusnya digunakan untuk tujuan produktif, dihabiskan dengan sia- sia atas dasar berkampanye dan propaganda partai.

5. Kelebihan Sistem Demokrasi

Menurut Tim Penyusun Modul MGMP PKn Sekolah Menengah kejuruan Kabupaten Klaten (2019:26), keunggulan demokrasi yaitu:
1) Pemerintah menjalankan pemerintahan sesuai dengan UUD/ konstitusi yang dibuat oleh wakil rakyat.
2) Rakyat sebagai pemegang kekuasaan dalam negara.
3) Rakyat dapar mengawasi jalannya pemerintahan.
4) Pemerintah dibuat sesuai dengan cita-cita rakyat.
5) Karena pemerintah dipilih oleh rakyat, maka harus berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat.

6. Demokrasi dalam Pandangan Islam

Menurut Mujahidin (2007:47), Demokrasi secara prinsipil harus ditinjau dari dua segi, yaitu:
a. Sebagai ideologi. Sebagai ideologi demokrasi berprinsip:
1) Kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat, bunyi rakyat sebagai bunyi tuhan.
2) Kemauan rakyat (suara mayoritas) ialah aturan tertinggi dalam merumuskan undang-undang dan aturan yang berlaku dalam negara demokrasi tanpa perduli dengan hukum-hukum islam.
3) Kebenaran tergantung bunyi mayoritas. Ketiga unsur ini musrik, dan terang bertentangan dengan syari’at Islam.
b. Demokrasi sebagai mekanisme meraih kekuasaan pemerintah. Beberapa unsur demokrasi mempunyai kesamaan sifat dengan sistem pemerintahan dalam Islam:
1) Rakyat mempunyai hak mengontrol jalanya pemerintahan dan kebijakan pemerintah.
2) Rakyat mempunyai hak menentukan pemimpin administrator maupun legislatif.
3) Rakyat mempunyai hak musyawarah dalam mengelola pemerintah dan negara.
Berdasarkan klarifikasi di atas, maka sanggup disimpulkan bahwa ketiga hal yang bersifat mekanisme ini tidak mutlak bertentangan dengan syari’at Islam, karana Islam memang memerintahkan kepada penguasa untuk menjalankan kekuasaannya dengan bermusyawarah, pribadi ataupun tidak pribadi dengan rakyat. Menyampaikan pertanggung tanggapan terhadap rakyat dan rakyat menawarkan kontrol terhadap kinerja para penguasa.
E. Keterkaitan Penggunaan Strategi Active Debate Variasi dengan Penumbuhan Sikap Menghargai Pendapat dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Demokrasi

Berdasarkan urain di atas, maka sanggup disimpulkan bahwa penggunaan seni administrasi Active Debate Variasi mempunyai keterkaitan yang erat dengan perilaku menghargai pendapat. Strategi Active Debate Variasi dengan segala kelebihannya akan sangat efektif untuk menumbuhkan perilaku menghargai pendapat siswa dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bahan demokasi.

BAB III
IMPLEMENTASI


A.    Penerapan Strategi Active Debate Variasi untuk Menumbuhkan Sikap Menghargai Pendapat dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Demokrasi pada Siswa Sekolah Menengah kejuruan Kelas XI


1.    Pemilihan Strategi Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran merupakan kegiatan untuk memberikan bahan sekaligus membentuk karekter akseptor didik. Proses pembelajaran sanggup berjalan efektif jikalau guru sanggup memakai seni administrasi pembelajaran yang tepat. Penggunaan seni administrasi pembelajaran yang sempurna sanggup menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Penggunaan seni administrasi Active Debate Variasi dalam pembelajaran sangat efektif untuk menumbuhkan perilaku menghargai pendapat antar siswa. Oleh sebab itu, dalam makalah ini penulis penggunakan seni administrasi Active Debate Variasi untuk menumbuhkan perilaku menghargai pendapat dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bahan demokrasi pada siswa Sekolah Menengah kejuruan kelas XI.

2.    Penerapan Strategi Active Debate Variasi

Active Debate Variasi diimplementasikan pada siswa kelas XI SMK. Pelaksanaan berlangsung pada tanggal 27 November 2019 jam 12.45-14.15. Adapun Langkah-langkah penerapan seni administrasi Active Debate Variasi untuk menumbuhkan perilaku menghargai pendapat dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bahan demokrasi pada siswa kelas XI SMK, ialah sebagai berikut:
a.Guru menyebarkan sebuah pernyataan kontroversial yang berkaitan dengan bahan demokrasi. Pernyataan yang dikemukakan guru ialah “Pelaksanaan Demokrasi pada masa Orde Baru lebih baik dari abad reformasi”.
b.Guru membagi kelas menjadi dua tim, yakni kelompok “pro” dan “kontra”.
c.Berikutnya, guru membuat dua subkelompok dalam masing¬-masing kelompok debat. Setiap subkelompok diminta untuk menyebarkan argumen yang mendukung masing-masing posisi atau menyiapkan urutan daftar argumen yang bisa mereka diskusikan dan seleksi. Setiap subkelompok menentukan dua seorang juru bicara pada simpulan diskusi.
d.Guru menyiapkan dua dingklik untuk para juru bicara pada kelompok “pro” dengan jumlah dingklik yang sama untuk kelompok “kontra”. Siswa lainnya duduk dibelakang para juru bicara. Guru memparsipakan lembar observasi untuk menilai perilaku menghargai pendapat. Guru menawarkan kesempatan kepada para juru bicara mempresentasikan pandangan mereka. Proses ini disebut argumen pembuka.
e.Setelah mendengarkan argumen pembuka, hentikan perdebatan, dan kembali ke subkelompok. Setiap subkelompok mempersiapkan argumen untuk menyanggah argumen pembuka dari kelompok ¬lawan. Setiap subkelompok menentukan juru bicara yang gres (yang belum pernah bertindak sebagai juru bicara).
f. Lanjutkan kembali perdebatan. Juru bicara yang saling berhadapan diminta untuk menawarkan sanggahan argumen. Ketika perdebatan berlangsung, akseptor lain boleh menawarkan tanggapan maupun bantahan secara ekspresi setelah guru menawarkan kesempatan.
g. Guru menawarkan evaluasi terhadap siswa untuk setiap kemunculan indikator perilaku menghargai pendapat dikala perdebatan berlangsung. Guru mengakhiri perdebatan pada dikala situasi dalam kelas mulai mereda. Guru tidak menentukan kelompok mana yang menang supaya tidak ada kelompok yang merasa kecewa. Kemudian, guru membuat kelas dengan posisi melingkar. Guru memastikan bahwa kelas terintegrasi. Guru meminta siswa duduk berdampingan dengan siswa yang berada di kelompok lawan, proses ini menerangkan bahwa walaupun terjadi peberdaan pendapat di antara kelompok tetapi siswa saling menghargai satu sama lain. Diskusikan wacana sesuatu yang sanggup dipelajari siswa dari pengalaman perdebatan tersebut. Guru meminta siswa untuk mengidentifikasi argumen yang paling baik berdasarkan mereka.

B. Hasil Penerapan Strategi Active Debate Variasi untuk Menumbuhkan Sikap Menghargai Pendapat dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Materi Demokrasi pada Siswa Sekolah Menengah kejuruan Kelas XI

Erwin (2019) menyatakan bahwa untuk mengukur perilaku seseorang sanggup memakai Skala Likert, Skala Guttman, dan Skala Thurstone.
1.    Skala Likert
Skala Likert ialah skala yang memakai pertayaan atau pernyataan sebagai istrumen utama. Istrumen dibuat secara niscaya dengan pertanyaan atau pernyataan yang bersifat baik atau buruk. Pilihan alternatif tanggapan dengan bentuk setuju, setuju, ragu-ragu, sangat tidak setuju.
2.    Skala Guttman
Skala Guttman ialah skala kumulatif yang mengukur satu dimensi saja dari satu variabel yang multi dimensi, sehingga skala initermasuk mempunyai sifat undimensional. Pola pertanyaan yang digunakan dalam Skala Guttman ialah dengan kata pilihan oke dan tidak setuju.
3.    Skala Thurstone
Skala Thurstone ialah skala yang menawarkan peluang kepada responden untuk memelih daftar pertanyaan dan peryataan yang sesuai dengan dirinya. Penilan dalam skala ini tidak diberitahukan terlebih dahulu kepada responden. Pertanyaan atau pernyataan yang dipilih oleh responden dilakukan dengan memberi tanda cek (V) pada lembar yang sudah disediakan.
Berdasarkan teori di atas, maka dalam penelitian ini penulis memakai Skala Liker yang kombinasikan dengan penggunaan lembar pengamatan atau observasi untuk evaluasi perilaku menghargai pendapat pada siswa kelas XI SMK. Pengkombinasian evaluasi ini, dimaksudkan biar hasil yang diperoleh benar-benar objektif.
 Penilaian non test digunakan penulis untuk menilai perilaku menghargai pendapat antar siswa. Instrumen yang digunakan ialah dengan memakai lembar observasi. Lembar obesrvasi bersikan indikator perilaku mengahargai pendapat. Guru bertugas menawarkan penilaian  dalam lembar obeservasi untuk setiap pemunculan tanda-tanda yang sesuai dengan indikator perilaku menghargai pendapat. Adapun contoh tabel lembar observasi ialah sebagai berikut.

Tabel 1. Lembar Observasi Sikap Menghargai Pendapat 

No.    Nama Siswa    Indikator Sikap Menghargai Pendapat    JumlahNilai
Kesediaan mendengarkan pendapat orang lain, Menyampaikan ketidaksetujuan atas pendapat orang lain secara elegan dan sopan, Tidak memotong pembicaraan orang lain   
1.    ………               
2.    ………               
3    ………               
Jumlah               
Prosentase               
Rata-Rata   

Skor untuk masing-masing perilaku di atas berupa angka. Akan tetapi, pada tahap simpulan skor tersebut dirata-ratakan dan dikonversikan ke dalam bentuk kualitatif.  Skala evaluasi dibuat dengan rentangan dari 1 hingga 5. Penafsiran angka-angka tersebut ialah sebagai berikut: 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, dan 5 = amat baik.
Berdasarkan klarifikasi di atas, maka Skala Liker yang kombinasikan dengan penggunaan lembar pengamatan akan sangat efektif untuk mengukur perilaku menghargai pendapat. Hasil pengukuran perilaku menghargai pendapat pada siswa kelas XI Sekolah Menengah kejuruan sanggup dilihat dalam lampiran makalah ini.
Pengukuran kecenderungan perilaku mengargai pendapat siswa dengan memakai grafik sebagai berikut ini.

Gambar 1. Grafik Pengukuran Sikap Menghargai Pendapat

Keterangan:
Siswa yang menerima nilai 0-33,33 termasuk dalam kategori perilaku yang negatif. Siswa yang mendapatkan nilai 33,34-66,66 termasuk dalam kategori perilaku ragu-ragu. Siswa yang mendapatkan nilai 66,67-100 termasuk dalam kategori perilaku positif.
Pengukuran hasil penerapan seni administrasi Active Debate Variasi untuk menumbuhkan perilaku menghargai pendapat dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bahan demokrasi pada siswa siswa kelas XI Sekolah Menengah kejuruan , sanggup dilakukan dengan penggunaan Skala Likert kombinasi lembar obsevasi. Penggunaan grafik didasarkan perhitungan pada lembar obeservasi. Grafik digunakan untuk mengetahui kecendurungan perilaku menghargai pendapat dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bahan demokrasi pada siswa kelas XI  SMK.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Pemilihan seni administrasi pembelajaran yang sempurna sanggup menunjang proses pembelajaran biar lebih efektif untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Strategi Active Debate Variasi sanggup dijadikan salah satu alternatif bagi guru untuk menumbuhkan perilaku menghargai pendapat dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bahan demokrasi pada siswa Sekolah Menengah kejuruan kelas XI.

B. Saran

1. Terhadap Kepala Sekolah
a. Kepala sekolah harus menjadi pemimpin perbaikan pembelajaran dengan melibatkan para guru.
b. Kepala sekolah diharapkan melakasanakan pemantauan terhadap proses pembalajaran di kelas.
c. Kepala sekolah diharapkan sanggup menjalin kerjasama dengan pihak yang terkait dalam upaya memfasilitasi proses pembelajaran sehingga kualitasnya menjadi meningkat. 2. Terhadap Guru a. Guru diharapkan bisa membuat pembelajaran yang bervariasi serta tidak monoton biar tercipta suasana berguru yang kondusif, menarik, dan tidak membosankan.
b. Guru diharapkan menerapkan seni administrasi Active Debate Variasi sebagai salah satu alternatif untuk menumbuhkan perilaku menghargai pendapat dalam pembelajaran.
c. Guru hendaknya menjalin kekerabatan baik dengan siswa ataupun sesama guru biar proses pembelajaran sanggup berjalan dengan optimal dan terjadi keharmonisan antara anggota sekolah. 3. Terhadap Siswa a. Setiap siswa hendaknya sanggup menjalin kekerabatan yang baik dengan guru maupun bekerja sama dengan teman-temannya biar proses pembelajaran terasa nyaman dan menyenangkan.
b. Siswa hendaknya selalu memperhatikan bahan yang disampaikan guru.
c. Siswa hendaknya selalu berguru secara rutin dan berkesinambungan.
Daftar pustaka sanggup dilihat pada Sumber Rujukan.