Pesan Akhlak Kisah Rakyat Asal-Usul Pantai Kerikil Ulo Jembar Jawa Timur

Diposting pada
Gambar Watu Ulo di Jember ketika Surut

Jika ingin melihat kisah lengkap versi hasil penelitian Dr. Sukatman silakan klik tautan berikut ini Cerita Rakyat: Asal-usul Pantai Watu Ulo

Pada dasarnya sastra rakyat merupakan citra kehidupan manusia. Tafsir terhadap keadaan dan kehidupan manusia. Baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Pesan moral kisah rakyat asal-usul pantai Watu Ulo yang pertama adalah:

Manusia harus mendapat segala sesuatu sesuai dengan kemampuannya. Cerita asal-usul pantai Watu Ulo yang menceritakan seekor ayam yang mendengar mantra Ajisaka alhasil bertelur dan beranak ular, memperlihatkan bahwa makhluk hidup harus mensyukuri apa yang ada pada dirinya, dan harus beradaptasi apa yang bisa diterima. Janganlah mendengar atau mendapat sesuatu yang belum hingga pada tingkatannya.

Lebih lebih dalam ilmu pengetahuan, juga dalam tingkat kedewasaan. Manusia seharusnya mendapat pengetahuan sesuai dengan tingkat usianya. Jagan hingga seorang anak mendapat pengetahuan perihal orang dewasa, baik dalam segi pengetahuan maupun dalam segi moral. Itu akan berbahaya bagi perkembangan psikis anak tersebut.

Pesan moral yang kedua dari kisah rakyat asal-usul pantai kerikil ulo ini merupakan tafsir yang hanya layak diketahui oleh orang dewasa. Sebagai pelajaran moral.

Ayam dalam kisah tersebut diibaratkan sebagai (maaf) “perempuan nakal” yang melaksanakan hubungan seksual sebelum waktunya. Diceritakan bahwa yang boleh mendengar mantra Ajisaka yang sudah pada tahapan tertentu. Tahapan tertentu itu sanggup ditafsiri sebagai ‘orang remaja yang sudah menikah’.

Karena si ayam mendengar rapalan mantra Ajisaka (dapat ditafisiri sebagai melaksanakan proses pembuahan sebelum waktunya) maka lahirlah anak ular raksasa. Mengapa ular? ular identik dengan sesuatu yang negatif. Identik dengan penjahat dan tidak baik. Dalam pedoman agama, proses kehamilan dianjurkan dengan cara baik. Didoakan, dan di-selameti agar menjadi anak yang baik. Nah, ular dalam kisah tersebut sanggup ditafsirkan sebagai anak jadah (anak hasil zina) yang biasanya tidak sempat didoakan bahkan cenderung ingin dibunuh sebelum lahir. Maka, ketika anak itu lahir, cenderung mempunyai sifat negatif.

Sementara itu, Ajisaka yang menolak untuk mengakui ular raksasa secara eksklusif sebagai anaknya menggambarkan tabiat ‘lelaki hidung belang’ yang tidak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya. Sehingga orang itu berbelit dengan memperlihatkan syarat yang sangat sulit.

Ini hanyalah tafsir dari saya. Bukan bermaksud untuk menyinggung salah dari pembaca yang budiman. Hanya berusaha untuk sama-sama belajar.