banner 728x250

Pentingnya Tugas Wanita Jaga Ketahanan Keluarga Di Periode Media Sosial

  • Share
banner 468x60
Siapa sih di antara kita yang enggak pengen punya keluarga yang serasi dan senang? Apapun latar belakang kita, pasti menginginkannya. Hidup dengan langgeng bareng pasangan dan anak-cucu secara bahagia yakni cita-cita bagi siapa saja, termasuk bagi saya yang masih lajang.
Bagi aku, siapapun mampu membangun suatu keluarga. Namun tidak semua orang bisa mempertahankannya dengan baik. Tak bisa dibantah bahwa perempuan yakni tonggak keluarga sehingga kiprahnya sangat diperlukan.
Sayangnya, memasuki kala digital yang dimulai dengan derasnya arus gosip lewat media sosial dan internet, masih banyak perempuan yang belum teredukasi dengan baik tentang bagaimana mempertahankan keluarga. Alih-alih memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan banyak sekali imbas positifnya, seorang perempuan justru bisa menjadi bumerang dari kehancuran keluarga yang tengah dibangunnya.
Saya dikala mengikuti Seminar Sehari Pengarusutamaan Gender yang diadakan oleh Bimas Islam Kementerian Agama RI (dokpri)
Salah satu pola yang sudah terjadi dewasa ini adalah dikala seorang wanita mencuit komentar bernada negatif tentang seorang pejabat di media sosial. Jika dikerjakan oleh orang biasa, mungkin akan lazimsaja. Namun sayangnya, perempuan tersebut berstatus selaku istri seorang Tentara Nasional Indonesia yang harus melaksanakan instruksi etik tertentu. Akibat ulah tersebut, maka sang istri membuat si suami dipecat dari jabatannya selaku seorang TNI.
Saya oke banget jika ada pepatah yang mengatakan bahwa di balik pria berhasil niscaya ada perempuan yang mahir. Namun hal itu juga mampu berlaku sebaliknya bila seorang wanita melakukan hal-hal yang sebaiknya tidak dikerjakan. Dengan kata lain, perempuan memiliki peranan penting dalam mempertahankan ketahanan kurun depan suatu keluarga.
Nah, betapa pentingnya peran wanita pasti enggak boleh didiemin begitu saja. Oleh sebab itu dalam rangka mengedukasi para wanita dalam memperkuat ketahanan keluarga, Bimas Islam Kementerian Agama Republik Indonesia mengadakan acara pelatihan sehari perihal pengarusutamaan gender pada Kamis, 17 Oktober 2019 di Gedung Kementerian Agama. Dengan mengangkat tema “Perempuan dan Media Sosial: Peran Perempuan Menghadapi Pengaruh Media Sosial dalam Menjaga Ketahanan Keluarga”, program ini diharapkan menjadi ilham bagi para perempuan khususnya yang muslimah dalam melakukan tugas terbaiknya di dalam keluarga.
Seminar sehari dibuka oleh Prof. Muhammadiyah Amin (dokpri
Meskipun temanya dikhususkan untuk perempuan, program ini juga dapat diikuti oleh para lelaki mirip aku lho… Selain agar kita yang cowok makin paham tentang kesetaraan gender bahwa posisi laki-laki dan perempuan itu setara, seminar ini juga penting untuk diikuti oleh pria supaya mampu menjadi wangsit bagi mereka dalam mendidik istri masing-masing, utamanya bagi yang telah berumah tangga. Bagi yang lajang kayak aku juga cantik dalam memilih kriteria istri idaman.
Seminar sehari ini dibuka oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam. Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin. Kemudian dilanjutkan oleh pemaparan dari banyak sekali narasumber mirip Trisna Willy Lukman Hakim (penasehat Dharma Wanita Kementerian Agama), Henri Subiakto (Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika), Erik Mubarok (praktisi digital) dan Rahmi Dahnan (psikolog).
Ibu Trisna Willy memberikan arahannya dalam pelatihan sehari pengarusutamaan gender (dokpri)
Dari aneka macam klarifikasi narasumber, aku mendapatkan bahwa ada 3 poin utama yang mesti diperhatikan oleh perempuan dalam mengerjakan perannya dalam keluarga.

1. Cerdas dalam menempatkan diri

Seorang perempuan tidak mengerjakan satu peran saja saat berkeluarga, melainkan beberapa peran, mulai dari peran sebagai istri, ibu dan bahkan sampai selaku wanita karier atau seorang pekerja profesional. Oleh alasannya itu saat telah bersuami, seorang perempuan harus tahu kapan saatnya jadi istri, kapan saatnya jadi ibu dan bahkan kapan saatnya jadi wanita karier atau pekerja profesional.
Memiliki jabatan di perusahaan sih tentu boleh-boleh saja. Namun jangan sampai permasalahan pekerjaan dibawa ke rumah sampai hasilnya lupa melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang istri atau bahkan lupa merawat anaknya sendiri. 
Melakukan acara tertentu mirip aktif bermain media sosial juga boleh-boleh saja kok. Apalagi jikalau mampu menciptakan uang (misalnya dagangonline). Namun jangan hingga alasannya adalah keasyikan main media umum, seorang perempuan melalaikan kiprahnya sebagai seorang istri dan juga ibu. Cerdas dalam menempatkan diri adalah kuncinya.  

2. Saring sebelum sharing

Tahu enggak kenapa banyak hoax yang bertebaran di media sosial? Jawabannya, itu alasannya adalah banyak yang gampang percaya dan menyebarkannya dengan gampang begitu saja!
Maka dari itu dalam pelatihan ini, Trisna Willy Lukman Hakim menekankan pentingnya ‘saring sebelum sharing‘. Saat ada informasi yang beredar, pastikan dulu kebenarannya. Apakah isu tersebut benar atau apa justru bohong. Jika benar, tentukan juga nilai kebermanfaatanya. Apakah gosip yang beredar tersebut berfaedah atau apa justru tidak sama sekali.
Naluri emak-emak yang identik dengan nyebarin isu mungkin memang tidak mampu disingkirkan. Namun juga bukan memiliki arti harus senantiasa dibenarkan apalagi kalau info yang disebarkan itu salah. Dengan arus info yang semakin cepat, maka seorang perempuan diperlukan bisa menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyebaran hoax.

3.  Melakukan pengawasan gawai kepada anak

Ini dia yang enggak kalah penting. Sebagai sosok yang keberadaannya lebih sering di rumah ketimbang ayah, seorang wanita yang berstatus selaku seorang ibu mempunyai tugas dalam melakukan pengawasan gawai atau internet terhadap anak. 
Bukan mempunyai arti si anak enggak boleh dikasih gawai. Memperkenalkan anak dengan gawai tentu boleh-boleh aja kok. Namun yang jelas jangan sampai si anak kecanduan hingga tidak mau melakukan kegiatan yang lain seperti mencar ilmu dan makan sebab fokusnya hanya pada gadget
Itulah kenapa seorang ibu harus melakukan pengawasan kepada anak yang bisa didiskusikan dengan suami atau si ayah, mirip memutuskan jam-jam tertentu pada anak dalam bermain gawai dan mengecek handphone perihal apa saja kegiatan gawai yang dikerjakan oleh si anak.
Pada hasilnya, media sosial bagaikan dua sisi mata pedang. Di satu segi memperlihatkan pengaruh aktual, tetapi di segi lain memperlihatkan efek negatif. Perempuan memang berperan penting dalam ketahanan keluarga. Namun dari seminar ini saya mencar ilmu bahwa sepintar-pintarnya seorang wanita, pertolongan dari seorang laki-laki sebagai support system tetap diperlukan karena keserasian keluarga diputuskan dari seperti apa setiap pasangan mampu mengisi satu sama lain. 
Ilustrasi keluarga serasi
banner 336x280
Baca juga:  Permulaan 2021, Google Berhenti Mencairkan Pembayaran Melalui Western Union
banner 120x600
  • Share