Pengertian Carok Dalam Pandangan Bahasa Dan Budaya

Diposting pada
Pengertian Carok
Dalam bahasa Indonesia ada kata Carok juga ada kata Caruk. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata Carok hanya ada satu makna yaitu perkelahian. Sementara kata Caruk merupakan kata yang sama untuk istilah yang berbeda dan dari bahasa yang berbeda.
1 Caruk verba yang searti dengan kupas tentang kulit.
2 Caruk yang dilekati aba-aba ark atau arkais (sudah jarang digunakan) ialah advervia (kata sifat) yang berarti rakus atau lahap.
3 Caruk yang diserap dari bahasa Madura merupakan kata benda yang berarti berkelahi satu lawan satu atau massal dengan memakai senjata tajam yang dilatarbelakangi dendam dan wanita.
4 Caruk yang diserap dari bahasa Aceh ialah nomina (kata benda) yang berarti  ruang yang berada di ntara dinding haluan dan buritan perahu.

5 Caruk  yang diserap dari bahasa Using (Osing) ialah kata benda (nomina) yang berarti pertunjukan ksenian akngklung khas Banyuwangi yag terdiri dari dua kelompok pemaain yang diadu kemampuannya dalam bermain angklung.
Sementara itu kata Carok dalam KBBI diberi pengertian lengkap sebagai berikut, perkelahian dengan memakai senjata tajam yang dilakukan secara ksatria satu orang lawan satu.
Pengertian-pengertian tersebut sanggup dilihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa edisi keempat yang terbit pada tahun 2019 halaman 246.
Pelafalan Carok dan Caruk
Kata Carok dan Caruk (yang diserap dari bahasa Madura) intinya merujuk pada satu istilah yang sama. Penutur bahasa Madura mengucapkan Carok dengan suara abjad O mirip pada kata rok. Sementara itu bagi penutur bahasa Jawa di Jawa Timur (sebagai wilayah yang bersinggungan dengan bahasa Madura) juga dikenal kata Caruk dengan pelafalan U tinggi ibarat O mirip pada kata tato.
Jadi, intinya Carok dan Caruk ialah sama-sama perkelahian. Namun, penyerapannya dalam bahasa Indonesia dibedakan untuk membedakan konsep makna yang terkandung di dalamnya.
Bagi masyarakat Madura Carok ialah sebuah upaya menjaga harga diri. Sementara orang di luar Madura menganggap Carok sebatas pada perkelahian.
Menurut Samsul Ma’arif dalam bukunya The History of Madura, Carok berasal dari bahasa Kawi yang memang berarti perkelahian.
Carok dalam Perspektif Madura
Dalam perspektif Madura, carok bukan sekadar perkelahian atau pembunuhan. Orang Madura melaksanakan carok (pada mulanya) berkaitan dengan harga diri. Yaitu upaya mempertahankan harga diri atau alasannya ialah tersinggung harga dirinya diinjak-injak oleh orang lain.
Dalam pandangan masyarakat Madura Carok merupakan tindakan pembelaan terhdap harga diri  alasannya ialah hinaan serius, penyerobotan istri, ketidaksopanan,  atau perselingkuhan. Hal yang juga paling penting adalah, kejadian carok atau orang yang akan melaksanakan carok harus menerima persetujuan keluarga. Pada mulanya, sebelum carok harus mengadakan ritual khusus mirip remo dan didoakan oleh seluruh anggota keluarga.
Maka dari itu, pelaku carok niscaya dihormati oleh masyarakat. Namun demikian sebaliknya juga apabila hingga 40 hari seseorang dihina (khususnya perselingkuhan) tetapi tidak melaksanakan pembalasan dalam bentuk carok maka hal itu ianggap malu dan bisa jadi dicemooh oleh masyarakat.
Para pelaku carok biasanya segera menyerahkan diri kepada polisi. Meskipun sudah diputus bersalah dan ditahan, orang yang membunuh orang dalam carok untuk membela kehormatannya tetap dihormati oleh anggoat keluarga.
Dalam perkembangannya Carok tidak hanya dilkukan dengan cara ksatria yaitu satu lawan satu dan ditantang secara terbuka. Carok mengarah ke hal yang tinggal negatifnya saja. Carok menimbulkan pembalasan carok yang tidak berujung. Sebuah keluarga yang telah dibunuh dan terbunuh dalam proses carok, akan membalas orang yang membunuh meskipun yang bersangkutan telah dipenjara. Maka akan terjadi dendam yang tidak berujung.
Terlebih, carok selalu dilakukan dengan nyeleb atau membunuh dengan tiba-tiba saat lawan dalam kodis lengah. Hal ini sangat berbeda jauh dengan Carok yang dahulu dilakukan secara ksatria dan harus menerima persetujuan keluarga. Selain itu carok yang tersisa kini tidak lagi dilakukan satu lawan satu, tetapi berupa pengeroyokan.
Carok yang awalnya juga untuk memperthankan diri juga tereduksi. Masalah utang piutang saja bisa menjadi alasan untuk melaksanakan pembunuhan dengan senyap mirip ini. Maka pada akhirnya, Carok bukan lagi sebuah entitas budaya, melainkan sebuah tindakan kriminal belaka.