Payangan Bukan Pahyangan | Kesalahan Berbahasa Radar Jember

Diposting pada
Kesalahan berbahasa Radar Jember ditulis dalam judul hari (Sabtu, 25 Februari 2019). Dalam info utama di harian Jember itu ditulis besar judulnya “Surga Bagi Peselancar Pantai Pahyangan di Kecamatan Ambulu”. Apa yang salah? Yang salah ialah nama pantainya. Warga sekitar menyebutnya ‘Payangan’. Mengapa di Radar Jember hari ini ditulis ‘Pahyangan’ dengan /h/ di suku kata pertama. Padahal dalam berita-berita sebelumnya, Radar Jember juga menulis ‘payangan’ tanpa /h/. Mungkin alasannya ialah lain wartawan atau mungkin alasannya ialah yang lain.
Ada baiknya dibahas dulu apa itu ‘payangan’. Payangan berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘tempat untuk

atau daerah orang-orang mayang’. Dalam kaidah tata bahasa Jawa, akhiran /-an/ ada yang bermakna ‘tempat’. Misalnya kata dalam bahasa Jawa ‘Pring-pringan’, pring bermakna bambu, pring-pringan bermakna tempat yang ada pohon bambunya. Lalu kata payangan kata dasarnya ialah mayang dan payang. Keduanya ialah bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Jawa juga.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata payang bermakna pukat atau jala untuk menangkap ikan. Selain itu dalam bahasa Indonesia ada tiga kata mayang. Salah satunya bersinonim dengan bunga. Ada pula kata mayang yang bermakna perahu layar. Dalam arti lain mayang atau payang adalah aktivitas yang berkaitan dengan nelayan. Bagaimana dengan pantai Payangan di Jember (yang ditulis Pahyagan oleh harian Radar Jember)?
Pantai Payangan ialah pantai yang bertetangga dengan Watu Ulo itu merupakan pantai yang menjadi daerah bersandarnya kapal/perahu nelayan di wilayah selatan kecamatan Ambulu. Pantai yang populer dengan beberapa bukit dan Teluk Cinta-nya itu sekarang disebut-sebut sebagai nirwana untuk selancar. Di pantai itu semenjak semula menjadi daerah para nelayan, orang Jawa biasa menyebut daerah para nelayan sebagai payangan. Sebutan tersebut lambat laun menjadi nama, maka disebutlah pantai Payangan sebagai nama.
Mengapa Radar Jember menyebut Pahyangan padahal sebelumnya cukup ditulis Payangan tanpa /h/. Bisa jadi, ini merupakan upaya gagah-gagahan dari penulisnya. Bukankah kalau ditulis Pahyangan mirip dengan Kahyangan? Mungkin ada misi besar di balik pengubahan penulisan tersebut. Bisa jadi hendak mengubah namanya menjadi pantai Kahyangan. Memang ini hanya perkiraan belaka, tetapi kemungkinan tersebut tidak menutup kemungkinan. Hal ini kalau dikaitkan dengan upaya pemkab Jember yang mulai mendata dan melirik objek wisata gres di Jember. Bahkan beberapa hari sebelumnya, Radar Jember juga menurunkan info tersebut.
Bukankah branding sebuah daerah wisata sangat penting? Contohnya ialah teluk Cinta yang ada di pantai Payangan. Sebenarnya itu ialah bentuk topografi patai yang melengkung dan menyudut di tengah, mirip bentuk bab atas lambang hati alias ‘cinta’. Sebenarnya itu ialah bentuk alamiah oleh ombak laut, kalau itu memang bentuk cinta seharusnya bentuknya utuh mirip lambang hati, tetapi itu mustahil alasannya ialah pantai bukan danau. Selanjutnya penyebutan teluk cinta telah menjadi viral dengan foto dan status di media umum para pengunjungnya.
Kembali ke Pahyangan, jika nanti diubah menjadi Kahyangan tentu itu akan lebih menjual, mirip cinta atau love di atas. Kahyangan ialah kata lain dari surga, daerah para bidadari berdiam. Entahlah, hendaknya pengembangan wisata juga berporos pada lokalitas dan tradisi, biar lebih berisi dan tetap lestari.