Modal Asing Rp 5,5 Triliun Lepas dari Indonesia dalam Sepekan Terakhir - Makro Katadata.co.id

Modal Asing Rp 5,5 Triliun Lepas dari Indonesia dalam Sepekan Terakhir – LAGIKEPO

LAGIKEPO |

Bank Indonesia mencatat Rp 5,49 triliun modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia sepanjang periode 9-13 Agustus 2021. Lepasnya modal asing tersebut seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah sepekan akibat menguatnya sinyal pengetatan moneter atau tapering off dari Bank Sentral AS alias The Fed, serta perpanjangan PPKM Level 1-4 di Tanah Air.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono merincikan, terdapat aksi jual dari investor asing di pasar surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 4,33 triliun. Sedangkan di pasar saham, modal asing tercatat keluar senilai Rp 1,16 triliun.

“Berdasarkan data settlement, sejak awal 2021, terdapat non-residen beli neto sebesar Rp 13,77 triliun,” kata Erwin dalam keterangan resminya, Jumat (13/8).

Sementara itu, tingkat premi risiko investasi atau credit default swap (CDS) Indonesia lima tahun pada pekan kedua Agustus menjadi 73,89 bps per 12 Agustus. Sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke level 6,33% seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) 10 tahun secara terbatas ke level 1,36%.

Rupiah bergerak melemah dalam sepekan terakhir, setelah akhir Juli hingga awal Agustus berada di fase penguatan. Akhir pekan ini (13/8), rupiah ditutup melemah 0,24% ke level Rp 14.388 per dolar AS, dibandingakn penutupan pekan lalu yakni Rp 14.353 per dolar AS.

Gejolak pelemahan rupiah sepekan terakhir dipengaruhi sentimen eksternal. Wacana tapering off alias pengetatan stimulus The Fed semakin kencang. Hal itu didukung rilis sejumlah data ekonomi AS pekan ini yang mengindikasikan adanya pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam.

Departemen Ketenagakerjaan AS beberapa hari lalu merilis data klaim pengangguran yang mengalami penurunan. Klaim pengangguran pekan kedua Agustus 2021 tercatat 375 ribu klaim. Angka tersebut menjadi yang terendah ketiga sejak akhir Maret 2020.

Sepekan sebelumnya, pemerintah AS juga merilis penambahan tenaga kerja baru sepanjang Juli yang juga menunjukkan perbaikan. Biro Statistik Departemen Ketenagakerjaan AS melaporkan, terdapat penambahan 943 ribu pekerja baru di sektor non-pertanian bulan lalu. Capaian tersebut merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2020.

Selain dua data ketenagakerjaan tersebut, sentimen pemulihan juga diperkuat data perdagangan berupa indeks harga produsen (PPI) AS per Juli 2021 yang menguat melampaui ekspektasi ekonom. PPI bulan Juli tumbuh 7,8% secara tahunan, sekaligus rekor tertinggi dalam satu dekade.

Rilis data inflasi harga produsen tersebut seolah membalas laporan data perdagangan sehari sebelumnya, yakni inflasi harga konsumen AS yang tumbuh melambat. Indeks harga konsumen AS per Juli naik 0,5% secara bulanan, lebih lambat dibandingkan kenaikan pada bulan Juni 0,9%.

Wacana tapering off sempat tenggelam usai rilis data inflasi Juli yang melambat. Hal ini karena Gubernur The Fed Jerome Powell menyakinkan pasar bahwa inflasi hanya bersifat sementara dalam konferensi pers akhir bulan lalu. Namun, rilis data ketenagakerjaan dan inflasi harga produsen pekan ini membawa kembali wacana tapering off dan mempengaruhi pasar aset berisiko.

Pekan lalu Wakil Gubernur Fed Richard Clarida dan pejabat bank sentral lainnya sempat memberi sinyal akan menginjak pedal rem dan mengurangi intervensi pada pemulihan. Clarida mengisyaratkan bank sentral akan mengakhiri periode suku bunga rendah hanya sampai akhir tahun depan.

Langkah tapering off tersebut rencananya akan didahului dengan pengurangan pembelian obligasi pemerintah senilai US$ 120 miliar setiap bulannya. The Fed kemungkinan akan melakukannya mulai Oktober mendatang, dengan syarat data ekonomi terutama ketenagakerjaan hingga September masih melanjutkan perbaikan.

Sementara itu, dari dalam negeri, pelemahan rupiah turut dipengaruhi keputusan pemerintah yang kembali memperpanjang penerapan PPKM Level 1-4. Pemerintah awal pekan ini mengumumkan perpanjangan pengetatan mobilitas hingga 16 Agustus untuk wilayah Jawa dan Bali, serta perpanjangan sampai 23 Agustus untuk wilayah luar Jawa-Bali

2021-08-13 13:45:00

Source link