banner 728x250

Mengulas Makna Puisi Efata Dalam Film Sebelum Berangkat

  • Share
banner 468x60

Efata,

Bila aku buta, usaplah matamu.

banner 336x280

Bila saya lumpuh, basuhlah kakimu.

Bila aku tuli, sentuhlah telingamu

Sebab, kita tiada beda.

Sebab, kita setara semartabat

Sebab, kita serancangan

Itulah cuplikan puisi yang dilafalkan oleh Erlis dalam film “Sebelum Berangkat” (2018) karya Dirmawan Hatta bikinan Tumbuh Sinema Rakyat dan The Asia Foundation. Film yang sempat tayang di Festival Scope via Festival 100% Manusia tersebut berkisah perihal kehidupan sebuah komunitas disabilitas di sebuah desa di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Itulah cuplikan puisi yang dilafalkan oleh Erlis dalam film  Mengulas Makna Puisi Efata dalam Film Sebelum Berangkat
Salah satu cuplikan film “Sebelum Berangkat” (tangkapan layar trailer film/dok. Tumbuh Sinema Rakyat)

Suatu hari komunitas disabilitas tersebut berkesempatan untuk mewakili NTT dalam peringatan Hari Difabel Internasional (HDI) di Surabaya. Rencananya, mereka akan berdeklamasi (KBBI: menghidangkan sajak yang diikuti lagu dan gaya) di sana. Nah, bagaimana antisipasi mereka ‘sebelum berangkat’ ke program HDI menjadi fokus utamanya.

Dalam hal ini, suatu puisi berawalan ‘Efata’ dipilih untuk dideklamasikan. Erlis, seorang gadis SD pun dipercaya untuk membawakan puisi tersebut. Meski sempat dihentikan oleh ibunya untuk ikut dengan argumentasi sakit indera pendengaran, Erlis tak peduli. Ia tetap berlatih dalam mengekspresikan puisi alasannya ingin berpartisipasi di HDI.

Itulah cuplikan puisi yang dilafalkan oleh Erlis dalam film  Mengulas Makna Puisi Efata dalam Film Sebelum Berangkat
Erlis, salah satu tokoh dalam film “Sebelum Berangkat” (tangkapan layar trailer film/dok. Tumbuh Sinema Rakyat)

Sekilas puisi ‘Efata’ seperti tempelan dalam film semata. Namun bila kita mendengarkannya dengan saksama kata demi kata yang diucapkan dalam puisi tersebut di dalam film, puisi ‘efata‘ bekerjsama ialah benang merah yang terkait dengan alur dongeng. Puisi ini menggambarkan bagaimana informasi disabilitas dan kondisi sosial budaya yang ada di Nusa Tenggara Timur khususnya Sumba.

Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan satu demi satu baris yang terdapat dalam puisi. Pada baris pertama, kita akan mendengar kata efata! diucapkan dengan lancang dan keras oleh Erlis. 
 
Efata bukan berasal dari bahasa Sumba, melainkan kata dalam bahasa Aram yang mempunyai arti “Terbukalah!”. Kata ini diucapkan oleh Yesus dan tercantum dalam alkitab. Dikisahkan Yesus berjumpa dengan seorang yang tuli. Untuk menyembuhkannya, Yesus kemudian berkata “Efata!”.
 
Kata efata digunakan karena berhubungan bersahabat dengan latar belakang kehidupan penduduk Sumba yang mayoritasnya penduduknya adalah umat Nasrani. Dalam film, hal itu tergambar melalui adegan saat Maya dan Mardi pulang ibadah dari gereja. 
Itulah cuplikan puisi yang dilafalkan oleh Erlis dalam film  Mengulas Makna Puisi Efata dalam Film Sebelum Berangkat
Masyarakat Sumba (dok. CNN)
Baca juga:  Mencar Ilmu 5 Kosakata Bahasa Inggris Wacana Seks Dari Serial Sex Education

Selain itu, penggunaan efata juga menyiratkan secercah keinginan kepada seorang penyandang disabilitas. Di balik terpilihnya Erlis selaku pembaca puisi, dia ialah seorang disabilitas. 
 
Erlis mempunyai gangguan indera pendengaran. Ia tidak bisa mendengar dengan baik, sampai-sampai dia harus membaca gerak bibir ibunya untuk mengerti apa yang diucapkan kepadanya. Itulah kenapa dalam salah satu adegan, kamera melaksanakan zum pada ekspresi ibu Erlis dikala mengatakan. Atas keterbatasannya, Erlis tak berlatih sendiri dalam mendeklamasikan puisi. Seorang anak albino bernama Paul turut membantunya. 
 
Melalui efata, film ini seolah ingin memberi pesan kepada setiap penyandang disabilitas bahwa impian itu selalu ada sebagaimana cerita yang terdapat dalam kitab suci. Harapan di sini tidak serta merta dimaknai seorang penyandang disabilitas keluar dari status disabilitasnya. Namun cita-cita bahwa kebesaran Tuhan itu selalu ada sehingga tidak perlu cemas dalam menjalani hidup.

Setelah efata, berikutnya kita akan menemukan tiga baris puisi sebagai berikut:

Bila saya buta, usaplah matamu. 
Bila aku lumpuh, basuhlah kakimu. 
Bila aku tuli, sentuhlah telingamu.
 
Dalam hal ini, terdapat tiga keyword yang berkaitan dengan disabilitas yakni ‘buta’, ‘lumpuh’ dan ‘tuli’. Pemilihan kata tersebut bukan tanpa argumentasi. Tiga keyword tersebut digunakan untuk menggambarkan tentang keberagaman disabilitas seperti yang ditampilkan di film. 
 
Faktanya, Erlis bukan satu-satunya tokoh disabilitas yang ada. Ada kakak beradik Maya dan Paul yang terlahir selaku orang albino. Di sela-sela persiapannya ‘sebelum berangkat’, Maya harus mengalami realita bahwa keluarga kekasihnya, Oscar menolaknya karena tampilan fisiknya berbeda dengan orang Sumba kebanyakan. 
 
Itulah cuplikan puisi yang dilafalkan oleh Erlis dalam film  Mengulas Makna Puisi Efata dalam Film Sebelum Berangkat
Maya, seorang wanita Albino asal Sumba (tangkapan layar trailer/dok. Tumbuh Sinema Rakyat)
Baca juga:  Info Registrasi Dan Gugusan Cpns Kota Salatiga Tahun 2021

Sementara Paul yaitu adik Maya yang protektif bila kakaknya berhubungan dengan Oscar. Ia juga yaitu seorang sobat yang membantu Erlis dalam mengekspresikan puisi dengan baik.
 
“Sebelum Berangkat” juga mengisahkan kehidupan Mardi. Ia adalah seorang perempuan tuna daksa yang memiliki tubuh kerdil. Meski mempunyai kelemahan, dia tahu bagaimana caranya tampak cantik dengan caranya sendiri. 
Itulah cuplikan puisi yang dilafalkan oleh Erlis dalam film  Mengulas Makna Puisi Efata dalam Film Sebelum Berangkat
Mardi, seorang tuna daksa yang ingin tampil cantik di acara HDI (tangkapan layar trailer film/dok. Tumbuh Sinema Rakyat)
Terakhir ada pula ayahnya Flo yang mengalami rabun sehingga tidak mampu melihat sesuatu dengan terang. Tokoh ini merupakan tokoh minor. Kendati demikian, keberadaannya cukup menggambarkan ihwal keberagaman disabilitas dalam film.
 
Kemudian melalui frase perintah seperti pada frase “usaplah matamu”, “basuhlah kakimu” dan “sentuhlah telingamu”, film ini mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas hal-hal yang mungkin tampak sepele tetapi sesungguhnya amat memiliki arti. 
 
Melihat, berjalan dan mendengar yakni hal-hal yang umum. Namun saat kita dihadapkan dengan orang-orang yang mengalami keterbatasan pada acara tertentu, maka sudah selayaknya kita bersyukur alasannya adalah tidak siapa saja bisa melakukannya. Erlis dengan kekurangan pendengarannya dan Ayah Flo dengan kekurangan penglihatannya yaitu teladan kasatmata di film yang amat berhubungan dengan kenyataan di dunia faktual.   

Sebab, kita tiada beda. Sebab, kita setara semartabat. Sebab, kita serancangan.

Pada bab terakhir puisi, film ini menyiratkan bahwa setiap insan, baik disabilitas ataupun nondisabilitas, intinya sama. Tidak ada yang berlainan satu sama lain. Semuanya setara di mata Tuhan alasannya sama-sama ‘rancangan yang kuasa’. 

Itulah cuplikan puisi yang dilafalkan oleh Erlis dalam film  Mengulas Makna Puisi Efata dalam Film Sebelum Berangkat
Mobil dengan stiker “Rancangan Tuhan” (tangkapan layar trailer film/dok. Tumbuh Sinema Rakyat)
Itulah kenapa pada kendaraan beroda empat yang mau mengirimkan komunitas disabilitas ke bandara, tertempel stiker bertuliskan “Rancangan Tuhan”. Dalam judul model internasional, film ini pun diberi judul “In God’s Design” yang artinya  “Rancangan Tuhan”. 
 
Stiker tersebut bukan sebatas tempelan, namun pesan yang terkandung di dalam puisi bahwa intinya tidak ada orang yang dirancang dengan salah. Terlepas dari segala kelebihan dan kelemahan, Tuhan ialah sebaik-baiknya perancang yang ada.
Baca juga:  Inilah Daftar Kuota Cpns 2018 Lengkap Kementerian Dan Kawasan Yang Ternyata Hoax

Bicara soal latar, memang, “Sebelum Berangkat” bukan satu-satunya film Indonesia yang berlatarkan di Sumba. Sebelumnya ada “Marlina: Pembunuh dalam 4 Babak”, “Pendekar Tongkat Emas”, “Susah Sinyal” dan bahkan yang modern “Humba Dreams”. 

Itulah cuplikan puisi yang dilafalkan oleh Erlis dalam film  Mengulas Makna Puisi Efata dalam Film Sebelum Berangkat
Poster film “Humba Dreams”, salah satu film selain “Sebelum Berangkat” yang berlatarkan Sumba (dok. Miles Film)
Namun dibandingkan film-film tersebut, “Sebelum Berangkat” berlawanan karena mengangkat informasi yang belakangan sedang gencar diperjuangkan: disabilitas. Isu disabilitas di kota-kota besar telah banyak yang bahas. Tapi bagaimana dengan isu disabilitas di tempat Indonesia Tengah seperti yang terjadi di suatu desa di Sumba?

Kepala Tim Riset LPEM FEB Universitas Indonesia, Alin Halimatussadiah pada 2016 menyampaikan bahwa prevalensi disabilitas provinsi di Indonesia ada di angka 6,41 sampai 18,75 persen. Dari data tersebut, Nusa Tenggara Timur, kawasan Sumba berada tercatat selaku salah 1 dari 3 provinsi dengan tingkat prevalensi disabilitas tertinggi di Indonesia pada 2016.

Data ini makin diperkuat oleh Riskesdas 2018. Berdasarkan riset tersebut, Nusa Tenggara Timur masuk selaku salah satu dari sepuluh provinsi dengan proporsi penyandang disabilitas dewasa tertinggi (rentang usia 18-59 tahun) di Indonesia. Setidaknya 27,3% penduduk sampaumur di Nusa Tenggara Timur yakni penyandang disabilitas.

Film ini kian menawan untuk ditonton alasannya adalah memakai bahasa Sumba 100% (kecuali pada isi puisi dan goresan pena) dengan seluruh pemain yakni orang lokal. Alhasil, mau tidak ingin penonton mesti membaca takarir (subtitle) dari permulaan hingga simpulan untuk mengerti apa yang disampaikan di film. Pengecualian bagi penutur orisinil bahasa Sumba. 

“Sebelum Berangkat” memang bukan film yang sempurna. Namun datangnya puisi efata yang penuhmakna menjadi poin plus yang menciptakan film ini mempunyai kelebihannya sendiri.
banner 336x280
banner 120x600
  • Share