banner 728x250

Mengawali 2021 Dengan Belajar Decluttering Buku

  • Share
banner 468x60
Ilustrasi decluttering (dok. seattlegreencleaningfairy.com)

Tak terasa tahun 2021 telah berjalan selama sepekan. Memasuki tahun gres, saya mengawalinya dengan sebuah acara yang jarang aku kerjakan, yaitu decluttering

Bagi yang kenal dengan Marie Kondo, seorang konsultan tata ruang asal Jepang yang terkenal dengan prinsip hidup minimalis dan tata cara konmarinya pasti telah enggak aneh dengan ungkapan decluttering. Menurut kamus Oxford, decluttering yang berasal dari kata declutter sendiri memiliki arti to remove things you do not need from a place, in order to make it more pleasant and more useful. 

banner 336x280
 saya mengawalinya dengan sebuah kegiatan yang jarang saya lakukan Mengawali 2021 dengan Belajar Decluttering Buku
Marie Kondo, konsultan tata ruang dari Jepang (dok. people.com)
Dengan kata lain, decluttering yaitu langkah-langkah meminimalkan jumlah barang yang kita miliki supaya barang tersebut lebih berkhasiat dan kita mampu hidup lebih tenteram. Biasanya seseorang melaksanakan decluttering karena barang-barang tersebut telah tidak digunakan lagi atau jumlah barang yang dimiliki sudah terlalu banyak sehingga menyantap kawasan ruang penyimpanan.

Sebagai orang yang mendapatkan kepuasan batin ketika mempunyai barang dalam jumlah banyak, aku suka mengoleksi barang tertentu mirip buku, mainan dan DVD. Semakin banyak barang yang aku miliki, semakin senang dan puaslah saya. Maka dari itu aku punya banyak sekali benda di rumah utamanya buku sebab saya suka membaca buku.

Namun setelah saya mengecek satu per satu buku yang aku miliki, aku baru sadar bahwa buku saya sudah kebanyakan dan ternyata tidak semua buku yang aku koleksi yakni buku yang saya butuhkan. Faktanya, sebagian buku yang saya miliki yakni buku-buku yang tidak berkaitan dengan minat dan keterampilan saya.

Bayangin aja, aku tidak bekerja di Kementerian Desa, bukan kades, bukan pula sekdes atau pengelola desa sama sekali. Tapi ternyata saya punya “Buku Bantu Pengelolaan Pembangunan Desa” dong xD

Buku Bantu Pengelolaan Pembangunan Desa, salah satu buku yang tidak saya butuhkan yang saya miliki (dokpri)
Saya bukan peneliti yang bergerak dalam derma anak. Tapi aku punya buku laporan pencatatan kelahiran dan akhir hayat dong.

Itu beberapa teladan di antaranya. Buku-buku tersebut bukan buku-buku yang berhubungan dengan kehidupan aku. 

Apakah bukunya tidak berguna? Tentu saja bukunya sungguh berguna. Namun alasannya bukunya ‘berat’, maka sebermanfaat apapun buku-buku tersebut, enggak bakal kepake sama saya alasannya saya tidak terjun di bidang tersebut.

Saya pasti tertarik mempelajari aneka macam ilmu wawasan dan wawasan yang tidak ada kaitannya dengan bidang yang aku tekuni mirip tentang pedesaan dan isu wacana kelahiran dan kematian. Namun ya sebatas mengetahui dasarnya aja. 

Saya tidak perlu menguasainya sampai dalam alasannya aku tidak menggeluti di bidang tersebut. Apalagi bila bukunya berat-berat seperti di atas, saya tidak akan membacanya sebab keburu bosen duluan. Selain itu, masih banyak pula buku yang belum saya baca.

Kok mampu punya buku-buku kayak gitu? 

Jawabannya alasannya saya mendapatkannya dari program-program yang saya hadiri. Saya sering diundang untuk menghadiri sebuah program, baik sebagai blogger ataupun langsung. Di program tersebut tak jarang penyelenggara program memperlihatkan goodie bag terdiri dari buku. Kalau buku-buku ringan sih masih mending. Sebagian besar buku yang saya dapatkan justru malah buku-buku yang berat mirip laporan observasi, prosiding, majalah perusahaan, majalah institusi dll. 

Namanya dikasih pasti enggak mungkin nolak dong. Alhasil saya bawa pulang buku-buku yang diberikan. Saya simpan di dalam lemari. Kali aja sebuah hari nanti aku baca. Tapi begitu aku cek kembali akhir-akhir ini, saya pun baru sadar bahwa sesungguhnya aku enggak butuh sama sekali dengan buku tersebut. Mau seberkualitas dan semahal apapun bukunya, enggak bakal kepake sama saya.

Selain dikasih oleh panitia program, saya juga punya buku-buku yang enggak diperlukan alasannya adalah dahulu saya punya kebiasaan dalam mengambil buku-buku gratisan yang ditawarkan di acara tertentu. Pameran buku contohnya.

Kadang di program-program tertentu tersedia buku gratis yang mampu diambil oleh pengunjung. Dulu aku berpikir bawa pulang aja dulu, kali aja nanti dibaca. Saya kumpulin satu per satu, eh gak sadar bahwa ternyata buku yang saya koleksi secara gratis udah banyak padahal sebetulnya bukan buku-buku yang aku butuhkan. Sama-sama dapat di sebuah acara sih intinya. Tapi bedanya, yang satu yaitu inisiatif panitia buat dikasih ke hadirin, satu lagi yaitu inisiatif aku sendiri buat ngambil alasannya adalah gratisan.

Baca juga:  Teladan Perkara Pelanggaran Undang-Undang Ite No 11 Tahun 2008

Terakhir, saya memiliki buku-buku tersebut karena aku terlalu terbawa nafsu dikala membelinya dikala bazar padahal saya tidak terlalu suka atau tidak terlalu membutuhkannya. Terkadang, aku juga menerima buku-buku yang tidak berkaitan karena ialah kado dari lomba menulis yang saya ikuti.

Nah, sebab saya punya buku-buku yang enggak saya perlukan, maka aku pun kepikiran untuk melakukan decluttering. Selain supaya bukunya dapat lebih bermanfaat bagi orang lain, maksudnya juga supaya ruang penyimpanan buku di rumah aku menjadi lebih lega.

Saya membagi tiga klasifikasi pada buku yang aku kurangi. Pertama, buku-buku yang tidak pernah saya baca alasannya tidak berhubungan dengan minat atau kehidupan aku. Biasanya bukunya tuh buku-buku berat. Buku bantu pengelolaan dana desa seperti yang saya sebutkan di atas misalnya.

Kedua, buku-buku yang pernah aku baca tetapi aku merasa tidak ada duduk perkara kalau dihibahkan. Alasan terutama sih biasanya alasannya buku tersebut tidak mempunyai ikatan memori dengan saya. Kualitasnya bisa saja elok, tetapi bukan buku favorit. Jadi bila dikasih ke orang lain, it’s okay. 

Ketiga, buku-buku yang sesungguhnya berhubungan dengan minat aku namun saya belum pernah membacanya. Saya merasa tidak akan sempat menyisakan waktu untuk membacanya alasannya adalah ada buku-buku lain yang lebih penting atau lebih layak dibaca terlebih dulu.

Apa yang Saya Lakukan?

Setelah kisah wacana latar belakang melaksanakan decluttering, pada bagian ini aku ingin menyebarkan ihwal apa yang aku kerjakan dalam mengurangi jumlah buku di rumah aku. Soalnya jikalau teori doang percuma. Praktek justru lebih penting. 
 
Apa saja yang sudah saya kerjakan? Nah, berikut yaitu beberapa caranya:

1. Menghibahkannya ke Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Imeri

Salah satu cara yang saya kerjakan dalam melakukan decluttering buku yakni dengan menghibahkannya ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Sebenarnya aku sempat bermaksud melakukannya pada Juli 2020. Saya bahkan sempat mengajukan pertanyaan terhadap admin twitter Perpusnas ihwal bagaimana caranya memperlihatkan buku terhadap Perpusnas dan adminnya sempat memperlihatkan kontak orang sana. Namun berhubung saya mager mulu, kesudahannya saya baru sempat melakukannya pada permulaan 2021. 

Semula aku menduga bahwa perlindungan buku dijalankan di Perpusnas yang terletak di Medan Merdeka Selatan. Saya pun bahkan sempat berniat untuk datang ke sana. 

Untungnya, aku mengajukan pertanyaan ke mbak Kiki dari Blomil yang mempunyai relasi dengan orang perpusnas apalagi dahulu. Dari mbak Kiki aku baru tahu bahwa ternyata untuk memberikan buku, tempatnya itu bukan di Perpusnas Medan Merdeka Selatan yang ada di dekat Monas, melainkan Perpusnas Salemba yang terletak di bersahabat Kemensos. 

 saya mengawalinya dengan sebuah kegiatan yang jarang saya lakukan Mengawali 2021 dengan Belajar Decluttering Buku
Perpusnas Salemba (dokpri)
Mbak Kiki menerangkan bahwa Perpusnas Medan Merdeka Selatan yaitu perpusnas untuk pelayanan publik. Sementara Perpusnas Salemba ibarat dapurnya. Makara jika kita mau baca buku, kita berkunjung ke Medan Merdeka Selatan. Tapi kalau mau kasih buku untuk koleksi, kita berkunjung ke Salemba. Untung nanya dulu. Jadinya tidak salah alamat deh.

Saya pergi ke Perpusnas Salemba pada Selasa, 5 Januari 2020 dengan membawa sekitar 12-15 buku. Beberapa di antaranya yakni 3 judul buku yang aku sebutkan di atas, tabloid Bola terbitan tahun 2013, kamus Oxford (saya punya 2), buku ajaran membentuk forum anak dan 3 buah buku UU ihwal santunan anak.

Akses perpusnas Salemba via transportasi terbilang mudah. Untuk hingga di sana, kita mampu naik transjakarta dan turun di Halte RS Carolus. Jalan sebentar, kita pun akan datang di Perpusnas Salemba. Namun sebelum hingga di sana, aku menghibahkan 4 buah buku bertemakan kesehatan ke Perpustakaan Imeri apalagi dulu. Kebetulan jalannya searah dan ada sobat saya yang bekerja di sana.

Baca juga:  5 Mal Di Jakarta Yang Sarat Kenangan Dalam Hidup Gue

Perpusnas Salemba mempunyai beberapa gedung. Namun jika ingin menghibahkan buku, kita harus mampir ke Lantai 2 Gedung D bagian akuisisi. Gedungnya gampang dikenali alasannya adalah terdapat kanopi biru di depannya. Masuk ke dalam gedung kemudian belok ke kiri, maka itulah gedung D berada.

 saya mengawalinya dengan sebuah kegiatan yang jarang saya lakukan Mengawali 2021 dengan Belajar Decluttering Buku
Masuk ke dalam lalu belok kiri, maka di situlah gedung D Perpusnas Salemba berada (dokpri)

 saya mengawalinya dengan sebuah kegiatan yang jarang saya lakukan Mengawali 2021 dengan Belajar Decluttering Buku
Ruangan Bidang Akuisisi Perpusnas Salemba (dokpri)
Setibanya di sana, saya berjumpa dengan salah seorang staf perpusnas berkacamata berjulukan Reza. Ia menyambut kedatangan aku dengan baik dan menerima tujuan aku memperlihatkan buku dengan terbuka. Awalnya aku kira untuk memperlihatkan buku ya sebatas kasih buku aja, ternyata prosesnya tidak seperti itu.

Setelah menawarkan buku-buku yang akan saya berikan, mas Reza meminta aku menuliskan data diri berupa nama, nomor hape dan alamat. Ia pergi sejenak lalu menghampiri aku kembali sembari menenteng 4 lembar kertas yang sudah dicetak bertuliskan data yang aku tulis tersebut. 

Beberapa buku yang saya hibahkan untuk Perpusnas (dokpri)
Kertas tersebut mempunyai 3 kolom terdiri dari identitas buku seperti judul buku, kuantitas buku dan harga. Mas Reza menerangkan kolom harga yang tertera di kertas tidak mempunyai arti aku memperlihatkan uang ke perpusnas atau sebaliknya. 

Kolom harga yang tertulis bermakna harga perhitungan buku yang dijual di pasaran. Kolom harga dimasukkan alasannya perpusnas yaitu milik pemerintah sehingga apapun barang yang dimilikinya adalah aset negara. 

Untuk mengenali berapa jumlah aset negara yang dimiliki lewat perpusnas, untuk itulah setiap benda harus dicatat nominalnya. Wah, saat itu juga aku merasa heroik sebab tindakan saya dalam menawarkan buku sama saja dengan berkontribusi menambah total aset negara. Wkwk

Kolom harga tidak diisi oleh pemberi hibah, melainkan oleh staf perpus Salemba. Setelah menjelaskan sekilas, staf perpusnas tersebut lalu meminta aku untuk menandatangani 4 rangkap kertas yang diberikan untuk laporan atau dokumentasi.   

Pada dikala bersama-sama, aku mengajukan pertanyaan kepada staf Pusnas apakah buku-buku yang diberikan hanya disalurkan ke Perpusnas saja atau apa ke Perpus Daerah juga. Ia menerangkan bahwa buku juga akan disalurkan ke perpustakaan kawasan, tetapi tergantung kebutuhan. 

Jika perpusnas lebih butuh, maka bukunya akan menjadi koleksi perpusnas. Namun bila tidak, maka akan disalurkan ke perpustakaan tempat. Seketika aku merasa bahagia alasannya penyebaran bukunya menjadi luas.

Saya juga sempat bertanya apakah kita bisa mengirimkan buku via pos atau ekspedisi. Soalnya jujur, bakal repot jika mesti tiba eksklusif untuk menawarkan buku. 

Alhamdulillah, jawabannya ternyata bisa. Makara kita enggak perlu capek-kecapekan ke Perpus Salemba untuk kasih buku. Cukup kirim via ekspedisi aja, kita pun sudah mendonasikan buku yang kita punya. Semua jenis buku diterima (termasuk komik), kecuali buku kegiatan yang diisi/ditulis oleh bawah umur.

Setelah memperlihatkan buku, aku merasa lega bukan main. Mungkin belum tentu ada yang baca, namun seenggaknya kesempatan buku yang aku berikan untuk dimanfaatkan oleh orang-orang yang membutuhkan lebih besar. Saya juga merasa lega alasannya adalah ruang penyimpanan buku di rumah saya menjadi lebih leluasa.

Sepulangnya dari Perpus Salemba, seorang staf mengirimi saya pesan WA ihwal alamat Perpustakaan Nasional sembari mengucapkan terima kasih atas buku yang aku berikan. Ini beliau alamatnya:

Perpustakaan Nasional RI

Unit Pengembangan Koleksi, Gedung D Lt. 2, 

Jl. Salemba Raya 28A, Senen, Jakarta Pusat 10430

Mungkin bukan aku saja yang ingin mendonasikan buku. Saya rasa ada banyak orang lain juga yang ingin melakukannya. Nah, bagi sobat-sobat yang ingin menghibahkan bukunya ke Perpusnas namun tidak sempat tiba langsung, mampu mengirimkannya juga ke sana. 

2. Melungsurkannya ke Orang Lain via Sosmed Pribadi

Selain menghibahkan ke perpustakaan, awal tahun saya juga melakukan decluttering dengan cara melungsurkannya terhadap orang lain via sosial media pribadi pada 5-6 Januari 2021. 
 
Mula-mula saya foto apalagi dahulu buku-buku apa saja yang ingin aku lungsurkan. Saya posting fotonya di IG stories lengkap dengan penjelasan singkat tentang keadaan buku. Kemudian bagi yang berkeinginan dapat mengirimkan DM kepada saya secara langsung. 
 saya mengawalinya dengan sebuah kegiatan yang jarang saya lakukan Mengawali 2021 dengan Belajar Decluttering Buku
Salah satu teladan artikel saya di IG (dokpri)
Baca juga:  Dikira Koko

Saya tidak memutuskan harga pada buku yang saya lungsurkan. Semuanya gratis, kecuali ongkir alasannya ditanggung peserta. Selain takut kewalahan bila peminatnya terlalu banyak (terlebih jika harus kirim ke luar Jabodetabek), ini juga selaku bukti janji bahwa si penerima benar-benar menginginkan atau memerlukan buku yang hendak saya lungsurkan.

Berbeda dengan hibah untuk perpusnas yang sebagian besar ialah buku-buku berat mirip prosiding dan laporan penelitian, buku yang saya lungsurkan via sosmed justru lebih ringan dan variatif. Ada buku bimbingan mengedit video lewat adobe premier, buku pelajaran bahasa Inggris, agama, novel bahkan hingga komik. Sebagian buku telah saya baca, sebagian lagi belum pernah sama sekali.
Alhamdulillah, berjam-jam setelah diposting, ada saja sahabat IG yang terpikatuntuk ‘mengadopsi’ buku-buku yang saya tawarkan. Enggak semua buku sih, namun seenggaknya ada 5 sobat yang mengirimkan pesan langsung dan bilang bahwa mereka berhasrat. Yeay!
 saya mengawalinya dengan sebuah kegiatan yang jarang saya lakukan Mengawali 2021 dengan Belajar Decluttering Buku
Salah seorang sobat yang berhasrat mengantarkan DM dikala aku memposting buku-buku untuk dilungsurkan (dokpri)

3. Melungsurkannya ke Orang Lain via Grup Khusus Buku Lungsuran

Tak hanya via sosmed langsung, aku juga melungsurkan buku ke orang lain via grup khusus di facebook. Grup tersebut berjulukan “Buku Lungsuran” yang diciptakan oleh ka Ayu (Adinda Bintari). Menurut saya grup ini bagus banget karena mampu memudahkan terusan penduduk dalam mendapatkan buku. 
 saya mengawalinya dengan sebuah kegiatan yang jarang saya lakukan Mengawali 2021 dengan Belajar Decluttering Buku
Grup Buku Lungsuran di facebook (dokpri)
Sesuai namanya, di sana setiap anggota dapat mempromosikan buku masing-masing untuk dilungsurkan beserta penjelasan seperti apakah ongkirnya ditanggung peserta atau gratis dan buku tersebut diantardari mana. Jika ada yang berkeinginan, mampu komen di kolom komentar.
Saya bergabung di grup tersebut sejak tahun kemudian alasannya diundang oleh ka Ayu. Sejak itu saya sudah berhasil melungsurkan buku sebanyak 3 buah. Setelah usang tidak mempromosikan buku untuk dilungsurkan, pada awal tahun (5 Januari 2021) saya mencobanya kembali. 
 
Dari 4 buku yang aku posting, seseorang kesengsem dengan salah satu buku milik aku yaitu buku pelajaran bahasa Inggris keluaran LPIA (Lembaga Pendidikan Indonesia-Amerika) beserta Audio CD. Untuk memudahkan pengiriman dan transaksi ongkir, percakapan lalu berlanjut ke inbox facebook. Saya pun merasa bersyukur setidaknya ada 1 buku milik saya yang mampu berfaedah bagi orang lain.
 saya mengawalinya dengan sebuah kegiatan yang jarang saya lakukan Mengawali 2021 dengan Belajar Decluttering Buku
Salah satu paket terdiri dari buku yang mau saya kirim ke seorang peminat via Grup Buku Lungsuran (dokpri)
Awal 2021 adalah permulaan aku belajar untuk melaksanakan decluttering. Sebenarnya sih bukan untuk pertama kalinya. Soalnya tahun kemudian aku sudah melakukannya dengan menghibahkan sejumlah buku ke rak buku yang ada di Stasiun Palmerah dan melungsurkan buku di grup “Buku Lungsuran”.  
 
Tak cuma decluttering buku, tahun kemudian saya juga sempat berdonasi mainan via komunitas Ketapels dan membuang puluhan daerah CD playstation yang kosong yang disimpan di lemari. Sudah dikerjakan dari tahun-tahun sebelumnya. Namun jikalau bicara soal belajar lebih baik lagi, aku ingin memulainya pada tahun ini.
 
Oh ya, meski saya telah menerapkan langkah-langkah menghemat barang, aku enggak anti sama sekali dengan kegiatan menambah barang loh ya. Dalam artian, dengan menghibahkan atau melungsurkan buku tidak berarti aku berhenti untuk beli buku sama sekali. 
 
Ke depannya saya tetap akan beli buku karena aku enggak pengen ketinggalan dalam perkembangan buku yang begitu dinamis. Sementara untuk benda-benda tertentu seperti pakaian mungkin akan lebih saya batasi pembeliannya.
 
Poin yang ingin aku terapkan adalah menghemat benda-benda yang tidak diperlukan. Jika karenanya nanti buku yang saya beli tidak lagi saya butuhkan, tak persoalan bila saya akan menghibahkan atau melungsurkannya kembali. 
 
Mengawali 2021, aku telah menjajal decluttering dan merasa bahagia dikala ruang penyimpanan di rumah saya menjadi lebih lega dan barang-barang yang aku miliki dapat berguna bagi orang lain. Bagaimana jikalau kamu mencobanya juga?
banner 336x280
banner 120x600
  • Share