Menejemen Konflik : Kunci Sukses Resolusi Konflik

Diposting pada

KUNCI SUKSES MENGELOLA KONFLIK

Meski tidak baku terdapat langkah-langlah yang ada dijadikan contoh biar sukses dalam mengelola konflik.  Motivasi untuk menuntaskan konflik dan memanfaatkan konflik untuk meningkatkan kualitas kehidupan eksklusif dan kelompok akan menjadi pondasi utama dalam  menerapkan kunci sukses mengelola konflik.


Langkah 1 – 

Memperkuat kesadaran diri dan pengendalian diri 

Dalam situasi konflik, satu-satunya variabel yang benar-benar sanggup mengontrol ialah diri Anda sendiri . Keterampilan pertama dan utama dalam administrasi konflik ialah kemampuan  berguru memahami diri sendiri secara berdikari dan realistis

Banyak jalan untuk memperkuat pengenalan dan pengendalian diri sendiri, contohnya dengan mempraktekkan beberapa hal berikut  ini :

  • Melatih diri untuk tidak gampang terpengaruh konflik melalui latihan-latihan pengembangan sikap positip, contohnya : melatih daya tahan mental atau berlatih bermain tugas mensimulasikan konflik dengan rekan-rekan dekat.
  • Mengolah batin dan fisik dengan teknik relaksasi atau olahraga.
  • Melatih kesadaran dan pemahaman terhadap keterbatasan – keterbatasan yang ada pada diri anda sendiri .
  • Renungkan konflik yang terjadi dalam perspektif atau mengemukakan pertanyaan-pertanyaan  : Seberapa pentingkah ? Apa hal terburuk yang bisa terjadi ? Apa hal terbaik yang bisa terjadi ?, dst.


Langkah 2 – 

Belajar untuk menangani kemarahan Anda sendiri

  • Memahami bagaimana sebuah konflik  berkembang dalam diri anda, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan : “Apa yang ada di balik kemarahan Anda? Rasa Takut ? Kekecewaan ? Kebingungan ? Frustrasi ? atau hal lainnya.
  • Belajar untuk mengendalikan  kemarahan Anda dengan mengakui dan rasa memilikinya secara jujur.
  • Ukur dan uji secara terus menerus  jawaban Anda  terhadap situasi konflik yang terjadi.
  • Diagnosis dan analisis bahaya yang mungkin terjadi. Kendalikan ketidakpastian yang serinkali menjadi musuh yang sangat menganggu.
  • Berbicaralah atau membuatkan rasa dengan sobat bersahabat atau kelompok yang dipercayainya. 

Langkah 3 –
Belajar untuk menghadapi kemarahan pada orang lain

Kebanyakan orang melihat, mendengar dan melaksanakan apa yang memang ingin mereka melihat , mendengar dan melaksanakan . Dalam situasi konflik,  posisi/persepsi yang sederhana akan  menjadi bertambah kaku dan sulit manakala :

  • Meninggalkan nalar atau cara-cara berfikir logis .
  • Terlalu mengutamakan/bermain perasaan. .
  • Harus mau mendengar yang memang membutuhkan waktu dan perjuangan .
  • Berupaya terus-menerus menggunakan  kebijaksanaan dan pikiran .
  • Abaikan penyalahgunaan .
  • Hindari eskalasi atau peningkatan situasi konflik akhir pembiaran.

MENGHARGAI DIRI SENDIRI 

Dalam proses administrasi konflik, menghargai ialah “perekat sosial yang sangat penting”  yang sanggup membangun ketertarikan orang untuk bekerjasama. Pepatah bijak menyatakan “Jika Anda tidak sanggup menghargai diri sendiri, maka Anda tidak akan bisa menghargai orang lain”.

Berikut ialah beberapa hukum dasar untuk menilai/menghargai  diri sendiri .

  • Jangan menuntut kesempurnaan diri sendiri secara berlebihan. Tetapkan tujuan-tujuan hidup  yang realistis yang mungkin sanggup capai.
  • Anda mempunyai hak untuk memutuskan siapa, bagaimana, dan ingin menjadi apa diri anda sendiri tanpa harus menciptakan alasan, membenarkan, atau malah menyampaikan “Aku menyesal atas pilihanku”. Anda bertanggung jawab untuk semua pilihan dan pekerjaan yang Anda lakukan. Semua ini harus dilihan sebagai pilihan  hidup Anda dan apa yang terjadi di dalamnya sudah diperhitungkan dengan baik. 
  • Tegaslah  menolak kalau diajak orang lain untuk berbuat keserakahan, ketidakberdayaan, atau kemarahan dan kerusakan. Tetapkan batas “mana yang boleh – mana yang tidak” orang lain memperlakukan diri anda.  Katakan “tidak” saat anda memang berarti “tidak”. Hadapi  orang lain yang mencoba untuk memanipulasi anda dengan bersikap bawa “saya ialah eksklusif yang bernilai”.
  • Kenali perasaan tidak bisa dan rasa bersalah yang merupakan warisan orang renta atau orang-orang pintar balig cukup akal lainnya.  Anda sanggup memutuskan untuk tidak merasa menyerupai itu.  
  • Jadilah Pribad yang konstruktif. Dalam jangka panjang pastikan bahwa apa yang terbaik anda lakukan niscaya terbaik pula bagi orang lain yang terkait atau berada disekitar anda. Ingatlah  jika yang anda lakukan ialah yang terbaik dan anda meyakinininya maka maka kalau ada orang lain yang  tidak menyuakianya – anda harus berani mengambil risiko untuk tidak disukai atau bahkan mengakhiri hubungan kerjasama. 
  • Jangan menjawab pertanyaan yang Anda tidak ingin menjawab. Beberapa pertanyaan seringkali mengandung jebakan, manipulatif dan tidak nyama menyerupai pertanyaan : mengapa ?, mengapa tidak ?, dsb.
  • Sadarilah bawa anda ada  di sinidansekarang” untuk mengatasi mengatasi persoalan dan membawa manfaat. Jika Anda menyalahkan orang lain atau lingkungan atas terjadinya persoalan yang anda hadapi atau jika  Anda menunjukan sikap bahwa andalah orang yang paling tepat mengatasi masalah, maka sejatinya anda sedang “membela diri bukannya mengatasi maslah”. Setiap orang memiliki masalah tetapi hanya pribadi-pribadi yang kuatlah yang memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan tanpa masalah.

MENGHARGAI ORANG LAIN

Berikut ialah beberapa hukum sederhana untuk menghargai orang lain sekaligus sanggup membantu dalam proses membangun hubungan yang “win – win situation”

  • Dengarkan dengan penuh  tenggang rasa saat diajak bicara orang lain. Hentikanlah melaksanakan pekerjaan saat orang lain sedang berargumen, serta janganlah memberikan argumen-argumen saat orang lain sedang bekerja dan bicara. Ambilah  risiko untuk bersedia dibujuk . Coba gunakan pikiran sehat orang lain sebagai ukuran sekaligus pembanding.
  • Jangan menciptakan perkiraan perihal bagaimana orang lain berpikir, mencicipi atau bagaimana orang lain bereaksi. Sadarilah bahwa anda tidak bisa masuk ke dalam kepala siapa pun, tetapi sangat bisa untuk masuk kedalam kepala diri anda sendiri .
  • Hadapi sikap yang nyata  atau yang manipulatif  tetapi tidak untuk menyerang orang lain . Sarkasme (kata-kata kotor dan keras) dan bercanda seringkali tidak terima dan malah memperkeruh suasana.
  • Janganlah memberi  label orang lain dengan label  bodoh, malas, atau kekanak-kanakan. Hindari menciptakan penilaian  dengan perasaan dan evaluasi atas nama moralitas menyerupai benar salah, baik buruk, dsb.
  • Jangan bertindak manipulatif. Jujurlah dan terbuka akan lebih baik. Jelaskan rincian dan yang spesifik . Jangan sesekali mengoreksi pernyataan  orang terutama yang terakait dengan perasaannnya.  Jangan pula memberitahu mereka bagaimana mereka harus merasa .
  • Bukalah ruang tentatif . Jangan menyatakan pendapat Anda sebagai fakta , hindari kata-kata berkhotbah, jangan membesar-besarkan atau merendahkan  orang lain . Hindari pernyataan mutlak yang tidak meninggalkan ruang untuk memberi masukan dan pansangan seperti  “Saya rasa ini ialah cara …. ” lebih baik daripada ” ini ialah satu-satunya cara …. ” Berikan ruang orang lain untuk berpendapat.
  • Jika keputusan anda akan mempengaruhi orang lain, maka bukalah kesempatan dan berikan cara untuk keterlibatan mereka itu .  Mereka  perlu diberi ruang merasakan  bahwa mereka mempunyai efek pada keputusan yang diambil.  Jamak terjadi bahwa semua orang ini mempunyai andil dalam proses pengambilan keputusan –  terutama yang sanggup mempengaruhi kehidupan mereka .
  • Apakah tujuan telah dirumuskan dengan jelas, telah  dipahami dan telah disepakati ? Gunakan tujuan, bukan nilai-nilai eksklusif atau preferensi   untuk menguji apakah isu-isu yang akan digarap relevan  atau tidak .

 Lihat entri/topik terkait :

    Sumber :
    World Adult Resources Handbook,  WOSM (World Scout Bereau), Geneva, 2005