banner 728x250

Materi Mpls: Pendidikan Karakter

  • Share
banner 468x60

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

Penguatan pendidikan sopan santun (tabiat education) atau pendidikan aksara (character education) dalam konteks sekarang sungguh relevan untuk menangani krisis budpekerti yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berbentukmeningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan bawah umur dan remaja, kejahatan kepada sobat, pencurian sampaumur, kebiasaan menjiplak, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain telah menjadi dilema sosial yang hingga dikala ini belum dapat diselesaikan secara tuntas, oleh sebab itu betapa pentingnya pendidikan aksara.

Menurut Lickona, abjad berkaitan dengan rancangan tabiat (susila knonwing), perilaku sopan santun (sopan santun felling), dan perilaku watak (budpekerti behavior). Berdasarkan ketiga unsur ini dapat dinyatakanbahwa aksara yang baikdidukung oleh pengetahuan perihal kebaikan, impian untuk berbuat baik, dan melaksanakan perbuatan kebaikan. Bagan di bawah ini ialah bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.

banner 336x280

1.  Pendidikan Karakter Menurut Lickona

Secara sederhana, pendidikan abjad mampu didefinisikan selaku segala usaha yang dapat dijalankan untuk mempengaruhi abjad siswa. Tetapi untuk mengetahui pemahaman yang sempurna, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah sebuah usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat mengerti, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai adat yang inti.

2.  Pendidikan Karakter Menurut Suyanto

Suyanto (2009) mendefinisikan abjad sebagai cara berpikir dan bertingkah yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.

3.  Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya

Karakter ialah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan menyikapi sesuatu (Kertajaya, 2010).

4.  Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi

Menurut  kamus psikologi, huruf yakni kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau etika, contohnya kejujuran seseorang, dan lazimnya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).

Nilai-nilai dalam pendidikan aksara

Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan abjad adalah , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung jawab.

Baca juga:  Download Permendikbud No 14 Tahun 2018 Ihwal Ppdb Tk, Sd, Smp, Sma, Smk

Pendidikan abjad sudah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, namun juga untuk warga penduduk secara keseluruhan. Pendidikan abjad mampu diartikan selaku the deliberate us of all dimensions of school life to foster maksimal character development (perjuangan kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk menolong pembentukan karakter secara maksimal.

Pendidikan aksara membutuhkan metode khusus yang sempurna biar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara tata cara pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan,  metode adaptasi, dan metode pujian dan eksekusi.

Karakter ialah cara berpikir dan bertingkah yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan berafiliasi, baik dalam lingkup keluarga, penduduk , bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik yakni individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap balasan dari keputusan yang dia buat.Pembentukan aksara ialah salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional yaitu menyebarkan potensi akseptor bimbing untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan adat mulia.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak cuma membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang berkembang meningkat dengan huruf yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Pendidikan yang bermaksud melahirkan insan cerdas dan berkarakter berpengaruh itu, juga pernah dibilang Dr. Martin Luther King, adalah; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… ialah tujuan final pendidikan yang bantu-membantu).

Memahami Pendidikan Karakter

Pendidikan aksara adalah pendidikan kecerdikan pekerti plus, adalah yang melibatkan faktor wawasan (cognitive), perasaan (feeling), dan langkah-langkah (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan aksara tidak akan efektif.

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkesinambungan, seorang anak akan menjadi pintar emosinya. Kecerdasan emosi ini yaitu bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong abad depan, alasannya adalah seseorang akan lebih gampang dan sukses menghadapi segala macam tantangan kehidupan, tergolong tantangan untuk berhasil secara akademis.

Baca juga:  Download Perangkat Kbm Bahasa Inggris Smp Kelas 7 (Vii) Kurikulum 2013

Terdapat sembilan pilar abjad yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, adalah:
1.   Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya
2.   Kemandirian dan tanggungjawab
3.   Kejujuran/amanah, diplomatis
4.   Hormat dan santun
5.   Dermawan, suka bantu-membantu dan bahu-membahu/kerjasama;
6.   Percaya diri dan pekerja keras
7.   Kepemimpinan dan keadilan
8.   Baik dan rendah hati, dan
9.   Karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan sistem knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good mampu mudah diajarkan sebab wawasan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good mesti ditumbuhkan feeling loving the good, ialah bagaimana mencicipi dan menyayangi kebajikan menjadi engine yang mampu menciptakan orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan sikap kebajikan sebab beliau cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah sudah biasa melaksanakan kebajikan, maka acting the good itu bermetamorfosis kebiasaan.

Dasar pendidikan huruf ini, seharusnya diterapkan semenjak usia kanak-kanak atau yang umum disebut para mahir psikologi selaku usia emas (golden age), alasannya usia ini terbukti sangat memilih kesanggupan anak dalam menyebarkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang remaja sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% selanjutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau final dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepantasnya pendidikan huruf dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan aksara anak.

Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan huruf yang sistematis di atas sangat susah, terutama bagi sebagian orang bau tanah yang terjebak pada kegiatan rutin yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan aksara juga perlu diberikan saat belum dewasa masuk dalam lingkungan sekolah, utamanya sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah tugas guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru ialah ujung tombak di kelas, yang berhadapan pribadi dengan akseptor didik.

Baca juga:  Cara Share Video Langsung Youtube Hanya Ke Orang Tertentu Untuk Kelas Atau Meeting Online

Dampak Pendidikan Karakter

Apa imbas pendidikan abjad kepada kesuksesan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting perihal hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, mengambarkan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan huruf. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter memperlihatkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghalangi keberhasilan akademik.

Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan aneka macam hasil observasi wacana dampak positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet aspek-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-aspek resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, namun pada huruf, yakni rasa percaya diri, kemampuan melakukan pekerjaan sama, kesanggupan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kesanggupan berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan pertimbangan Daniel Goleman ihwal kesuksesan seseorang di penduduk , ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan cuma 20 persen diputuskan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesusahan berguru, bergaul dan tidak mampu mengatur emosinya.

Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan jikalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para akil balig cukup akal yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah biasa yang dihadapi oleh sampaumur mirip kenakalan, tawuran, narkoba, miras, sikap seks bebas, dan sebagainya.

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya yaitu; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis memiliki pengaruh faktual pada pencapaian akademis.

Seiring sosialisasi wacana relevansi pendidikan karakter ini, agar dalam waktu bersahabat tiap sekolah mampu secepatnya menerapkannya, supaya nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.

banner 336x280
banner 120x600
  • Share