banner 728x250

Materi Mpls: Arti Dan Makna Pengetahuan Wiyata Mandala

  • Share
banner 468x60


A. Wawasan : Suatu persepsi atau sikap yang mendalam kepada sebuah hakikat. Wiyata : Pendidikan Mandala : Tempat atau lingkungan Wiyata mandala ialah sikap menghargai dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolah selaku kawasan menimba ilmu pengetahuan. Unsur-unsur wiyata mandala:
1. Sekolah ialah lingkungan pendidikan
2. Kepala sekolah mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh atas    penyelenggaraan pendidikan dalam lingkungan sekolah.
3. Antara guru dan orang tua siswa mesti ada saling pemahaman dan kerjasama bersahabat untuk mengemban peran pendidikan (kekerabatan yang serasi)
4. Warga sekolah di dalam maupun di luar sekolah mesti menjunjung tinggi martabat dan gambaran guru.
5. Sekolah mesti bertumpu pada masyarakat sekitarnya dan mendukung antarwarga.

B. SEKOLAH DAN FUNGSINYA
Sekolah merupakan kawasan penyelenggaraan PBM, menanamkan dan membuatkan berbagai nilai, ilmu wawasan, teknologi dan keahlian. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal daerah berlangsungnya PBM untuk membina dan berbagi:
1. Ilmu pengetahuan dan teknologi
2. Pandangan hidup/kepribadian
3. Hubungan antara insan dengan lingkungan atau insan dengan Tuhannya
4. Kemampuan berkarya. 

banner 336x280

C. FUNGSI SEKOLAH
Fungsi sekolah ialah selaku tempat penduduk mencar ilmu sebab mempunyai aturan/tata tertib kehidupan yang mengatur kekerabatan antara guru, pengurus pendidikan siswa dalam PBM untuk meraih tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan dlam situasi yang dinamis.

D. CIRI-CIRI SEKOLAH SEBAGAI MASYARALAT BELAJAR
Ciri-ciri sekolah sebagai masyarakat mencar ilmu yaitu :
1. Ada guru dan siswa, timbulnya PBM yang tertib
2. Tercapainya penduduk yang sadar, mau berguru dan bersusah payah.
3. Terbentuknya insan Indonesia seutuhnya.

E. PRINSIP SEKOLAH
Sekolah sebagai Wiyata Mandala selain mesti bertumpu pada penduduk sekitarnya, juga harus mencegah masuknya faham sikap dan perbuatan yang secara sadar ataupun tidak dapat menimbulkan kontradiksi antara sesama alasannya adalah perbedaan suku, agama, asal/ajakan/keturunan, tingkat sosial ekonomi serta perbedaan paham politik. Sekolah dilarang hidup menyendiri melepaskan diri dari tantangan sosial budaya dalam masyarakat tempat sekolah itu berada. Sekolah juga menjadi suri contoh bagi kehidupan masyarakat sekitarnya, serta mampu menghalangi masuknya perilaku dan perbuatan yang akan menimbulkan kontradiksi. Untuk itu sekolah mempunyai prinsip-prinsip selaku berikut :
1. Sekolah selaku wadah/lembaga yang menunjukkan bekal hidup. Dalam hal ini sekolah semestinya bukan hanya sekedar lembaga yang mencetak para intelektual muda namun lebih dari itu sekolah mesti menjadi rumah kedua yang menawarkan pelayanan dan pengalaman tentang hidup, mulai dari berorganisasi, bermasyarakat (bersosialisasi), pendidikan lingkungan hidup (PLH) atau bahkan pengalaman hidup yang sesungguhnya.
2. Sekolah sebagai institusi kawasan akseptor latih berguru dibawah panduan pendidik. Bimbingan lebih dari sekedar pengajaran. Dalam panduan tugas pendidik berganti dari seorang pendidik menjadi seorang orangtua bahkan menjadi seorang abang.
3. Sekolah selaku forum dengan pelayanan yang adil/merata bagi stakeholdernya. Hal tersebut bisa berupa pemerataan kesempatan mendapatkan transfer of knowledge, maupun transfer of experience, dengan tanpa membedakan baik dari segi kemampuan ekonomi, kemampuan intelegensia, dan juga kemampuan fisik (gagasan sekolah inklusi).
4. Sekolah selaku forum pengembangan talenta dan minat siswa. Prinsip ini sejalan dengan teori multiple intelligence (Howard Gardner) yang menatap bahwa kecerdasan intelektual bukanlah satu-satunya yang perlu diamati oleh forum pendidikan, khususnya sekolah. Kemampuan bersosialisasi, kesanggupan kinestik, kesanggupan seni dan kemampuan-kemampuan yang lain juga perlu diperhatikan secara sepadan.
5. Sekolah sebagai lembaga training potensi di luar intelegensi. Peningkatan kemampuan intelektual, emosional maupun kemampuan-kemampuan lainnya mendapat perhatian yang sepadan.
6. Sekolah mesti menawarkan perhatian serius untuk membuatkan kesanggupan emosional dan sosial, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi, kemampuan berafiliasi dalam kalangan, dan lain-lain.
7. Sekolah selaku wahana pengembangan sikap dan moral. Sikap sederhana, jujur, terbuka, sarat toleransi, rela berkomunikasi dan berinteraksi, ramah tamah dan bersahabat, cinta negara, cinta lingkungan, siap bantu menolong khususnya kepada yang kurang beruntung ialah sikap dan moral yang perlu dibuat di dalam lingkungan sekolah.
8. Sekolah sebagai wahana pendewasaan diri. Di dalam dunia yang berubah begitu cepat, salah satu kompetensi dasar yang mesti dimiliki tiap peserta ajar yakni kompetensi dasar: berguru secara mampu berdiri diatas kaki sendiri. Dengan proses pendewasaan yang diberikan di sekolah, pendidik tidak lagi perlu menjejali aliran peserta didik dengan perintah. Lebih dari itu penerima ajar akan menerima sesuatu yang jauh lebih besar dikala beliau mencari dan menerima apa yang dia perlukan untuk hidupnya.
9. Sekolah sebagai bagian dari penduduk berguru (learning society). Sekolah bukan hanya sebagai daerah pembelajaran bagi penerima ajar, namun juga sebaiknya sekolah mampu menjadi sentra pembelajaran bagi masyarakat di lingkungan sekitar.

Baca juga:  Selain Tatap Paras , Ini 2 Alternatif Pembelajaran Kemendikbud Tahun 2021

F. PENGGUNAAN SEKOLAH
Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan yang diperuntukan selaku tempat proses aktivitas belajar mengajar, tidak diperbolehkan dijadikan selaku daerah :
1. . Ajang penawaran khusus /pemasaran produk-produk perniagaan yang tidak bekerjasama dengan pendidikan.
2. Sekolah ialah lingkungan bebas rokok bagi semua pihak.
3. Penyebaran ajaran sesat atau penyebarluasan anutan agama tertentu yang bertentangan dengan undang-undang.
4. Propaganda politik/kampanye.
5. Shooting film dan atau sinetron tanpa seijin Pemerintah Daerah.
6. . Kegiatan-aktivitas yang mampu menjadikan kerusakan, perpecahan, dan perselisihan, sehingga menjadikan suasana sekolah tidak aman.

G. PENATAAN WIYATA MANDALA DALAM UPAYA KETAHANAN SEKOLAH
1. Ketahanan sekolah lebih menitikberatkan pada upaya-upaya yang bersifat preventif.
2. Untuk menyebabkan sekolah sesuai dengan tujuan dan fungsinya, perlu dijalankan penataan Wiyata Mandala di sekolah lewat langkah-langkah :
a) Meningkatkan koordinasi dan konsolidasai sesama warga sekolah untuk mampu menangkal sedini mungkin adanya acara dan langkah-langkah yang dapat mengusik proses belajar mengajar.
b) Melaksanakan tata tertib sekolah secara konsisten dan berkesinambungan.
c) Melakukan kerjasama dengan Komite sekolah dan pihak keselamatan lokal untuk terselenggaranya ketahanan sekolah.
d) Mengadakan penyuluhan bagi orangtua dan siswa yang berurusan
e) Mengadakan penyuluhan dan pembinanan kesadaran aturan bagi siswa.
f) Pembinaan dan pengembangan keimanan, ketaqwaan, budbahasa bermoral Pancasila, kepribadian adab dan berdisiplin.
g) Pengembangan logika para siswa, rajin belajar, gairah menulis, gemar membaca/ isu/inovasi para jago.
h) Mengikutsertakan siswa dalam aktivitas ekstrakurikuler dan pengembangan diri.
i) Mengadakan karya wisata dalam rangka pengembangan iptek.

H. TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNGJAWAB KEPALA SEKOLAH DALAM HAL PELAKSANAAN WIYATA MANDALA
Kepala Sekolah sebagai pimpinan utama, bertugas dan bertanggung jawab memimpin penyelenggaraan mencar ilmu mengajar serta membina pendidik dan tenaga kependidikan serta membina korelasi kerja sama dan peran serta penduduk . Kepala Sekolah dalam melakukan penataan Wiyata Mandala di sekolah, dengan melakukan kegiatan-kegiatan :
1. Melaksanakan program-acara yang telah disusun bersama Komite Sekolah.
2. Menyelenggarakan musyawarah sekolah yang melibatkan pendidik, OSIS, Komite Sekolah, tokoh penduduk serta pihak keamanan lokal.
3. Menertibkan lingkungan sekolah baik yang berbentuk perangkat keras (sarana prasarana) dan perangkat lunak (peraturan-peraturan, tata tertib, tata upacara dan lain lain).
4. Mengadakan pertemuan baik rutin maupun insidentil yang bersifat intern sekolah (kepala sekolah, pendidik, orangtua siswa, siswa).
5. Menyelenggarakan kegiatan yang mampu menunjang ketahanan sekolah seperti PKS, Pramuka, PMR, Paskibraka, kesenian dan sebagainya.

Baca juga:  Cara Menciptakan Email Notifikasi Otomatis Google Form Gampang Dan Cepat

I. MEKANISME DALAM PELAKSANAAN WIYATA MANDALA
Dalam rangka pelaksanaan Wiyata Mandala perlu upaya penang-gulangan secara dini setiap masalah yang timbul sehingga dapat menetralisir efek negatifnya, ialah dilakukan secara terpadu, bertahap dan berlanjut sebagai berikut :
1. Tahap Preventif Upaya untuk meniadakan kesempatan-peluang yang mampu memungkinkan terjadinya kasus-perkara negatif di sekolah, melalui antara lain :
a) Memelihara sekolah, dan lingkungan sekolah serta membuat kebersihan dan ketertiban supaya siswa merasa nyaman dan menyenangkan dan tidak ada daerah tertentu yang dijadikan siswa untuk hal-hal negatif.
b) Menciptakan suasana yang serasi antara pihak pendidik/staf dan siswa serta penduduk di sekitar sekolah.
c) Membentuk jaring-jaring pengawasan/kendali dan razia kepada aktivitas siswa di lingkungan sekolah.
d) Menghilangkan bentuk-bentuk perpeloncoan pada dikala MOS.
e) Meminimalisir keterlibatan kelompok maupun individual dalam acara sekolah.
f) Mengisi jam-jam kosong dengan pelajaran atau acara extra lainnya.
g) Meningkatkan acara extra kurikuler pada kala awal/tamat semester dan kala piknik sekolah.
h) Peningkatan keselamatan dan ketertiban terutama pada ketika berangkat/ usai sekolah.

2. Tahap Represif Upaya untuk menindak siswa yang telah melanggar peraturan-peraturan dan tata tertib sekolah. Upaya Represif mirip :
a) Mendamaikan para pihak yang terlibat perselisihan berikut orangtua/pendidik pembinanya.
b) Membatasi areal tempat terjadinya agresi.
c) Menetralisir berita-informasi yang berkembang dan mencegah timbulnya info-informasi baru.
d) Berkoordinasi dengan pihak keamanan bila terdapat pihak luar sekolah yang melanggar keamanan, ketertiban dan tindakan kriminalitas di lingkungan sekolah.
e) Mengungkap lebih lanjut keterlibatan pihak luar sekolah atas kasus yang muncul dan menuntaskan secara aturan.
f) Mengikutsertakan para hebat untuk menyelenggarakan bimbingan dan penyuluhan.
g) Memberikan sanksi sesuai tata tertib yang berlaku.

banner 336x280
banner 120x600
  • Share