Majas Asosiasi Dalam Kartun Clekit Wacana Jalan Raya Di Indonesia

Diposting pada
Majas asosiasi ialah gaya bahasa yang membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam majas asosiasi, dipakai kata seperti, bagai, bak, laksana. Hal yang dibandingkan ialah hal atau sesuatu yang serupa.
Misalnya, rembulan dibandingkan dengan wajah alasannya ialah sama-sama indah.
Contoh Majas Asosiasi: “Wajahmu kolam rembulan malam, yang menyejukkan siapapun yang memandang”
Misalnya, matahari dibandingkan dengan kasih sayang orang renta atau ibu.
Kartun Clekit Karya Wahyu Kokkang di Jawa Pos Edisi7 Februari 2019
Contoh Majas Asosiasi: “Kasih sayang ibu bagaikan matahari, selalu bersinar tiada henti.
Misalnya, kehidupan rumah tangga dibandingkan dengan pelayaran.
Contoh Majas Asosiasi: “Kehidupan rumah tangga itu ibarat berlayar, ada kalanya angin kencang tiba menghadang.
Selanjutnya, majas asosiasi juga dapat dipakai tanpa menyebut pribadi hal yang dibandingkan. Tetapi tanpa memakai kata-kata pembanding seperti, bagai, bak, dan laksana. 

Pembadingan ibarat ini pernah ngetop saat perkara Cicak lawan Buaya.
Misalnya dalam kalimat:
“KPK kok mau lawan Polri, Cicak kok mau lawan buaya”
Meskipun tidak ada kata pembanding, dalam kalimat di atas terang bahwa KPK dibandingkan dengan Cicak, atau sesuatu yang kecil sementara Polisi Republik Indonesia dibandingkan dengan Buaya. Buaya jauh lebih besar dari pada cicak. 
Penggunaan majas ibarat ini sudah berkembang jauh sebelum bahasa Indonesia lahir dan resmi sebagai bahasa negara. Hal ini tampak dari adanya majas serupa dalam bahasa daerah. Salah satunya bahasa Jawa.
Dala bahasa Jawa ada ungkapan, “timun kok ngelawan duren” artinya: timu kok mau melawan durian. Jadi, pihak yang lemah dianggap ibarat timun yang niscaya hancur melawan durian yang berkulit keras.
Dalam kartun Clekit edisi 7 Februari 2019 juga ada majas Asosiasi. Hal yang diasosiasikan ialah jalan raya di Indonesia dengan rembulan. Biasanya rembulan ialah asosiasi yang positif alasannya ialah selalu dibandingkan dengan wajah yang bagus atau tampan. Tetapi dalam kartun Clekit Wahyu Kokkang, sang kreator memakai kondisi bulan yang dilihat dari jarak dekat, yaitu yang berlubang dan bergelombang.
Dalam kartun Clekit tersebut, digambarkan seorang astronot yang gres mendarat dan melapor kepada stasiun antariksa nasionalnya dengan berkata:
“HALO NASA, MAAF SAYA SALAH MENDARAT, INI BUKAN BULAN, TAPI JALAN RAYA DI INDONESIA!”
Nasa ialah forum antariksa Amerika Serikat.
Dalam kalimat yang diucapkan sang astronot, terang bahwa keadan Jalan di Indonesia dibandingkan dengan Bulan. Berarti jalan di Indonesia diasosiasikan dengan keadaan bulan yang permukaannya merupakan kawah.
Hal ini merupakan kritikan dari Clekit mengingat jalanan di Indonesia kondisinya tidak bagus. Bahkan dalam kartun tersebut, yang disebut ‘ini’ oleh astronot ialah jalan yang sama sekali tidak rata dan berbatu. 
Mungkin ada yang menganggap bahwa Clekit terlalu lebay menganggap jalanan di Indonesi ibarat kawah-kawah di Bulan. Tetapi kenyataannya begitu. Bukan hanya jalan di pedalaman Sumatra, kalimantan, atau Papua yang rusak. Kondisi jalan di Jawa yang katanya kota besar juga begitu. Banyak lubang. Di Jember salah satunya, bebarapa ruas jalannya bergelombang dan berlubang, padahal jalan penguhubung antar-kabupaten.
Terlepas dari hanya sekadar berisi kritik, untuk pemerintah dan untuk kita yang tidak peduli terhadap perbaikan jalan, kartun Clekit juga berisi pesan moral.
Pesan watak kartun Clekit edisi hari ini adalah:
“Jangan besar hati jikalau ada yang menyebut kita setampan atau secantik rembulan, alasannya ialah mungkin maksudnya adalah: wajah kita terlalu banyak kawah dan perbukitan. Terlalu banyak kukul alias jerawat”