banner 728x250

Jikalau Aksara Latin Yakni Insan

  • Share
banner 468x60
Aksara latin
Jika huruf latin adalah insan…
Maka karakter “G” yakni eksklusif yang suka menolong dan rela mengembangkan beban yang dialami oleh orang lain. Itu alasannya adalah abjad “G” diciptakan oleh seorang mantan budak berjulukan Spurius Carvilius Ruga untuk menolong huruf “C” yang pada kala latin antik dipakai untuk merepresentasikan bunyi ambigu, ialah /g/ dan /k/.
Berkat kehadiran “G”, maka huruf “C” tak lagi kewalahan dalam merepresentasikan suara karena huruf “C” cukup berkonsentrasi pada suara /k/ sebab “G” sudah membantu bunyi /g/.
Sementara itu huruf “Z” yaitu eksklusif yang berjiwa besar, pemaaf dan rela berkorban. Itu karena pada mulanya, abjad latin berisikan 21 huruf yakni ABCDEFZHIKLMNOPQRSTVX. Namun pada era ke-3 Sebelum Masehi, karakter “Z” dianggap enggak penting. Alhasil, keberadaannya pun dihapus dari daftar karakter latin dan posisinya di tengah digantikan dengan huruf “G” yang ketika itu baru masuk.
Huruf “Z” juga berjiwa besar alasannya adalah begitu ditetapkan kembali selaku salah satu huruf latin pada kurun “classical latin”, dia tidak pernah berupaya merebut posisi “G” yang ada di posisinya kini seperti yang beliau pernah tempati dulu.
Alih-alih protes dengan hruuf “G” yang ada di posisinya, aksara “Z” justru legowo dan rela berkorban demi melancarkan aksi “G” dalam membantu “C”. 
Huruf “Z” juga pemaaf. Ia bahkan melewatkan segala kenangan pahit yang pernah beliau alami di abad lampau, sekalipun sekarang dia ditempatkan di urutan terakhir dalam daftar karakter latin. “Z” ialah representasi dari orang-orang yang pernah berada di atas roda kehidupan lalu tersakiti tetapi tetap membumi.
Adapun abjad “V” adalah eksklusif yang inspriatif. Ia sungguh-sungguh “real influencer” alasannya mampu menunjukkan dampak aktual kepada orang-orang di sekitarnya sehingga mereka kebaikan juga untuk orang lain. Berkat abjad “V”, kita pun mengenal huruf “W” dan “U” dengan bentuk mirip yang kita kenal sekarang.
Huruf “W” lahir pada abad ke-7 pada kala “middle age” untuk merepresentasikan suara [w] dalam Old English sedangkan aksara “U” baru ada pada era ke-16.
Di ketika “V” pribadi yang inspiratif dan influencer sejati, maka “W” adalah tipikal orang yang kreatif. Ia punya cara tersendiri dalam melakukan hidupnya.
Bentuk “W” lahir karena terinspirasi dari karakter “V”. Namun alih-alih mengikuti bentuk “V”, “W” justru mencurahkan segala kreativitasnya dengan prinsip ATM alias Amati-Tiru-Modifikasi. Hal itu karena bentuk “W” bahu-membahu diadopsi dari karakter “V” yang ditulis secara dobel (VV) yang masuk ke dalam daftar huruf latin pada era ke-7.
Bertolak belakang dengan “W”, abjad “U” justru tipikal orang yang pengennya instan dan tidak punya jati diri. Namun jika dilihat dari perspektif lain, abjad “U” juga tipikal orang yang enggak neko-neko dan cenderung kurang berani dalam mengambil resiko.
Itu sebab huruf “U” mengambil bentuk abjad “v” kecil yang ketika itu berbentuk “u” secara mentah-mentah tanpa modifikasi seperti yang dijalankan oleh “W”. Sejak masuknya karakter “U” ke dalam daftar abjad latin pada abad ke-16, maka “V” sang inspirator pun menyerah sehingga beliau pun mengganti bentuk ‘v’ kecil yang dikala itu berbentuk ‘u’ menjadi ‘v’ mirip yang kita kenal sekarang.
Huruf “Y” yaitu pribadi yang santuy dan “easy going”. Ia tipe orang yang menikmati hidup tanpa membandingkan dirinya dengan orang lain.
Meski “Y” hadir lebih dahulu bersama “Z” model ‘reborn’ pada periode classical latin daripada huruf “W”, “U” dan “J”, “Y” enggak pernah mempermasalahkan begitu beliau ditempatkan di urutan sebelum terakhir dalam urutan 26 aksara latin.
Dekatnya beliau dengan karakter “Z” juga menerangkan betapa ia adalah pribadi yang dekat dan setia kawan sebab sudah mendapatkan “Z” sekalipun “Z” memiliki periode kemudian yang kelam.
Tak lupa, ada pula abjad “J”. Jika “J” yakni insan, maka “J” adalah tipikal orang yang kurang mampu berdiri diatas kaki sendiri dan bergantung pada orang lain namun setidaknya ia sama kreatifnya dengan “W”. Itu bisa dilihat alasannya adalah dalam penulisan bilangan romawi abjad “J” senantiasa diposisikan di urutan terakhir setelah karakter “I” mirip pada bilangan XIIJ yang memiliki arti 23. Di samping itu, aksara “J” juga merupakan swash letter (abjad berdebur atau penyesuaian) dari abjad “I”.
Huruf “J” yakni huruf terakhir yang dimasukkan ke dalam daftar 26 aksara latin yang gres ditetapkan pada abad ke-17. 
Namun adanya ikatan sejarah dengan huruf “I”, maka aksara “J” tidak ditempatkan di urutan terakhir, melainkan di akrab “I”. Itulah kenapa abjad “U” dan “W” juga ditempatkan di akrab “V” dan “G” di tengah-tengah sebab ada ikatan sejarah di baliknya. 
Terlepas itu semua, karakter-huruf ini tidaklah sombong sebab mereka tipikal orang yang tidak melupakan tugas orang lain yang berjasa dalam hidupnya. Sejak itulah kita mengenal 26 karakter latin dari A-Z seperti yang kita kenal mirip sekarang.
banner 336x280
Baca juga:  Source Code Php Metode Pakar Kerusakan Komputer Berbasis Web Dengan Ci
banner 120x600
  • Share