Hubungan Antar-Makna (Relasi Makna): Pengertian Sinonim, Antonim, Hiponim, Meronim Yang Tepat

Diposting pada
Sinonim yakni kata yang maknanya menyerupai atau sama dengan pasangan kata lain, contohnya kata ayah bersinonim dengan bapak.

Antonim yakni kata yang berlawanan maknanya dengan pasangan kata yang lain, menyerupai baik berlawanan maknanya dengan buruk.

Hiponim yakni kata yang mempunyai makna yang lebih sempit daripada makna generik yang merupakan superordinatnya, contohnya mawar dan melati merupakan hidpnim dari bunga.

Meronim atau korelasi bab yakni kata yang mempunyai korelasi dengan kata lain yang merupakan bab dari makna kata lain, contohnya kata jari merupakan meronim (bagian) dari tangan.
(Sumber: Sampul belakang Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, 2019)

Sering kita mengartikan segala sesuatu dengan asal-asalan. Maunya mempersingkat tetapi sering juga pengertian yang kita buat justru menyesatkan. Sinonim diartikan sebagai persamaan kata, sedangkan antonim diartikan sebagai lawan kata. Seharusnya dalam sinonim yang sama yakni maknanya, begitu pula dalam antonim, yang berlawanan yakni makna katanya.

Contoh kata indah bersinonim dengan bagus. Kedua kata tersebut yakni dua kata yang berbeda. Kedua kata tersebut tidak sama, namun yang mempunyai makna yang sama atau mirip. Makna dari elok yakni sesuatu yang indah, dan indah itu biasanya bagus.

Sementara itu, antonim kalau dimaknai sebagai lawan kata juga tidak sempurna alasannya tidak semua antonim tidak harus punya lawan (dalam hal kata). Dalam antonim yang berlawanan yakni maknanya.  Kata yang berantonim juga tidak hanya satu. Maksudnya, sebuah kata dapat berantonim dengan lebih dari satu kata. Misalnya kata besar berantonim dengan kecil. Luas berantonim sempit. baik berantonim buruk. 

Baca Juga: Sejarah Perkembangan Tesaurus Bahasa Indonesia

Ada pula antonim yang tidak pribadi berkebalikan 180 derajat. Misalnya kata merah berantonim dengan putih, biru, kuning, hijau, dst.  Kata manis berantonim dengan pahit, tetapi juga berantonim dengan masam, getir, tawar. Intinya antonim dapat dimaknai sabagai ‘yang tidak’. Misalnya baik antonimnya yakni ‘yang tidak baik’. Akan tetapi dalam mencari antonim dihentikan hanya menambah kata ‘tidak’. baik antoninmnya tidak baik. Ini bukan antonim, ini yakni penegasian.

Hiponim dapat juga dimaknai sabagai kata khusus. Misalnya melati dan mawar merupakan hiponim atau kata khusus dari bunga. Dalam hal ini bunga adalah kata umum (generik) atau dapat juga disebut dengan istilah hipernim. Jadi, hiponim mempunyai antonim hipernim.

Contoh lain dari meronim yakni mata meronim dari wajah. Segala sesuatu yang mempunyai makna bab disebut dengan meronim.