banner 728x250

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021: Saatnya Semua Orang Setara Dalam Kesehatan Jiwa

  • Share
banner 468x60

Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021: Saatnya Semua Orang Setara dalam Kesehatan Jiwa
Poster Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021 (dok. Kemenkes RI)

Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental. Begitulah kata David Satcher. 

banner 336x280

Itu artinya, kita belum dikatakan ‘sehat’ dalam arti sebetulnya jika cuma sehat secara fisik. Selama kita melibatkan perasaan serta emosi dalam menjalani kehidupan penduduk sehari-hari, kita juga mesti sehat secara mental. Bagaimana kita bisa mengurus fikiran dan emosi kita saat menghadapi dilema ialah kuncinya.

Betapa pentingnya persoalan kesehatan mental menjadi perhatian serius bagi WHO. Itulah kenapa setiap tanggal 10 Oktober semenjak tahun 1992 diperingati selaku Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. 

Khusus tahun ini, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia mengusung tema “Mental Health in an Unequal World”. Tujuan dari perayaan ini yaitu untuk meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat dunia akan kesehatan mental.

Sebagai negara yang tak terlepas dari problem kesehatan jiwa, Indonesia pun tak ketinggalan untuk berpartisipasi. Oleh sebab itu, pada 6 Oktober 2021 lalu Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Temu Bloger Hari Kesehatan Jiwa Sedunia secara daring. 

Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021: Saatnya Semua Orang Setara dalam Kesehatan Jiwa
Saya ketika menjadi peserta temu bloger Kemenkes RI dalam rangka merayakan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (dokpri)

Di Indonesia, masalah kesehatan jiwa jadi dilema yang tak mampu dibiarkan, terlebih pada era pandemi mirip sekarang. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 memperlihatkan bahwa lebih dari 19 juta masyarakatberusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional dan lebih dari 12 juta masyarakatberusia lebih dari 15 tahun mengalami stress.

Sementara Sistem Registrasi Sampel yang dilakukan oleh Badan Litbangkes tahun 2016 mencatat bahwa setiap tahunnya sebanyak 1.800 orang atau setara dengan 5 orang per hari melaksanakan langkah-langkah bunuh diri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 47,7% di antaranya yaitu usia 10-39 tahun.

Baca juga:  Berapa Ongkos Perbaikan Layar Samsung Galaxy S10+ Yang Rusak ?

4 Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia

Berdasarkan paparan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr. Celestinus Eigya Munthe, ada berbagai permasalahan kesehatan jiwa di Indonesia. Inilah beberapa di antaranya:

Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021: Saatnya Semua Orang Setara dalam Kesehatan Jiwa
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr. Celestinus Eigya Munthe saat menawarkan penjelasan di Temu Blogger pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (dokpri)

1. Prevalensi Tinggi

Prevalensi tinggi jadi penyebab utama kenapa persoalan kesehatan masih belum bisa dilepaskan di Indonesia. Berdasarkan data, 1 dari 5 penduduk atau sekitar 20% populasi di Indonesia mempunyai potensi gangguan jiwa.

2. Terbatasnya Sarana dan Prasarana

Selain soal prevalensi, duduk perkara kesehatan jiwa di tanah air juga disebabkan alasannya adalah fasilitas dan prasarana yang terbatas. Belum semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa. Akibatnya, tidak siapa pun dengan masalah gangguan jiwa mendapatkan pengobatan yang semestinya. 

3. Minimnya SDM Profesional

Tingginya beban balasan masalah gangguan jiwa juga menjadi kesenjangan lainya. SDM profesional untuk tenaga kesehatan jiwa juga masih sangat minim. Satu psikiater di Indonesia harus melayani sekitar 250 ribu penduduk.

“Masalah sumber daya insan profesional untuk tenaga kesehatan jiwa juga masih sungguh kurang, sebab hingga hari ini jumlah psikiater sebagai tenaga profesional untuk pelayanan kesehatan jiwa kita hanya mempunyai 1.053 orang,” jelas Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr. Celestinus Eigya Munthe.

4. Stigma dan Diskriminasi dari Masyarakat

Meski zaman telah semakin terbaru dan wawasan mampu diakses dimana-mana, tak bisa disangkal bahwa masalah kesehatan jiwa di Indonesia masih terkendala stigma dan diskriminasi. Jika ada seseorang yang mengalami problem kejiwaan, masih banyak orang yang memandang negatif. 

Baca juga:  Download Perangkat Pembelajaran K13 Matematika Smp Kelas 7

Hal ini perlu segera tertuntaskan. Jika tidak, seseorang yang berurusan pada kejiwaannya jadi segan untuk mencari penyelesaian alasannya takut dianggap negatif sehingga dikhawatirkan akan menjadi bom waktu sebuah hari nanti.

“Kita sadari bahwa hingga hari ini kita mengupayakan suatu edukasi terhadap penduduk dan tenaga profesional lainnya supaya mampu menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan jiwa, serta pemenuhan hak asasi insan terhadap orang dengan gangguan jiwa,” tutur Celestinus.

Ayo Bantu yang Bisa Kita Lakukan!

Meski masalah kesehatan jiwa adalah dilema global yang terkesan cuma bisa dikerjakan oleh pemerintah dan orang profesional, bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai masyarakat, kita juga bisa turut andil lho. Mungkin memang tidak dalam ruang lingkup yang besar, namun setidaknya kita mampu menolong merenggangkan masalah yang dialami oleh orang di sekeliling kita. Minimal 1 orang saja.

Dr. Indria Laksmi Gamayanti dari Ikatan Psikologi Klinis Indonesia menerangkan bahwa cara termudah mengatasi problem ini selaku penduduk yakni dengan memperlihatkan bantuan psikologis permulaan. Dukungan psikologis permulaan ini berisikan 6 kegiatan yang saling bersinergi satu sama lain ialah melihat, mendengar, menenangkan, menghubungkan, melindungi dan membangun keinginan.

Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021: Saatnya Semua Orang Setara dalam Kesehatan Jiwa
Dr. Indria Laksmi ketika memaparkan klarifikasi di Temu Blogger tentang Kesehatan Jiwa (dokpri)
Lihat – Lihatlah orang-orang di sekitar kita. Adakah di antara mereka yang mengalami persoalan kejiwaan dan memerlukan dukungan? Jika ada, dekati dan rangkullah mereka.

Dengar – Dengarkan keluh kesah mereka. Kita mungkin belum tentu bisa menuntaskan masalah orang tersebut. Namun setidaknya, dengan menjadi pendengar yang bagus, kita dapat mengendorkan beban yang dihadapi dan menginformasikan bahwa orang itu tidak sendiri.

Tenangkan – Tenangkan orang yang sedang mengalami dilema kejiwaan. Berilah pengertian bahwa kita hadir dan berusaha untuk mendampingi dia dalam menghadapi dilema.

Baca juga:  Acuan Format Peraturan Akademik Sd/ Smp/ Sma, Download Format Doc

Hubungkan – Hubungkan orang yang sedang mengalami persoalan kejiwaan dengan tenaga profesional atau kegiatan yang dapat menghemat tekanan mental.

Lindungi – Lindungi orang yang sedang mengalami masalah kejiwaan dari hal-hal yang dapat mengancam nyawa.

Bangun Harapan – Bangun keinginan pada orang yang sedang mengalami dilema kejiwaan bahwa beliau bisa lebih baik lagi suatu hari nanti.

Menghadapi era pandemi yang serba sukar seperti kini memang tidak mudah. Masalah kejiwaan jadi taruhannya alasannya tanda-tanda stres, kecemasan sampai stress baik alasannya adalah masalah kesehatan ataupun ekonomi menjadi risiko psikologis yang tak dapat disingkirkan. 

Tak apa, itu manusiawi sebab masalah dalam hidup niscaya akan selalu ada. Yang paling penting bagaimana kita bijak dalam menghadapinya.

Akhir kata, saya berharap semoga kian banyak orang yang sadar akan pentingnya kesehatan jiwa dalam hidup. Semoga perayaan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini jadi saat-saat bagi kita untuk terus meningkatkan problem kesehatan jiwa karena pada dasarnya semua kesehatan jiwa

banner 336x280
banner 120x600
  • Share