Cerita Untuk Pramuka Siaga : Kancil & Buaya

Diposting pada

Pengantar

Kancil dan buaya merupakan salah satu dongeng hewan (fable) yang sangat popular  dan digemari anak-anak.  Fabel Kancil & Buaya yang berasal dari tradisi mulut mayarakat tradisional  memang mempunyai banyak versi dan mempunyai kelenturan untuk dikembangkan oleh para pendongeng  baik dari sisi alur, suasana, obrolan dan karakterisasi tokoh. Oleh alasannya ialah itu para Pembina Siaga bisa memanfaatkan Fabel ini dengan penuh improvisasi untuk membangun minat dan perhatian serta menghindarkan para siaga bosan lantaran pernah mendengar dongeng ini. Meski terbuka untuk improvisasi, dalam fabel ada yang tidak  berubah yaitu maksud dan kandungan nilai-nilainya.

Kandungan Nilai

  • Alam itu indah dan sumber kehidupan maka harus dijaga bersama-sama
  • Kehormatan  harus diraih dengan pengorbanan, kemauan membantu dan menghormati sesama
  • Kecerdikan & rendah hati bisa mengalahkan ketamakan & kesombongan, dll

Korelasi dengan Area Pengembangan Pramuka Siaga

  • Kegiatan mendongeng ini mayoritas membuatkan area kecerdasan  sosial  terutama dalam membangun kesadaran pentingnya menghargai, menghormati dan menjaga persahabatan (social respect).
  • Kegiata mendongen ini juga mayoritas membuatkan kecerdasan emosional terutama dalam membangun kesadaran  bahwa membahagiakan orang lain ialah juga membahagiakan diri sendiri.
  • Kegiatan mendongeng ini sanggup pula membuatkan kecerdasan intelektual terutama  dalam segmen kegiatan  mengungkapkan dan memperlihatkan tanggapan. Untuk sanggup memperlihatkan tanggapan para siaga secara tidak sadar dilatih untuk berkonsentrasi, melaksanakan proses analisis dan menyimpulkan.
  • Kegiatan mendongeng ini sanggup pula dipakai untuk membuatkan area kecerdasan spiritual dengan cara para Pembina lebih mayoritas dan memperlihatkan deskripsi khusus perihal indahnya semua ciptaan Tuhan di bumi ini dan kiprah mahluk Nya untuk merawat dan memanfaatkannya dengan penuh tanggungjawab.

Materi Pendukung

  • Alat yang dibutuhkan  : boneka,  gambar-gambar hutan yang indah, gambar sungai, sound system dan audio player (CD, HP, Laptop, dsb)
  • Karakter        :  Kancil cerdik, bijak dan setia kawan. Buaya  tamak & sombong
  • Teknik           :  narasi, dramatisasi (dialog), nyanyian
  • Sound effect  :  athmosphere hutan (suara burung-burung, angina semilir), bunyi sungai, dll.

Persiapan :
Para siaga setelah upacara pembukaan bersama Bunda dan Bucik duduk di bawah pohon. Bucik mengajak bernyanyi dan bermain tepuk tanga untuk mencairkan suasana. Kemudian Bunda menyapa para siaga.
Bunda        :  “Siaagaaaa …..”                
Para Siaga  :  “Siaapppppp ……” 
Bunda        :   Siaga yang super …. Kali ini Bunda ingin membawakan dongeng kisah Kancil dan
                       Buaya.  Siapa yang tahu hewan Kancil … (para siaga menjawab dengan riuh
                       rendah), siapa yang tahu buaya ……… (para siaga menjawab) 

Pelaksanaan.
(Pada dikala Bunda dengan para siaga sedang ramai  membicarakan tentang  apa itu kancil dan apa itu buaya –  Bu Cik, tiba-tiba memutar  bunyi athmosphere hutan yang berisi kicauan burung, bunyi air, bunyi hewan yang sangat indah. Suara imbas berhenti ketika Bunda sudah mulai mendongeng).

Bunda   (Narasi dengan alat bantu gambar hutan yang indah) :
“Para Siaga …………..  Dahulu kala di sebuah hutan yang indah, rindang dengan pepohonan, air yang jernih melimpah, hiduplah banyak hewan ibarat kancil, banteng, rusa, …..”  (dst … Bunda membuktikan gambar-gambar hewan dan para siaga akan  menjawab dengan lantang nama hewan yang gambarnya ditunjukan oleh Bunda satu persatu).

Bunda melanjutkan (Narasi tanpa alat bantu gambar):

“Semua hewan itu hidup di hutan dengan rukun, tenang dan tolong menolong” – ibarat para Siaga Bunda … bukan – Betul Bunda … jawab Para Siaga …. Bunda melanjutkan narasinya : “Kancil  ialah hewan yang cerdik, pintar dan suka menolong. Banyak hewan yang tiba minta tolong dan nasehat, Kancil dengan senang hati tanpa pamrih memperlihatkan pertolongan. Karena sifat baiknya itu, Kancil  diangkat menjadi pemimpin dan sangat dicintai oleh binatang-bintang lain di hutan itu”

Bunda melanjutkan (narasi dengan alat bantu  Boneka kancil dan rusa)

“Di suatu sore yang indah … Kancil sedang berjalan santai ditengah hutan (Boneka Kancil – diperagakan ibarat sedang berajalan), bertemulah Kancil dengan sekerumunan rusa yang sedang bermain :

Bunda  (Dialog dengan membedakan antara bunyi kancil dan rusa)   
Kancil      :   “Sahabat-sahabatku rusa yang super ….. apakabar sore ini”
Rusa         :   “Kabar kami baik Kancil, masakan tidak kurang lantaran hutan ini subur,
                      udara juga higienis lantaran tidak ada polusi, pohon-pohon besar membikin hutan
                      ini juga teduh”
Kancil      :   “Ya betul kawan-kawan, hutan kan ciptaan Tuhan yang harus kita rawat.
                     Terus kalian sedang ngapain sore-sore begini berkumpul ….”
Rusa        :    “Kami akan bermain, bergembira,  bernyanyi, bertepuk tangan dan menari – bersahabat,
                     mencar ilmu sambil bersenang-senang.  Ayo dong Kancil ikut sebentar bernyanyi bersama
                     kami …”
Kancil     :    “Oh ya ya ya, saya juga suka bernyanyi … kalian akan bernyanyi apa ?”   
Rusa        :    “Di sini senang, Di sana Senang ….  Kancil” jawab rusa dengan halus.. 

Bunda  (Narasi  dengan nada riang)

Rusa memanggil teman-temannya : “Ayo teman-teman kita bernyanyi bersama Kancil yang baik hati ……”  Teman-teman rusa tiba berkumpul dan lalu mereka bernyanyi bersama Kancil.

(Bunda lalu mengajak para Siaga bernyanyi) “Apakah para siaga disini juga mau bernanyi bersama kancil dan rusa …?   : Mau Bunda – jawab para siaga. (Bunda memainkan boneka kancil dan rusa di tangan seperti bernyanyi bersama para siaga)

Bunda  (Narasi – tanpa alat peraga ) :

“Setelah kancil puas menemani bermain para rusa, Kancil pun meras haus dan pergi ke sungai untuk minum. Sesampai di sungai kancil minum sepuas-puasnya. Kancil melihat ke sebarang sungai, lalu ia bergumam dalam hati : alangkah baiknya jikalau saya bisa menyebarang ya, di seberang sana rumputya segar-segar dan buahnya matang-matang. Kancilpun melamun. Di tengah lamunannya tiba-tiba kancil merasa kakinya ada yang menggigit ”

Bunda (Dialog dengan membedakan antara bunyi kancil dan buaya)

Kanci     :  “Siapakah gerangan, yang sedang menemaniku minum di sungai  –
                  Tahukan kau … bahwa yang Kau gigit ialah sebatang bambu …”,
                   kata kancil dengan lembut, berilmu bersiasat. 

Bunda (Narasi dengan intonasi dan lagu bahasa yang bisa membangun suasana tegang) :

Kancil yang berilmu berusaha menyelamatkan dirinya dari hewan yang menggigitnya. Tidak usang gigitan itu lepas dan kancilpun seketika melompak ke pinggir sungai ….. hup.  Tidak usang lalu seekor buaya besar muncul ke permukaan sungai dan kancil sudah menduga jikalau yang menggingit kakinya tadi ialah buaya yang nakal.

Bunda (melanjutkan dialog) :
Kancil     :  “Oh … kau buaya …. Kenapa tadi kau gigit kakiku …..”
Buaya     :   “ Makara …. Makara …. Jadi, yang tadi saya gigit itu benar-benar kakimu,
                    kenapa saya lepas … aduh rugi saya. Heh Kancil, kenapa tadi kau bohongi aku
                    jikalau yang saya gigit itu bambu …”. kata si buaya marah.
Kancil     :  “oooooo …. Makara kau buaya,  benar-benar mau memakan saya ya …
                   saya kan sahabatmu buaya … saya kan sering menolong kau ….  (kata si Kancil
                   tetap dengan lemah lembut menasehati)
Buaya     :  “Tidak peduli kancil, saya sedang lapar …. saya harus makan  …
                   siapa saja harus saya makan, semoga sahabatku sekalipun yang penting saya senang,
                   saya kenyang …..”  jawab buaya dengan sombong.
Kancil    :  “Hei buaya,  dilarang ibarat itu, itu namanya perilaku tamak, perilaku sombong,
                   perilaku mau menang sendiri. Tuhan tidak senang dan kau akan kehilangan kawan.
                   Hei … buaya,  tahukah kau jikalau saya utusan Nabi Sulaeman …” jawab kancil
                   dengan cerdik.
Buaya     :  “Ohh, maaf, maaf Kancil. saya tahu. semua hewan takut dengan Nabi Sualeman”
Kancil     : “Nah kau tahu nggak, jikalau saya ke sini disuruh Nabi Sulaeman untuk menghitung
                   jumlah buaya yang ada di sungai ini … lantaran Nabi Sulaeman yang  baik budinya itu
                   akan memberi hadiah kepada kalian semua”

Bunda (Narasi – dengan intonasi untuk menurunkan tensi ketegangan)

Mendengar klarifikasi Kancil, si Buaya amat senang lantaran akan sanggup hadiah. Maka si buaya itu atas perintah kancil mengumpulkan semua teman-temannya. Setelah berkumpul kancil menyuruh seluruh buaya berbaris hingga membentuk barisan ibarat jembatan dari satu tepi sungai ke tepi sungai lainnya”.

Kancil  : “Bagus Kalian sudah berbaris dengan rapi … kini saya akan mulai menghitung”

Bunda (Narasi dengan lagu bahasa yang ceria dan lucu)

Kancilpun mulai menghitung buaya satu-persatu, dengan cara menginjaknya.  Kalau pas hingga dibuaya yang besar dan bandel maka kancil akan menginjak kepala buaya dengan sedikit keras – hingga si buaya kesakitan. Kalau buaya itu kecil dan baik hati maka kancil akan menginjak bab punggungnya dengan pelan dan hati-hati.  Setelah semua dihitung, sampailan kancil di seberang sungai dan melompatlan ia ke atas tebing ….. hup  … lalu kancil berteriak lantang …..

Kancil     :  “Hei … buaya, terimkasih ya kalian telah menyeberangkan saya – saya tidak perlu
                  susah payah berenang ….. kini saya mau makan rumput yang hijau”
Buaya     : “Kancil ….. apa maksudnya kamu, kau membohongi kami semua ya …”
Kancil    :  “hahaha, buaya-buaya … kenapa engkau begitu tamak dan sombong, tubuhmu yang
                  besar dan berpengaruh ternyata menyebabkan engkau tidak setia kawan. Aku yang sahabat
                  baikmu juga akan kau makan bagaimana dengan hewan lain. Sekarang saya puas
                  bisa memberi pelajaran kepada kamu”

Bunda Narasi (Narasi dengan lagu bahasa yang ceria lantaran happy ending):

” … Kancilpun berlari meninggalkan sungai dan menuju tengah hutan untuk memetik buah dan memakan rerumputan segar. Sementara si Buaya yang tadi akan memakan kancil, dieksekusi oleh teman-temanya lantaran merasa dibohongi ….”.

Akhir Cerita

  • Ketika bunda selesai cerita- Bu Cik eksklusif memutar lagu besar hati sesuai dengan tema dongeng di atas. Selesai lagu, Bunda dan Bucik memberi kesempatan para siaga  untuk diskusi menanggapi dongeng di atas di barung masing-masing dan menuliskan balasannya di atas karton. Tanggapan hendaknya dalam kalimat pendek-pendek saja.
  • Bunda dan Bucik memberi kesempatan setiap barung untuk mempresentasikan hasil diskusinya sekaligus sebagai media belajar  “berbicara di depan umum”
  • Bunda mengakhiri kegiatannya dongengnya dengan memperlihatkan kesimpulan perihal kandungan nilai dan apa yang bisa diteladani, serta memperlihatkan hadiah kepada tiap barung atas hasil diskusinya yang sangat super.
Kegiatan selesai.



Catatan :
Format di atas ialah sebuah pola mengemas fabel menjadi media latihan para Pramuka Siaga. Bunda/Yanda, Pak Cik/Bu Cik sanggup membuatkan lebih baik lagi dan memakai cara pengemasan di atas untuk fabel atau dongeng-dongeng lainnya. Selamat memandu.
Lihat topik/entri terkait :
Sumber :
Diadaptasi dari aneka macam sumber ibarat : buku, jurnal ilmaih dan media online untuk kepentingan Ensiklopedia Pramuka.
‘aiw.