banner 728x250

Buktikan Rasa Sayangmu Pada Keluarga Dengan Tidak Mudik Idul Fitri 2020!

  • Share
banner 468x60

Karena enggak mudik idul fitri 2020, bukan selesai dari segalanya —Valka (2k20)

Pulang ke kampung halaman ketika hari raya datang yakni momen yang dinanti-nanti bagi setiap perantau. Apalagi jika kita masih punya orang bau tanah dan kita telah usang enggak pulang, tentu pulang kampung menjadi momen yang berkesan. Enggak kebayang deh betapa bahagianya kita ketika dapat berkumpul dengan orang-orang yang kita kasihi di hari istimewa.

banner 336x280

Gue sendiri juga bahagia dikala pulang kampung. Terakhir kali gue mudik idul fitri bareng keluarga ke kampung halaman bapak di Purworejo pada 2008.

Setelah itu gue sekeluarga baru pulang kampung 1 dekade kemudian. Itu pun bukan pulang kampung lebaran sebab berjalan pada final Desember 2019. Di ketika ada orang yang berpendapat bahwa mudik itu harus dilaksanakan setiap idul fitri, keluarga gue justru berpendapat bahwa mudik itu enggak mesti setiap tahun dan enggak harus dikala idul fitri.

Foto bersama keluarga di Candi Borobudur saat momen pulang kampung pada Desember 2019 (dokpri)
Ngomongin perihal idul fitri, sayangnya lebaran tahun ini akan menjadi idul fitri yang berlawanan daripada idul fitri-lebaran sebelumnya. Merebaknya virus covid-19 ke aneka macam penjuru dunia, termasuk Indonesia menjadi alasan terutama. 
Para matematikawan yang tergabung dalam Alumni Departemen Matematika Universitas Indonesia memperkirakan bahwa pandemi covid-19 akan meraih puncaknya di Indonesia pada 16 April 2020 dengan akumulasi masalah konkret sebanyak 17.000 kasus. Adapun penyebarannya diperkirakan rampung pada Mei sampai Juni 2020. Itu artinya, hingga hari raya lebaran nanti, virus covid-19 masih menghantui kita lho! Wow!
Oleh alasannya adalah itu, bagi yang berencana untuk mudik idul fitri tahun ini, lebih baik ditunda dahulu ya. Kangen sih kangen. Tapi bila kita emang sayang dengan keluarga kita di kampung utamanya orang tua, mending jangan mudik dahulu deh. Buktikan sayangmu dengan tidak pulang kampung dan tidak piknik pada idul fitri 2020 nanti. Selain ngikutin anjuran pemerintah, ini juga merupakan bentuk kesadaran kita untuk meminialisir penyebaran si ovid-19.
Bukan apa-apa nih. Soalnya ada 5 risiko yang bakal kita hadapi jika kita tetap nekad memutuskan buat mudik idul fitri tahun ini. 
5 risiko kalau kita tetap mudik. Yakin tetap mau mudik?

1. Tertular saat perjalanan

Ini dia risiko pertama yang bakal kita hadapi bila kita tetap memaksakan diri buat mudik. Ya, terlebih bila bukan tertular saat perjalanan.

Kita mungkin merasa sehat-sehat aja sebelum dan ketika melaksanakan perjalanan. Tapi kita juga enggak mampu menentukan apakah kita akan bebas dari penularan si corona dikala perjalanan atau enggak. Soalnya corona tuh main anggun banget. Kita bisa tertular tanpa mencicipi gejala sama sekali dan kita juga enggak tahu pas kapan dan dimana kita tertular.

Apalagi covid-19 itu menyebar karena tingginya mobilitas manusia. Nah, periode-abad mudik ialah puncaknya sebab di saat itulah puluhan juta orang dari kota-kota besar pulang ke kampung halamannya masing-masing. Kita pun juga bakal bertemu dengan banyak orang yang tidak kita pahami darimana saja mereka berpergian. Bukan enggak mungkin salah satu di antara mereka ada yang terkena corona.

Kalau ada kacamata gila yang mampu menyaksikan virus sih lezat ya. Kita jadi bisa melihat corona nempel dimana dan siapa-siapa aja yang sedang terjangkit corona sehingga kita bisa menghindar dikala melihat si corona. Tapi kan kenyataannya virus enggak mampu dilihat.
Kalau mampu sembuh dengan sendirinya dalam waktu yang cepat sih alhamdulillah, namun kalau nantinya jadi parah? Bukan nakut-nakutin sih, tetapi percaya mau tertular corona saat mudik?

2. Menularkan penyakit ke keluarga di kampung

Selain tertular oleh virus covid-19, risiko selanjutnya yaitu kita juga berpotensi menularkan penyakit ke keluarga dan sanak kerabat di kampung, entah itu kakak, adik, paman, tante atau bahkan orang renta sendiri.

Kita mungkin merasa sehat-sehat aja saat sampai di kampung halaman alasannya tidak mengalami tanda-tanda sama sekali. Tapi gimana bila ternyata kita tertular corona dan tanpa disadari kita turut menularkan virus tersebut ke orang-orang yang kita sayangi?

Jangan sampai kita menjadi carrier untuk keluarga dan sanak kerabat kita di kampung

Apalagi jika yang tertular ialah orang bau tanah sendiri. Emang kita enggak kasihan? Amit-amit deh jangan sampe.

Bagaimana juga bila yang tertular enggak cuma satu orang aja, tetapi banyak? Enggak mungkin kan kita tega nularin ke mereka?

3. Berstatus ODP wajib karantina 14 hari dan kembali ke perantauan ODP lagi 14 hari

Baiklah, kita mungkin emang merasa bahwa kita enggak terjangkit virus dan enggak menularkannya sama sekali ke orang lain. Tapi sebab kita melakukan mobilitas di tengah-tengah pandemi covid-19, maka kita pun akan berstatus ODP (Orang Dalam Pemantauan) untuk memastikan apakah dalam waktu 14 hari kita sungguh-sungguh terbebas dari covid-19 atau tidak. Gimana pun kan kita bukan cenayang meskipun kita merasa sehat-sehat aja.

Namanya pulang kampung niscaya kita enggak pengen di rumah aja dong. Kita pasti juga pengen bersilaturahmi ke tetangga dan saudara dan bahkan liburan. Tapi karena kita ialah ODP, maka kita wajib melaksanakan karantina selama 14 hari ketika berada di kampung halaman. Jadi kita juga enggak bisa ngapa-ngapain meski udah pulang kampung.

Sayangnya, status ODP ini enggak cuman berlaku saat kita hingga di kampung halaman aja loh. Tapi juga berlaku ketika kita kembali ke kota rantau. Itu artinya, kita juga wajib karantina diri selama 14 hari ketika tiba di kota perantauan. Wow!

Pas pulang kampung, kita wajib karantina 14 hari. Pas balik, wajib karantina 14 hari. Terus buat apa maksain diri buat pulang kampung kalau ujung-ujungnya kita mesti karantina 14 hari? 

4. Jika terinfeksi, fasilitas kesehatan di kawasan belum tentu memadai

Fasilitas setiap daerah di Indonesia belum merata. Ada kawasan yang telah manis dan berkualitas, tetapi ada pula yang masih kurang.
Kalau fasilitasnya sudah oke sih manis. Namun jika kemudahan kesehatannya belum memadai, pasti menjadi kegelisahan kalau amit-amit terinfeksi corona ketika pulang kampung nanti. Apalagi jika kampung halaman kita tidak berada di kota atau jauh dari pusat kota.
Dengan tidak pulang kampung dan tidak piknik pada lebaran 2020, kita pun turut berperan dalam meminimalkan beban kerja para tenaga medis
Nah, ketimbang menambah beban kerja petugas medis di kawasan kalau terinfeksi, lebih baik memang tidak pulang kampung dan tidak piknik dahulu idul fitri 2020. Bagi tenaga medis, bertambahnya satu pasien itu bermakna sehingga makin sedikit pasien, semakin baik.

5. Ngerepotin orang lain!

Risiko terakhir yang penting untuk kita perhatikan jika kita tetep nekad buat pulkam ialah, kita mampu ngerepotin orang lain! Enggak hanya bikin orang renta bakal khawatir saja, tetapi juga anggota keluarga yang lain atau bahkan tetangga di kampung sendiri.
Tak bisa dipungkiri, setiap orang pasti memerlukan orang lain ketika ia jatuh sakit. Enggak cuma dari segi materi, namun juga dari sisi sumbangan moril. Begitu pun kalau ada yang terjangkit corona. Mudik semestinya jadi momen buat menyenangkan orang lain. Tapi kalau ujung-ujungnya ngerepotin, buat apa mudik?

Kalau kata Dilan tahun 2020, “Jangan mudik, berat. Di rumah aja.”, wah, gue baiklah banget. Bukan nakut-nakutin ye, tapi emang lebih baik menghalangi ketimbang mengobati. Gimana pun kita kan kagak bisa menyaksikan corona saking kecilnya.

Kata Dilan 2020 tentang mudik pada lebaran 2020

Bahkan Thanos yang punya kesanggupan kuat banget di jagat marvel universe aja juga kagak bisa lihat corona. Kaprikornus buktikan rasa sayangmu pada keluarga dengan tidak mudik dan tidak piknik pada hari raya Idul Fitri 1441 H nanti. Cukup di rumah/kosan aja deh. Demi keamanan, gue sekeluarga pun juga menetapkan untuk enggak mudik pada lebaran nanti.

Bahkan Thanos yang superpower di dunia Marvel Universe aja gak mampu lihat si corona. (dok. Marvel)

Kalau emang kita kangen dengan keluarga di kampung, jaman kan udah canggih. Kita bisa telponan atau vidcall-an sama mereka untuk melepas rindu.

Enggak pulang kampung pada idul fitri 2020 bukan selesai dari segalanya kok. Kita juga mampu tunda mudiknya di tahun 2021 atau bila emang kebelet pengen pulkam, kita bisa ambil cuti di selesai tahun buat mudik. Insyaallah selesai tahun 2020 keadaannya sudah lebih aman.

Dengan tidak pulang kampung dan tidak piknik, kita turut berperan dalam menyelamatkan banyak nyawa

Sederhana sih. Tapi percaya deh, dengan melaksanakan aksi tersebut kita pun turut berperan dalam menyelamatkan banyak nyawa di tengah-tengah pandemi covid-19 sehingga merealisasikan Indonesia yang lebih sehat. 

banner 336x280
Baca juga:  Sambut Hari Kanker Sedunia, Yuk Cegah Semenjak Dini Dan Berikan Dukunganmu Untuk Mereka!
banner 120x600
  • Share