Blunder Twit Akun @Ahokcenter

Diposting pada
Sebenarnya malam ini sudah mau tidur. Iseng-iseng membuka twitter. Tertarik dengan status salah satu akun pendukung calon Gubernur DKI, @AhokCenter. Pilihan kata yang dipakai kurang pas dan justru blunder.

Akan tetapi sebelum menjelaskan lebih lanjut, terlebih dulu saya jelaskan bahwa saya bukan partisan. Juga bukan warga Jakarta. Hanya tertarik saja membahas pilihan kata para tokoh di twitter. Ini hanya salah satunya. Bisa dicek yang lain di BAHASA TOKOH

Twit akun @AhokCenter yang berdasarkan saya blunder yaitu twit yang disertai foto Djarot Syaiful Hidayat. Twitnya berbunyi:

Jakarta perlu pemimpin “cap rakyat” bukan
“cap intelek” dan bukan pula “cap ningrat”
#BaDjaMerakyat

Blunder Akun @AhokCenter

Twit di atas diposting pada hari Minggu malam, 5 Februari 2019 sekitar pukul 20.45. Tentu maunya admin akun tersebut mendukung Ahok yang selama ini mengklaim merakyat. Sementara ‘Cap Intelek’ ditujukan kepada ‘Anies-Sandi’. Anies Baswedan punya latar belakang pendidik bahkan mantan rektor. Sementara ‘Cap Ningrat’ sanggup mengarah ke Pasangan Nomor 1, Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY yaitu putra mantan presiden.

Tetapi blundernya justru alasannya yaitu satu kata, yaitu: “cap”. Karena satu kata ini, yang awalnya dibangun positif sanggup bermetamorfosis negatif.

Kata cap dalam Kamus Besas Bahasa Indonesia Pusat Bahasa mempunyai tujuh arti. Penggunaan kata cap bisa bermakna negatif alasannya yaitu kata itu bernada tuduhan. Namanya saja tuduhan, maka kemungkinan besar hal itu tidak benar.

Misalnya kata cap dalam kalimat: Pada masa Orde Baru, Budiman Sujatmiko dicap sebagai perongrong negara. 

Penggeunaan kata cap dalam kalimat di atas mengandung arti tuduhan. Menandakan bahwa kata cap merupakan bentuk legitimasi kuasa dari penguasa untuk menuduh pihak lain.

Nah, penggunaan kata cap dalam kata cap rakyat yang dipakai oleh akun @AhokCenter sanggup dimaknai sebagai Ahok Cap Rakyat tapi bukan rakyat. Sama halnya dengan Budiman cap perongrong negara, padahal bukan.

Mungkin, pilihan kata yang sempurna yaitu cap ningrat. Memang, artinya ningrat yaitu bangsawan. Tetapi untuk menjadi pemimpin sebuah birokrasi memang tidak sempurna jikalau dipegang oleh orang yang dianggap atau bahkan bertindak ningrat. Bukannya melayani takutnya nanti malah minta dilayani.

Selain penggunaan kata cap. Kata yang juga sanggup memantik kontroversi yaitu kata intelek yang artinya terpelajar. Intelek tentu merujuk pada kata intelektual yang artinya mempunyai kecerdasan tinggi. Nah, antonim atau lawan kata intelek adalah (maaf) bodoh.

Pernyataan akun @AhokCenter justru menyebut bahwa Jakarta tidak membutuhkan pemimpin yang intelek, sedangkan terang itu yaitu akun milik pendukung Ahok. Jadi, kesimpulannya Ahok tidak intelek? Ahok bukan seorang intelektual? Berarti Ahok …..

Analisis ini merupakan analisis berdasarkan logika bahasa. Sekali lagi, ini bukan blog partisan yang mendukung atau membenci salah satu calon Gubernur DKI Jakarta. Toh selama ini kekuatan massa Ahok jauh lebih besar dari kedua penantangnya. Padahal didera banyak sekali kasus. Sekilas, kemungkinannya Ahok yaitu pemenang, entah satu atau dua putaran.

Kurang lebihnya minta maaf (lha koyok pidato ae…) Karena…. Kata tak pernah bohong, insan saja yang membuatnya kehilangan makna. Salam.