banner 728x250

Berkat Sosial Media, Kurasakan Imbas Positifnya Dalam 3M

  • Share
banner 468x60
 saya pernah tergabung di sebuah komunitas budaya Berkat Sosial Media, Kurasakan Dampak Positifnya dalam 3M
Ilustrasi media umum (dok. pixabay)

I.

Tahun 2013 saya pernah tergabung di sebuah komunitas budaya. Namun saya hanya aktif selama 1,5 tahun saja.

banner 336x280

Setelah tidak aktif lagi, saya kehilangan kontak dengan sahabat-teman yang ada di sana. Tiga tahun sesudah keluar, datang-datang seorang sobat di komunitas tersebut yang sudah lost contact dengan mengantarkan pesan. Ia menyapa saya lewat direct message instagram dengan isi kurang lebih berbunyi, “Halo Val, masih inget gue gak?”

***

II.

Saya suka berselancar di facebook. Saking sukanya, aku sering menuliskan aneka macam status, entah yang berkaitan dengan pengetahuan atau pengalaman di sana.

Hari-hari berjalan mirip biasa. Sampai pada akhirnya aku kaget sebab tiba-datang seseorang mengantarkan pesan ke aku yang isinya kurang lebih berbunyi, “Val, kau bisa ikut ke program X?”

*** 

III.

Saat akil balig cukup akal, saya pernah mengalami era yang menggebu-gebu. Saya punya keinginan dan berupaya ingin mewujudkannya. Namun saat menyaksikan pencapaian orang lain, tak jarang saya merasa insekyur sehingga berpendapat jangan-jangan aku bakal gagal mencapainya.

Tanpa disangka , seseorang mengirimkan kata-kata yang tidak saya fikirkan sebelumnya. Sejak itu saya sudut pandang saya jadi berubah.

***

Itulah tiga pengalaman saya terkait media umum. Dari apa yang aku alami, aku merasa bahwa media umum mempunyai aneka macam efek positif yang saya sebut sebagai 3M.

I. Menyatukan (silaturahmi)

Pertama, adalah menyatukan. Media sosial bermanfaat dalam menyatukan tali silaturahmi, dari yang semula renggang menjadi lebih lekat. Dari yang semula belum kenal, jadi saling mengenal.

Pada kisah I. aku bercerita bahwa saya pernah lost contact dengan sobat aku di suatu komunitas alasannya saya telah tidak aktif lagi di sana. Namun 2 tahun lalu, aku dengan teman aku tersebut sukses menjalin silaturahmi kembali padahal sebelumnya kami sempat kehilangan kabar satu sama lain.

Pertanyaannya, tahu darimana sahabat aku tentang kontak aku? Apakah ia mencari nama aku di instagram?

Baca juga:  Kumpulan 10 Source Code Acara Php Wacana Pendidikan Sekolah Berbasis Web

Ternyata, dia tahu akun IG saya berawal dari ketidaksengajaan menurut artikel IG feed sobat aku lainnya yang kebetulan melintas di beranda instagramnya. 

Jadi, tahun 2016 aku pernah jadi relawan di KPK untuk Indonesia International Book Fair 2016. Pada program penutupan, para relawan sempat berfoto bareng. Tata, teman relawan saya kebetulan mengunggah foto tersebut di IG feed dengan memberikan tag pada foto tersebut.

Tata mungkin cuma sekadar memosting foto saja dan tidak ada maksud lain. Namun tak disangka, postingan Tata di IG ternyata menjadi mediator yang menciptakan jalinan silaturahmi aku dengan Ka Oo, teman saya di komunitas terjalin kembali.

Hal itu dikarenakan Ka Oo dan Tata saling berteman di instagram. Saat ka Oo melihat foto Tata, dia mengenali bahwa ada aku di sana. Nah, dari situlah akibatnya beliau mengetahui akun IG aku sehingga menelepon aku lewat DM. Sejak itu, hubungan silaturahmi yang sempat terputus menyatu kembali.

Contoh yang aku alami terlihat sepele. Namun dari sini saya jadi sadar bahwa media sosial memegang peranan besar dalam menyatukan silaturahmi yang pernah terputus. Jangankan artikel diri sendiri, postingan orang lain di media umum ternyata mampu jadi perantara perkenalan atau bahkan penyatuan silaturahmi kembali yang sempat terputus.

II. Memperluas (rezeki)

Percayakah kamu bahwa media umum dapat bermanfaat selaku ajang untuk memperluas potensi rezeki? Sebagai orang yang pernah mengalaminya sendiri, saya amat percaya mirip yang sudah saya ceritakan pada poin II.

Saat aku berusia 18 tahun, saya pernah iseng-iseng menulis status dalam bahasa Inggris. Tidak ada maksud apapun, hanya mencurahkan opini dalam bahasa Inggris saja.

Tanpa saya sadari, status aku berbuah rezeki. Seorang pembina sebuah forum yang berteman dengan saya di facebook membaca status saya. 

Baca juga:  Tukar Sampah Mampu Asuransi, Ini Dia Terobosan Allianz Indonesia Jadi Green Insurance

Menilai bahwa saya bisa berbahasa Inggris, alhasil dia mengajak saya untuk ikut sebuah acara anak berukuran nasional. Kebetulan, dia sedang butuh cukup umur yang bisa berbahasa Inggris untuk mewakili DKI Jakarta.

Mendapatkan peluang langka untuk ikut serta di sebuah acara berskala nasional pasti tak bisa aku sia-siakan begitu saja. Alhasil, aku terima tawarannya.

Berpartisipasi di program berukuran nasional hanya gara-gara aku menulis status bukan satu-satunya potensi rezeki yang aku peroleh alasannya adalah aktif di media umum. 

Tahun 2019 saya juga pernah mengalaminya. Karena sering mengupdate link blog di facebook, seorang sobat facebook yang kebetulan senior aku memperlihatkan proyek kampanye sebuah merk masak yang melibatkan 400 partisipan. Karena nominalnya menggiurkan, jadinya aku mendapatkan anjuran tersebut.

III. Memperkaya (pengalaman, pengetahuan dan sudut pandang)

Dampak kasatmata selanjutnya yang aku rasakan selama aktif di sosial media yaitu sebagai pengguna, saya dapat memperkaya sudut pandang dan pengalaman saya jadi lebih beragam. Inilah yang saya ceritakan pada poin no. III. Hal ini akhirnya menciptakan saya jadi tidak mudah menghakimi dan lebih bijak dalam menyikapi sesuatu.

Saat sampaumur dan usia 20-an awal, saya sering mempertanyakan arti dari kesuksesan. Dengan segala kekurangan yang saya miliki, saya bahkan kadang kala insekyur begitu melihat pencapaian orang lain. Saya juga suka bertanya-tanya kepada diri aku sendiri, apakah saya bisa sukses? Bagaimana jikalau di abad depan saya ternyata gagal? Bagaimana kata orang jikalau saya tidak sukses?

Galau dan insekyur akan era depan diri sendiri, saya akhirnya mencurahkan apa yang aku rasakan di media umum. Namun pada kesudahannya seseorang memperkaya sudut pandang aku ihwal arti kesuksesan. Kak Ayu, sahabat aku yang berusia lebih bau tanah dari saya membalas status aku seperti ini:

Kesuksesan ialah tolak ukur diri orang lain. Kepuasan batin adalah tolak ukur diri sendiri.

Kata-kata yang kak Ayu ucapkan mungkin terlihat sepele. Namun pernyataan tersebut berhasil memperkaya sudut pandang saya ihwal arti keberhasilan. Saya jadi sadar bahwa aku tak perlu ngotot untuk melaksanakan sesuatu agar bisa berhasil karena pada akhirnya kesuksesan yakni tolak ukur orang lain. Dibanding memenuhi dosis keberhasilan berdasarkan orang lain, saya berpikir bahwa saya cuma perlu mengejar-ngejar kepuasan batin.

Di samping sudut pandang, saya merasa bahwa media umum juga berperan dalam memperkaya pengalaman dan pengetahuan. Berkat media umum Indozone misalnya, saya jadi tahu perihal update informasi-gosip terkini dan wawasan yang belum aku ketahui sebelumnya. 

Postingan di bawah ini contohnya. 

 saya pernah tergabung di sebuah komunitas budaya Berkat Sosial Media, Kurasakan Dampak Positifnya dalam 3M
Salah satu teladan postingan Indozone di media sosial yang memperkaya wawasan saya. (dok. Indozone)

Dari artikel yang dibagikan Indozone ini, aku jadi tahu telah terjadi sejarah gres dimana suatu drone berhasil mengantarkan sepasang paru-paru untuk transplantasi medis dengan menempuh jarak sejauh 1,5 km. Sejarah ini tercipta di Toronto, Kanada dengan penerimanya yaitu Alain Hodak (63 tahun), seorang insinyur dan penggemar drone.

Postingan di bawah ini juga tak kalah bermanfaatnya dalam memperkaya wawasan saya wacana update informasi terkini.

 saya pernah tergabung di sebuah komunitas budaya Berkat Sosial Media, Kurasakan Dampak Positifnya dalam 3M
Salah satu artikel Indozone yang memperkaya pengetahuan saya (dok. screenshot eksklusif)

Dari postingan sosial media Indozone yang satu ini, aku jadi tahu ihwal perkembangan terkini tentang apa yang terjadi di dunia. Meski masih pandemi, ternyata jamaah umrah tidak melaksanakan social distancing dikala melakukan ibadah di Mekkah.

***

Pada dasarnya, sosial media bagaikan dua segi mata uang. Di satu sisi memiliki dampak kasatmata, di segi lain mempunyai imbas negatif.

Dengan pesatnya kemajuan teknologi, tak mampu disangkal bahwa media umum turut menjinjing aneka macam pengaruh nyata dalam kehidupan. Sebagai penggunanya, tugas kita yakni bagaimana menggunakannya dengan bijak biar pengaruh positifnya mampu terasa optimal.

banner 336x280
banner 120x600
  • Share