banner 728x250

Bareng Bpom, Saatnya Jadi Generasi Milenial Yang Pintar Dalam Makan Sehat!

  • Share
banner 468x60

Yang suka berburu makanan dengan promo cashback mana suaranya??

Wah, pasti banyak dong. Bisa jadi kamu adalah salah satunya. Selain karena harganya jadi lebih murah, membeli masakan dengan harga promo mirip mengukir sebuah prestasi. Rasanya ada pujian tersendiri ketika kita bisa membeli kuliner dengan harga yang lebih irit.  Terlebih, di jaman kini kita dapat membeli kuliner dengan lebih praktis. Tinggal pesan di e-commerce atau via ojek online dan tunggu beberapa saat, duduk perkara lapar beres deh.
Kegiatan Ngobrol Asyik Bareng BPOM (dokpri)
Berburu kuliner dengan harga promo memang menggembirakan. Sebagai generasi milenial, tak bisa dibantah bahwa banyak dari kita yang melakukannya. Namun ternyata ada PR bersama nih yang mesti kita selesaikan. Sadarkah bahwa tidak semua kuliner yang kita beli itu menyehatkan dan bergizi untuk kita konsumsi?
Nah, dalam rangka mengembangkan kesadaran akan keamanan pangan di Indonesia terutama pada generasi milenial, untuk itulah Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) menyelenggarakan “Ngobrol Asyik Bareng Badan POM” pada Sabtu, 9 November 2019 di Mitra Terrace Kuningan, Jakarta. Kegiatan ini juga dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia (World Food Day) yang jatuh pada 16 Oktober dimana tahun ini mengangkat tema global “Our Actions are Our Future. Healthy Diets for a #zerohunger World”.
Turut hadir Kepala BPOM Penny K. Lukito, Deputy Food and Agriculture Organization (FAO) representatif Indonesia Ageng Heriyanto dan Guru Besar Teknologi Pangan IPB Purwiyatno Hariyadi selaku pembicara. Selain itu hadir pula ratusan akseptor generasi milenial yang berisikan bloger dan para pelajar dari 4 Sekolah Menengan Atas/Sekolah Menengah kejuruan di Jakarta.

banner 336x280
Menariknya, program ini tak cuman bincang-bincang kalem aja loh. Yang saya suka, ada pula kompetisi yel-yel perihal “Makan Sehat ala Generasi Cerdas” yang berjalan di permulaan acara. Wah, berdasarkan saya ini anggun banget alasannya dapat melatih kreativitas dan membangun kesadaran mereka untuk lebih peduli dalam menangani berita pangan dunia.
Penampilan salah satu perwakilan Sekolah Menengan Atas dalam kompetisi yel-yel wacana “Makan Cerdas ala Generasi Milenial”
Setelah kompetisi yel-yel, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Deputy Food and Agriculture Organization (FAO) representatif Indonesia Ageng Heriyanto.  Dalam sambutannya, Pak Ageng menekankan terhadap para pengunjung untuk membiasakan diri untuk makan sehat. 
Awalnya sih aku menerka bahwa jikalau makan sehat bermakna kita makan-makanan yang enggak enak. Misalnya seperti jus wortel, pare, daun pepaya, kangkung rebus dan sebagainya. Pokoknya yang rasanya pahit, masbodoh atau enggak yummy deh! Namun ternyata apa yang aku pertimbangkan salah dan enggak gitu juga. Haha.
Pak Ageng justru bilang bahwa kita enggak mesti makan kuliner yang enggak yummy untuk makan sehat. Tinggal makan saja salah satu dari bermacam-macam pangan setempat Indonesia seperti soto, rawon, ketoprak dan gado-gado, maka itu bermakna kita sudah makan lezat! Faktanya, makan sehat enggak bermakna kita enggak boleh makan-masakan yang kaya rasa. Sebaliknya, FAO justru menganjurkannya dan malah pengen kita membiasakan makan makanan setempat.
“Apakah kita dengan pangan sehat itu dihentikan makan enak? FAO selaku badan pangan dunia itu malah ingin mengiklankan seluruh pangan setempat yang ada di Indonesia utamanya dan seluruh dunia.” kata Ageng. 
Ageng Heriyanto dari FAO ketika memberikan pemaparan dalam program “Ngobrol Asyik Milenial Bersama BPOM” (dokpri)
Usai sambutan dari pihak FAO, program kemudian dilanjutkan dengan pemaparan bahan oleh Bu Penny K. Lukito. Dalam kesempatan ini Bu Penny menjelaskan perihal hal-hal apa saja yang menjadi faktor faktor keamanan. Nah, di sini saya baru tahu bahwa ada 3 faktor keselamatan pangan yang mesti kita perhatikan. Maklum, namanya makan ya makan aja. Saya enggak merhatiin apakah makanannya telah kondusif atau enggak.
Aspek keamanan pertama yaitu faktor kontaminasi. Pada faktor ini duduk perkara kadaluarsa dan kandungan berbahaya menjadi sorotan alasannya adalah mampu menyebabkan keracunan pada seorang. Sebagai pelanggan kadang kita abai akan hal ini. Beli ya beli aja. Padahal, mengamati higienitas dan kapan abad berlakunya habis itu penting untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan.
Baca juga:  Download Buku-Buku Pegangan, Panduan Evaluasi Hots Dan Pembelajaran Berbasis Zonasi
Hati-hati! Makanan yang kadaluarsa dan kurang higienis dapat menjadikan keracunan pada seseorang (dokpri)
Kedua, faktor stunting. Stunting alias kelemahan gizi pada anak menjadi poin selanjutnya karena stunting mampu kuat pada perkembangan anak ke depannya. Oleh karena itu, Bu Penny menghimbau kepada penduduk terutama ibu hamil untuk memperhatikan kondisi kesehatan dirinya dan anaknya dengan meminimalisir konsumsi masakan yang mengandung GGL alias Garam, Gula dan Lemak. 
Ketiga, aspek peredaran online. Seiring canggihnya teknologi, Bu Penny tak menampik bahwa perdagangan online menjadi tantangan tersendiri bagi BPOM dalam memantau peredaran kuliner dan obat-obatan. Faktanya, tidak semua konsumen teliti dalam berbelanja produk secara online dan jaman kini hoax tersebar dengan lebih mudah.
 
“Peredaran online ialah tantangan tersendiri bagi Badan POM. Satu, banyak kan itu obat-obatan yang dijual secara online, obat-obat keras lagi. Itu ancaman. Itu tantangan kita semua. Kemudian pangan olahan yang juga banyak dijual begitu saja tanpa melalui Badan Pengawas. Di satu segi juga yang dikaitkan dengan perdagangan online yaitu media umum yang rentan dengan hoax. Beredarnya berita-informasi yang tidak benar kemudian membuat orang dengan mudahnya yakin.” jelasnya.

Tips Makara Generasi Milenial yang Cerdas dalam Mengonsumsi Makanan

Masalah keselamatan pangan menjadi problem yang serius. Tak cuma bagi publik dunia, namun juga Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu melaksanakan cara untuk menyingkir dari hal-hal yang tidak dikehendaki. 
Namun kita enggak perlu khawatir alasannya dalam potensi kemarin Bu Penny dan Pak Purwitayno dari IPB menawarkan bocoran kiat-kiat agar kita mampu menjadi generasi milenial yang pintar dalam mengonsumsi masakan. Apa sajakah itu? Cekidot!
(dok. benallaensign.com.au)

1. Berpikir kritis. 

Ini beliau kiat pertama yang harus kita kerjakan. Yap, sebagai generasi milenial kita mesti berpikir kritis! Dengan rentannya hoax yang meningkat , jangan pribadi percaya terlebih eksklusif menyebarkannya ke orang lain begitu menerima berita perihal duduk perkara pangan. Sebagai generasi milenial kita harus jadi garda terdepan dalam upaya mencegah hoax yang ada. Filter berita yang beredar apalagi dahulu dengan contoh pikir 5W+1H. Jangan telan mentah-mentah dan carilah tumpuan.

2. Cek KLIK lewat aplikasi BPOM Mobile

Memfilter hoax sudah. Terus gimana jikalau kita mau memeriksa kepastian isu dari produk makanan atau obat-obatan yang akan kita beli, tergolong apakah produk yang mau kita beli sudah terdaftar di BPOM atau belum? Wah,  mudah banget! Tinggal di CEK KLIK saja!
Baca juga:  Cara Menciptakan Numbering List Atau Bullet List Bertingkat Di Blogger (How To Create Nested Numbering Or Bullet List In Blogger)

Cek KLIK yakni 4 langkah gampang yang dikampanyekan oleh BPOM untuk penduduk dalam menjadi pelanggan yang pintar.

Pertama, Cek Kemasan. Pastikan kemasan kuliner yang kita beli masih dalam keadaan baik. Kedua, Cek Label. Pastikan masakan yang mau kita konsumsi mempunyai kandungan yang bergizi. Ketiga, Cek Izin edar. Pastikan kuliner yang hendak kita beli terdaftar di BPOM. Terakhir, Cek Kadaluarsa. Pastikan masakan yang akan kita beli belum melampaui kurun waktu yang diputuskan.
  

Enggak perlu bingung lagi alasannya adalah kini sudah hadir aplikasi BPOM Mobile yang dibentuk untuk memudahkan kita dalam melaksanakan Cek Klik. Tinggal donlot saja aplikasinya secara gratis di aplikasi playstore, kita pun sudah selangkah lebih maju dalam menjadi generasi milenial yang pandai dalam mengonsumsi makanan.

3. Makan Secukupnya

Makan makanan yang lezat pastinya dibolehkan. Namun Pak Purwiyatno menghimbau terhadap kita semoga makan seperlunya dan tidak makan secara berlebihan. Dengan begitu, kita dapat mengurangi sampah yang berasal dari sisa makanan sehingga terwujudnya lingkungan yang minim sampah alias less waste. 

4. Konsumsi banyak vitamin dan serat

Ini beliau kiat terakhir yang diberikan oleh Pak Purwiyatno. Kita pastinya boleh mengonsumsi kuliner kontemporer mirip minuman bobba yang identik dengan generasi milenial. Namun jangan sampai  kita mengabaikan kandungan di dalamnya. Oleh sebab itu, tentukan makanan yang mengandung vitamin dan serat seperti buah-buahan ada dalam masakan wajib yang kita konsumsi sehari-hari.
Bu Penny bareng para pemenang kompetisi yel-yel antarSMA di Jakarta (dokpri)
Itulah beliau beberapa kiat dan pembahasan tentang makan sehat ala generasi cerdas. Dengan pembahasan dan tips-kiat tersebut, biar mampu memberi ide banyak generasi milenial untuk lebih peduli dan bergerak dalam berita pangan dunia khususnya di Indonesia. Jadi generasi milenial yang pintar bersamaBPOM, kenapa enggak?
banner 336x280
banner 120x600
  • Share