Aspek-Aspek Yang Perlu Diketahui Mengenai Zakat Fitrah

Diposting pada
aspek yang Perlu Diketahui mengenai Zakat Fitrah Aspek-aspek yang Perlu Diketahui mengenai Zakat Fitrah
Ilustrasi : http://www.sindotrijaya.com
Aspek-aspek yang Perlu Diketahui mengenai Zakat Fitrah | Zakat fitrah mulai diwajibkan pada tahun kedua Hijriah, tahun diwajibkannya puasa Ramadhan. Zakat fitrah bertujuan untuk mensucikan orang yang berpuasa dari ucapan kotor dan perbuatan yang tidak berguna, dan memberi masakan pada orang-orang miskin dan mencukupi kebutuhan mereka pada hari raya Idul Fitri.
Dasar Hukum Zakat Fitrah
Zakat fitrah didasarkan pada hadist yang diriwayatkan oleh Jamaah dari Abdullah bin Umar bin Khattab yang menyampaikan bahwa Rasulullah Saw. Mewajibkan zakat fitrah di bulan Ramadhan sebanyak satu Sha’ (dalam ukuran dosis = 2,340 kg) kurma atau satu sha’ gandum (kurma atau gandum sanggup dikiyaskan dengan masakan pokok tempat setempat menyerupai beras, jagung, dsb) bagi hamba sahaya dan orang merdeka, baik pria maupun perempuan, dan baik bagi anak kecil maupun orang dewasa.
Kapan Zakat Fitrah Diberikan?
Zakat fitrah diberikan kepada fakir miskin sebelum shalat Idul Fitri, zakat fitrah yang diberikan setelah shalat Idul Fitri bukan termasuk zakat fitrah, tetapi merupakan sedekah biasa.

8 Golongan yang Berhak Menerima Zakat

Q.S At-Taubah: 60. Menegaskan bahwa “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
Berdasarkan dalil di atas, maka terdapat 8 golongan orang yang berhak mendapatkan zakat, yaitu:
  1. Faqir, yaitu orang yang tidak punya harta dan kemampuan sama sekali untuk berusaha, atau memiliki harta dan kemampuan yang sangat terbatas, sehingga tidak sanggup memenuhi kebutuhannya beserta orang yang harus dibiayainya, sedangkan orang yang akan menjamin tidak ada.
  2. Miskin, yaitu orang yang memiliki kemampuan untuk berusaha, berbadan sehat dan tidak cacat, namun hasil usahanya tidak mencukupi untuk ia dan keluarga yang menjadi tanggungannya, sehingga ia butuh perotolongan dari orang lain.
  3. Amil, yaitu orang yang ditunjuk untuk mengurus atau mengumpulkan zakat, sedang ia tidak memperoleh honor atau upah selain dari pembagian zakat itu. Ia dihentikan ditunjuk dari kalangan orang kaya menyerupai diungkapkan dalam Hadist Abi Sa’id yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud.
  4. Muallafah qulubuhum, yaitu orang-orang yang sedang dibujuk hatinya, mereka dibujuk sebab mereka gres memeluk agama Islam sedang imannya belum teguh, atau sebab orang yang gres masuk Islam itu ialah orang yang besar pengaruhnya di kalangannya, maka diperlukan dengan memberinya zakat, orang lain dari kalangannya akan turut memeluk Islam.
  5. Ar-Riqab, yaitu hamba sahaya yang telah dijanjikan oleh tuannya bahwa ia boleh menebus dirinya dengan sejumlah uang yang telah ditentukan. Ia berhak mendapatkan pembagian zakat sebanyak jumlah yang dibutuhkan untuk menebus dirinya.
  6. Al-Gharimin, yaitu orang yang berhutang dan tidak bisa membayarnya, baik untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri, untuk kepentingan umum, atau sebab menjamin hutang orang lain sementara ia tidak sanggup melunasinya. Oleh sebab itu mereka berhak memperoleh pembagian zakat sekedar untuk melunasi hutang-hutangnnya tersebut.
  7. Fi-sabilillah, yaitu pada jalan Allah, maksudnya ialah balatentara yang ikut membantu peperangan dengan suka rela, tanpa honor tertentu yang diperlukan dari markas tentara. Dalam pengertian yang lebih luas, dimaknai sebagai setiap jalan yang menuju pada keridhaan Allah, yang menyangkut kemaslahatan umat muslim, menyerupai menciptakan jembatan, membangun masjid, sekolah, dan lain sebagainya.
  8. Ibnu as-sabil, yaitu orang yang sedang terlantar dalam perjalanan, yang membutuhkan pemberian untuk ongos melanjutkan perjalanan hingga pada tempat yang dituju, dengan syarat perjalanan bukan untuk maksiat, maka ia berhak memperoleh pembagian zakat.

Demikian pembahasan mengenai Aspek-aspek yang Perlu Diketahui mengenai Zakat Fitrah, agar sanggup bermanfaat.

Sumber rujukan: Syarafuddin, dkk. 2019. Studi Islam 2. Surakarta : LPID UMS. Hal 82-88.