banner 728x250

Alasan Kenapa Jangan Fotokopi Buku Pelajaran Sekolah Si Anak

  • Share
banner 468x60

Buku pelajaran merupakan aspek penunjang yang penting dalam proses belajar. Buku pelajaran diterbitkan oleh penerbit dan diciptakan oleh penulis buku atau penerbit buku tersebut. Apakah buku pelajaran sekolah boleh di fotokopi? Mengapa seharusnya kita larang anggota keluarga kita ketika ada yang hendak memfotokopi buku sekolah atau buku pelajaran? 

banner 336x280

Tujuan tidak fotokopi buku pelajaran sekolah

Tujuan melarang fotokopi semata-mata yaitu untuk mendidik anak atau anggota keluarga kita biar mereka mampu menghargai karya orang lain. Jangan di fotokopi namun belilah bukunya. Kalau kita fotokopi bukunya memiliki arti kita tidak menghargai penulis, layouter, editor, hingga semua pihak yang terjun dalam proses penerbitan buku tersebut.

Jika buku pelajarannya di fotocopy, maka sang pemilik karya tidak menerima apa-apa padahal dalam membuat bukunya perlu berpikir, butuh waktu, perlu biaya desain, biaya cetak dan ongkos lainnya.

  Buku pelajaran merupakan faktor pendukung yang penting dalam proses belajar Alasan Kenapa Jangan  Fotokopi Buku Pelajaran Sekolah Si Anak
Apakah buku pelajaran sekolah boleh difotokopi atau diperbanyak atau tidak

Bayangkan.
Penulis buku, toko buku, itu sama dengan kita, sama-sama mencari makan namun mereka mencari makannya dari menjual buku. Kalau kita tidak beli bukunya, mereka makan apa?

Bayangkan,
Kalau bawah umur kita, keluarga kita, kalau kita latih untuk pakai buku gratis saja (fotokopi buku pelajaran sekolah tanpa beli), bayangkan berapa ratus juta generasi baru yang tercipta dengan aliran “fotokopi aja bukunya gak usah beli”? Bayangkan akan hadir suatu abad di mana ada penduduk tidak bisa menghargai karya orang lain.

Dan coba bayangkan, diri kita selaku penulis,
Berharap buku kita laku terjual ternyata malah banyak di miliki orang namun versi fotokopinya alias tanpa beli.

Bagaimana jika saya kemarin-kemarin kadung fotokopi buku pelajaran sekolah?
Segeralah beli bukunya. Jadi pemilik karya tetap mendapatkan haknya. Jangan sampai di akhirat kita ditagih alasannya pakai gratis (fotokopi) dan tidak membeli karyanya / tidak menunjukkan haknya terhadap si pembuat buku.

Baca juga:  Cara Buat Kulit Glowing Dan Infinit Muda Dengan Bahan Alami Kunyit

Kalau saya beli bukunya tetapi si anak sudah naik kelas atau lulus bagaimana?
Bisa tetap beli bukunya dan berikan bukunya pada adik kelas anak kita, saudara atau siapa pun. Pertama, dengan melakukan hal tersebut maka hak penulis/pemilik karya tetap tetap tercukupi, dan yang kedua kita menerima amalan sedekah dengan memberi buku tersebut pada orang lain yang membutuhkan.

Kan jadi amal jariyah bagi si pemilik buku alasannya adalah kita pakai gratis di fotokopi bukunya?
Kembali pada niat si pemilik karya/pemilik bukunya apakah haknya tetap ditagih nanti di akhirat atau tidak bagi yang tidak membeli bukunya.

Karena biasanya ada di bagian bukunya tercantum dihentikan mengcopy atau memperbanyak buku tanpa izin atau silahkan hubungi si pemilik karya.

Isi hati orang tidak ada yang tahu selain si pemilik hati dengan Tuhan. Kita tidak tahu si pemilik karya atau buku apakah ada niat di hatinya untuk menyedekahkan atau merelakan bukunya di fotokopi atau tidak.

Contoh analogi buku yang di fotokopi tanpa izin dikatakan sepihak sebagai amal jariyah misalkan:
Anda punya barang, kemudian barang Anda diambil orang, kemudian orang yang mengambil barang tersebut menyampaikan secara sepihak bahwa Anda merelakan dan Anda akan menerima amal jariyah.
Dengan kata lain, orang mengambil hak Anda dan Anda malah dianggap oleh yang mengambil barang secara sepihak bahwa Anda mendapat amal jariyah.
Begitukah amal jariyah tidak beli buku dengan memfotokopi buku?

Daripada nanti si sidang alam baka ribet akan hal seperti ini, maka lebih kondusif belilah bukunya. Jangan di fotokopi. Jangan difotokopi tidak cuma berlaku pada buku pelajaran sekolah tetapi juga berlaku pada buku-buku lainnya.

banner 336x280
banner 120x600
  • Share