8 Inefisiensi (Wastes) Dalam Penerapan Lean Administrasi Rumah Sakit

Diposting pada

8 Inefisiensi Menurut Prinsip Lean Hospital – Rumah sakit sebagai penyedia jasa layanan kesehatan yang menerapkan sistem lean dalam aktivitasnya, dengan tujuan mengurangi inefisiensi yang terjadi dalam menyelenggarakan layanannya, baik itu berupa input maupun proses sehingga mendapatkan output yang memuaskan pelanggan dengan meminimalisir biaya.

Penerapan lean hospital melalui administrasi rumah sakit dengan mengidentifikasi acara maupun proses yang tidak bernilai (NVA) yang merupakan inefisiensi diusahakan dikurangi bahkan dihilangkan melalui acara perbaikan secara berkelanjutan dengan metode pelaksanaan lean. Pada penerapannya di rumah sakit, inefisiensi (waste) sanggup dikategorikan menjadi 8 waste atau pemborosan, serta membuat aktivitas maupun proses bernilai (VA).

8 Wastes Atau Inefisiensi Pada Pelaksanaan Lean Management Hospital

1. Waktu Berhenti Saat Pelayanan atau Halting

 Inefisiensi Menurut Prinsip Lean Hospital 8 Inefisiensi (Wastes) Dalam Penerapan Lean Manajemen Rumah Sakit

Pemberhentian terhadapa layanan di rumah sakit yang mengakibatkan terjadinya idle time atau waktu tunggu mengakibatkan produktivitas layanan akan terganggu. Halting sanggup ditemukan diberbagai layanan medis maupun menejerial ataupun administrative, respon yang usang serta tidak mempunyai standar dari batas maksimal waktu layanan, mengakibatkan terjadinya idle time pada proses layanan yang diberikan oleh rumah sakit.

Ketika halting dibiarkan dan tidak dilakukan penyelesaian terhadap hal ini, memungkinkan akan terjadinya penumpukan terhadap pelanggan yang mengharapkan layanan cepat dari rumah sakit, sehingga ketidakpuasan pelanggan terhadap layanan yang diberikan oleh rumah sakit akan membuat performance menurun serta tingkat kepercayaan costumer terhadap rumah sakit akan jauh berada pada level terendah dari tingkat kepuasanan.

Anda akan banyak menemukan hal ini terjadi pada layanan rumah sakit, dimana pasien harus banyak menghabiskan waktu melewati proses administrative maupun mekanisme untuk mendapatkan layanan rumah sakit. Perlu diketahui bahwa costumer tidak membayar untuk melewati mekanisme akan tatapi membayar untuk menerima alayanan dari rumah sakit supaya sanggup menyembuhkan serta menerima penanganan terhadap keluhannya.

2. Overproducing atau Produksi Yang Dilakukan Secara Berlebihan

Dalam acara rumah sakit, banyak terjadi pengulangan acara ataupun overproducing yang seharusnya hal tersebut tidak perlu. Mengulangi acara yang sama berkali-kali akan menyita waktu yang seharusnya hal ini tidak diperlukan. Dalam hal overproduce sanggup diambil pola menyerupai  menulis ulang identitas pasien di banyak formulir, melaksanakan investigasi yang tidak ada indikasi, tidak menyebarkan warta yang dibutuhkan oleh unit lain yang mengakibatkan unit lain melaksanakan acara yang sama dan bergotong-royong acara tersebut telah dilakukan oleh unit sebelumnya.
Anda sanggup membayangkan ketika satu acara yang sama dilakukan oleh setiap unit, berapa waktu atau lead time maupun cycle time yang dibutuhkan dalam menuntaskan serta mendapati layanan yang akan diberikan kepada pasien.

3. Slips

Slips merupakan kesalahan maupun mendekati kesalahan atau segala kesalahan yang dibentuk alasannya yakni  kurang konsentrasi, kurang terlatih, kerusakan teknis, dan lainnya yang mengakibatkan diperlukannya sebuah koreksi atau perbaikan yang memakan waktu.
Kesalahan-kesalahan ini jikalau disadari justru akan merugikan rumah sakit baik berupa waktu maupun cost dan lebih diperparah lagi justru akan membahayakan nyawa pasien. Slips ini bukan hanya terjadi pada layanan pengobatan maupun penanganan terhadap pasien dalam bidang medis akan tetapi juda sanggup terjadi pada  administratif.

Slips sanggup terjadi kerena beberapa faktor menyerupai kesalahan dalam mendapatkan maupun memberi warta atau miskomunikasi, kesalahan dalam inputing data, kesalahan dalam menunjukkan takaran dan lainnya. Faktor kesalahan sanggup bermacam-macam terutama kesalahan yang dibentuk oleh kecerobohan sumberdaya, hal ini tidak sanggup dianggap sepele alasannya yakni setiap kesalahan kecil akan berdampak kepada pelayanan terutama kepada pasien dan akan menjadi tolak ukur dari performance rumah sakit itu sendiri.

4. Process of Non Value Added (NVA) atau Proses Yang Tidak Memiliki Nilai

Proses NVA banyak dalam acara rumah sakit terjadi terdapat pada alur pelayanan. Pemetaan terhadap proses (VSM) sangat perlu dilakukan sehingga memudahkan dalam mengidentifikasi sebuah alur proses yang seharusnya sanggup diringkas maupun dilakukan perbaikan.
Dalam mengidentifikasi sebuah proses NVA, anda sanggup memakai lean metrix, dengan tujuan mempersingkat alur sehingga pelayanan birokrasi dalam rumah sakit tidak terlalu panjang yang megakibatkan tingginya processing time ataupun lead time. Perlu dilakukannya perbaikan serta mempersingkat lead time dalam alur proses birokrasi akan mempercepat penanganan terhadap pasien sehingga pelayanan sanggup diberikan kepada pasien sesegera mungkin.

Dengan perkembangan teknologi menyerupai kini ini, proses alur juga sanggup dilakukan dengan menghilangkan atau mengurangi penggunaan kertas atau proses manual. Akses warta yang sanggup diberikan melalui sistem komputerisasi baik itu alur pengambilan nomor antrian maupun lainnya sanggup mulai dikembangkan serta diterapkan pada rumah sakit. Selain akan ramah terhadap pengurangan penggunaan kertas sehingga terjaganya lingkungan dengan mengurangi limbah industry berupa kertas serta penebangan pohon juga memudahkan pelanggan atau pasien dalam mengetahui status maupun warta terkait atau yang dibutuhkan.

5. Inventory

Penyediaan barang yang berlebihan maupun pengelolaan logistik serta gudang yang tidak tertib dengan jumlah inventaris yang berlebihan, bukan menunjukkan laba terhadap rumah sakit akan tetapi cost yang dibutuhkan akan melebihi dari budget yang telah ditetapkan, hal ini sanggup terjadi alasannya yakni makin banyaknya inventory dalam rumah sakit maka makin banyaknya biaya yang dibutuhkan baik itu berupa area, waktu maupun sumberdaya yang akan dipakai untuk mengelola inventory tersebut.

6. Transportation atau Transportasi

Merupakan sebuah acara dari suatu daerah ke daerah yang lain atau dari satu unit ke unit lainnya sebagai proses alur kerja yang membutuhkan waktu dalam menuntaskan sebuah layanan rumah sakit. Rangkaian alur yang tidak beraturan justru akan membuat meningkatnya waktu dalam penyelesaian sebuah proses, terutama ketika terjadi kegiatan berulang yang membutuhkan acara bolak-balik sebelum mencapai tujuan akhirnya.
Dalam hal ini sanggup diambil sebuah pola menyerupai  sirkulasi dokumen untuk validasi atau untuk mendapatkan persetujuan pada sebuah dokumen supaya pasien dari IGD yang memerlukan sarana diagnostik penunjang dikerjakan sebelum ditransfer ke ruangan rawat inap, dan lain sebagiannya.

7. Action atau Movement

Merupakan sebuah acara gerak yang dilakukan pada area kerja yang membutuhkan waktu usang dalam menuntaskan pekerjaan, umumnya motion maupun movement ini akan menghambat cycle time penyelesaian serta memperlambat kinerja karyawan.
Aktivitas ekstra yang memakan waktu alasannya yakni perencanaan, peletakan alat, penyimpanan benda, atau penataan ruang terkait pekerjaan merupakan sebuah inefisiensi, menyerupai ketika akan mengambil obat emergency  yang berada di dalam lemari obat yang dikunci, dibutuhkan waktu untuk mencari kunci supaya lemari tersebut sanggup terbuka dan obat sanggup terambil.
Hal ini tidak akan terjadi ketika dalam penerapan lean hospital diperkuat dengan aktivitas 5S atau 5R di rumah sakit.

8. Lack of Employee Engagement atau Kurangnya Keikutsertaan Karyawan

Keberhasilan dalam penerapan lean hospital tidak hanya dilihat seberapa banyak lean tools yang dipakai dalam acara rumah sakit, maupun seberapan banyak karyawan mengetahui ihwal penerapan lean administrasi rumah sakit, akan tetapi seberapa besar kebudayaan lean hadir dalam setiap acara rumah sakit.

Kebudayaan ini sanggup lahir ketika stakeholders mempromosikan lean hospital sampai ke level paling bawah dari organisasi perusahaan melalui pemantapan visi serta misi rumah sakit yang didalamnya yakni setiap acara mengikutsertakan kegiatan perbaikan secara berkelanjutan dengan mengikutsertakan karyawan.

Keikutsertaan karyawan dalam membuat budaya lean atau continous improvement sanggup dilakukan melalui acara kaizen, baik itu dialy kaizen, kaizen event dan lainnya. Sangat penting bagi stakeholders maupun top level dari organisasi mendengarkan gagasan serta inspirasi yang terdapat dan diberikan oleh karyawan, alasannya yakni ketika hal ini tidak terjadi maka acara rumah sakit dalam menerapkan sistem lean akan membuang potensi ide besar dari karyawan dan hal ini justru merupakan sebuah kerugian terbesar dalam investasi rumah sakit.

Demikian goresan pena kami ihwal  8 Wastes  Dalam Penerapan Lean Manajemen Rumah Sakit. Semoga dengan goresan pena ini sanggup bermanfaat bagi anda yang sedang mencari tumpuan ihwal pelaksanaan lean terutama terkait dengan pemborosan yang harus dikurangi bahkan dihilangkan dalam acara rumah sakit, sehingga rumah sakit sanggup bersaing dan berkembang melalui perubahan menuju kearah lebih baik terutama bagi pengunjung setia blogcoretangw.blogspot.com.

Kami ucapkan terimakasih telah menyediakan waktu untuk berkunjung serta membaca goresan pena yang terdapat pada , jikalau ada pembahasan yang terlewatkan dari goresan pena kami ataupun ada inspirasi maupun masukkan yang terkait dengan goresan pena kali ini, silahkan anda tulis pada kolom komentar yang terdapat pada blog ini.