banner 728x250

5 Mal Di Jakarta Yang Sarat Kenangan Dalam Hidup Gue

  • Share
banner 468x60
Siapa sih yang gak pernah ngemol?
Bagi anak muda yang berkembang dan besar di kota utamanya Jakarta pasti pernah dong! Mungkin bukan pernah lagi, namun sering. Dengan pesatnya arus globalisasi, tak mampu dipungkiri bahwa mal tak lagi sekadar menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga telah menjadi bagian dari pola hidup dari penduduk urban.
Gue akui, gue sendiri anak mal. Enggak setiap minggu atau saban hari juga sih main ke sana. Tapi dalam sebulan, niscaya ada deh acara pergi ke mal, walaupun cuman sekali (kecuali pas pandemi). Apalagi sejak gue melakoni pekerjaan selaku bloger, mau enggak mau mewajibkan gue buat pergi ke mal alasannya acara bloger sering diadakan di sana.
Plaza Indonesia, salah satu mal di Jakarta (dok. theparadise-group.com)
Alhasil, makin sering gue terlibat dalam pekerjaan sebagai bloger, semakin banyak mal yang harus gue datangi. Mal yang gue maksud di sini enggak terbatas cuman di Jakarta aja, namun juga di tempat-daerah sekitarnya utamanya Tangerang.
Selain alasannya problem pekerjaan, gue hang out ke mal biasanya buat hiburan. Entah itu pengen ketemuan sama sobat, nonton bioskop, nyari wifi atau ya karena lagi gabut aja. Belum tentu belanja barang tertentu sih, namun sekadar makan atau beli minuman yang murah-murah biasanya gue lakuin.
Sebelumnya gue berasumsi bahwa jika gue main ke mal ya main ke mal aja. Namun seiring berjalannya waktu, gue menyadari bahwa ternyata mal bukan cuman kawasan maen aja, tapi juga tempat menjalin memori. Tanpa gue sadari, beberapa mal di Jakarta sudah menjadi bagian dari ingatan dalam hidup gue sedari kecil yang kalau gue pikirin, masing-masing mal mempunyai kesan berbeda-beda.
Melalui tulisan ini, gue pengen mengembangkan wacana beberapa mal yang menempel dalam memori gue dan menjadi ingatan sejak gue masih bocil hingga remaja seperti kini.

1. Mal Ciputra Jakarta – Mal Pertama yang Dikunjungi

Mal Ciputra Jakarta (dok. Bisnis.com)
Kalau ditanya wacana apa mal yang paling memorable dalam hidup gue, maka Mal Ciputra Jakarta ialah jawabannya. Mal yang juga suka disebut Citraland ini jadi mal yang paling membekas di memori gue alasannya inilah mal pertama yang gue kunjungin semenjak gue kecil.
Gue inget banget waktu masih kelas 1 SD gue pernah diajak sama almh. abang gue, Mbak Yuli dan suaminya ke Citraland. Gue pergi ke sana bersamampok gue dengan naik angkutan warna merah B07. Angkutan ini emang tujuan karenanya ke Citraland. Makara naik sekali aja dari perempatan lampu merah, kita udah bisa nyampe di sana.
Begitu nyampe, gue yang waktu itu masih bocil eksklusif kagum dong. Gue kira Ramayana Kebayoran itu udah bagus. Tapi ternyata kalau dibandingin sama Citraland yang berukuran lebih besar, Ramayana justru gak ada apa-apanya (yaiyalah gak apple to apple perbandingannya). Saking norcixnya, gue merasa wah gitu jikalau main ke Citraland alasannya ketika itu gue cuman tahu Mal Citraland.
Selain sebab merupakan mal pertama yang gue kunjungin, Mal Citraland ini juga berkesan sebab gue kenalan sama Toko Buku Gramedia di sana. Gue inget pas ada di sana gue minta buat dibeliin komik “Doraemon edisi petualangan vol. 15: Catatan Harian Nobita” dan itu merupakan komik Doraemon pertama yang punya. Sampe kini, komiknya masih terjaga walaupun sampulnya udah jelek. Pulang-pulang dari sana, gue tidur terus pas malemnya, gue khatamin komik Doraemonnya dari awal sampe habis. wkwk
Setelah kunjungan pertama, gue kembali ke Mal Ciputra beberapa kali sama almh. kakak gue. Pas gue masih kecil gue lupa kapan aja pergi ke sana. Tapi yang niscaya, terakhir gue pergi ke sana tahun 2013 beberapa hari sesudah idul fitri. Gue ikut sama ia buat nemenin beliau mengurusi sesuatu. Kita pun sempat makan KFC bareng di sana. Fiyya, keponakan gue (anaknya mpok gue) juga ikut saat itu.
Selain sama Mbak Yuli, gue juga pernah ke sana sama nyokap gue. Kita pergi ke sana berdua. Gue lupa detailnya kapan namun seinget gue pergi ke sana waktu gue kelas 5 Sekolah Dasar. Gue senang banget setiap kali pergi ke sana alasannya adalah gue mampu minta beliin komik di gramedia.
Saat SMA, gue pernah mampir ke sana juga. Pas libur lebaran 2008, gue pernah mampir ke sana bersamaTri, temen gue dari kecil. Sepulangnya dari sana gue beli buku sedangkan Tri beli belanjaan dari Hero. 
Pas Ramadan 2009, gue mampir lagi ke sana sendirian. Waktu itu gue ke sana mau beli buku. Tapi pas mau pulang ternyata gue dihipnotis orang aneh sehingga gue kehilangan hape, sendal dan juga dompet. Hiks. Sedih mah kalau diceritain.
Selepas lulus Sekolah Menengan Atas, gue juga mampir ke sana dalam rangka melakukan pekerjaan . Yap, gue pernah magang di salah satu daerah makan di sana dan gue juga pernah kerja di Gramedia Citraland selama beberapa bulan. Ketika melakukan pekerjaan , gue pulang pergi dengan memakai transjakarta.
Dulu gue beranggapan jikalau Mal Ciputra itu mal yang wah dengan jarak paling bersahabat dari rumah. Tapi sehabis gue mampir ke mal-mal lain di Jakarta, gue pun sadar kalau Mal Ciputra mah belum seberapa. Kendati demikian, Mal Ciputra turut berperan dalam membentuk ingatan dalam hidup gue.

2. Grand ITC Permata Hijau – Mal Terdekat Pengisi Kenangan Masa Sekolah Menengah Pertama

Grand ITC Permata Hijau (dok. Sinar Mas Land)
Berikutnya ada Grand ITC Permata Hijau yang menjadi mal sarat ingatan dalam hidup gue. Mal ini letaknya erat sama rumah gue dan lebih erat lagi dengan SMP tempat gue sekolah. Tinggal jalan kaki aja, gue pun udah mampu hingga ke sana.
Sebelum dibangun, Mal ini dulunya perumahan gitu. Tapi sejak rumahnya digusur-gusurin, karenanya berdirilah Grand ITC Permata Hijau. Gue gak tahu niscaya kapan rumah di sekitar mal tersebut digusurin. Tapi yang gue ingat, mal ini baru ada jaman-jaman gue kelas 1 SMP yaitu sekitar tahun 2005.
Seperti anak SMP pada umumnya, gue mengalami fase kehidupan sampaumur yang diliputi rasa penasaran yang tinggi. Alhasil, begitu mal ini dibuka untuk umum dan sering diperbincangkan oleh orang-orang di sekitar rumah, gue pun penasaran untuk mengunjunginya. Apalagi pas dikasih tahu jikalau supermarketnya (carrefour) itu dibangun di bawah tanah dengan ukuran yang luas, gue dan sobat-teman sebaya gue pun kian kepo. Duhileh sok-sokan pengen maen ke mal, padahal ada duit juga kagak wkwk
Nah, lucunya, sebab saat itu gue masih remaja tanggung dan untuk meraih ke ITC kita mesti nyeberang, gue dan teman-temen gue yang seumuran (tetangga juga) suka ditakut-takutin sama orang akil balig cukup akal di sekeliling (salah satunya mantan om gue sendiri). Intinya kita dibilangin biar jangan ke sana. Soalnya belum usang ada orang yang meninggal alasannya tertabrak kendaraan yang melintas pas nyeberang. Hiii ngeri! 
Gue paham sih tujuannya. Dari sisi jarak, ITC itu emang deket. Tapi bagaimana pun, untuk ke sana kita mesti nyeberang di perempatan. Masalahnya, kendaraan yang melintas itu kenceng banget sehingga membuat mereka khawatir jikalau kita pergi ke sana. 
Mungkin mereka juga masih nganggep kita masih kecil semua. Maka dari itu mereka nakut-nakutin gue dan lainnya dengan dongeng kecelakaan karangan mereka. Bahaya, jangan ke sana. Mending di rumah aja! Intinya sih kayak gitu.
Tapi ya namanya juga anak kemarin sore. Berhubung ingin tau udah tingkat akut, gue beserta sahabat-sahabat yang lain pun enggak merasa cemas dengan perayaan mereka sehingga kita pun mutusin untuk tetap pergi ke sana. Yang penting kita tahu bahwa saat menyeberang, kita harus hati-hati. 
Akhirnya saat masa SMP, salah satu ingatan gue diisi dengan maen ke Grand ITC Permata Hijau. Kadang bareng temen, kadang sendiri. Tapi pergi ke sana dengan teman-teman seumuran dengan jumlah sobat terbanyak (kalau gak salah sampe 5 orang), seinget gue cuman terjadi sekali aja. 
Satu hal yang gue inget yaitu, setiap kali pergi ke sana dikala masih Sekolah Menengah Pertama, gue dan sobat-teman yang lain suka keliling di Carrefour. Tujuannya cuman satu: nyobain tester kue secara gratis! Satu per satu tester kita cobain sampe berasa ada untungnya juga mampir ke ITC. Mayan jajanan gratis. wkwk
Terkadang gue juga pergi ke sana bareng emak dan almh. mpok gue. Tapi tiap kali pergi bareng mereka, gue sering minta dibeliin komik Doraemon alasannya adalah di Carrefour dijual berbagai macam buku bacaan. Meski ITC Permata Hijau punya beberapa kelemahan, mal tersebut menjadi pengisi ingatan gue saat masih Sekolah Menengah Pertama.

3. Blok M Square – Mal Tempat Nonton Bioskop Pertama dan Tempat Berburu Buku Bekas Terbaik

Blok M Square (dok. multikon.co.id)
Baca juga:  Bot Telegram Anti Spam Sederhana Dan Gratis Oleh Mung Media

Selain Mal Ciputra dan ITC Permata Hijau, gue merasa Blok M Square selaku menjadi mal sarat ingatan dalam hidup gue selanjutnya. Di sinilah gue nonton bioskop di mal untuk pertama kalinya.

Kalau nonton bioskop pertama kali sih gue udah pernah melakukannya di Keong Emas Taman Mini. Tapi kalau nonton bioskop di mal, maka XXI Blok M Square yakni jawabannya.

banner 336x280

Gue nonton di bioskop Blok M Square tahun 2009 dengan judul “Merah Putih” sebagai film yang gue tonton. Waktu itu diajakin sama sahabat SMA buat nonton di sana. 

Sebenarnya sih dari permulaan gue udah bilang ke temen gue itu jika gue gak ada duit. Tapi berhubung gue diajakin dan katanya biaya pulang pergi  dibayarin, gue pun balasannya ikutan. Jadinya gue cuman bayar tiket bioskop aja sebesar Rp30.000. Sisanya ya dibayarin sama teman gue.

Gue pergi ke Blok M Square berempat, ialah gue, Intan (suka dipanggil Gelo sama sahabat-sahabat sekolah), Zarkasih dan Hikmah. Kita ketemuan di Kampung Baru dan menuju ke sana dengan naik taksi. Gue lupa permulaan mulanya gimana kok bisa diajak nonton sama mereka. Padahal sebelum-sebelumnya kita enggak pernah pergi apalagi nonton bareng, namun bersama merekalah gue nonton di bioskop mal pertama kalinya.

Sejak itu, “Merah Putih” menjadi film pertama yang gue tonton di bioskop di mal. Gue enggak pernah nonton bioskop sebelumnya karena keluarga gue gak ada yang terbiasa nonton bioskop. 

Selain itu, gue juga beranggapan bahwa jumlah Rp30.000 untuk beli tiket nonton itu bukan jumlah yang kecil. Jumlahnya besar bagi anak SMA bagi gue saat itu. Itu juga belum termasuk ongkos pulang pergi dan jajan sehingga gue mesti megang duit lebih dari Rp50.000 untuk sekadar nonton film di bioskop. Alasan yang lain, mungkin sebab gue kurang gaoel juga dikala itu? Makanya belum pernah nonton di bioskop sebelumnya wkwk.

Baca juga:  Komentar Facebook Di Blogspot Hilang Ini Penyebabnya

Tahun-tahun berikutnya gue menyadari bahwa ternyata Blok M Square itu enggak sekadar mal aja, tetapi juga surganya pencinta buku khususnya buku-buku bekas. QGue gres tahu informasi tersebut dari Ilman, temen gue yang satu sekolahan terus dari SD sampe Sekolah Menengan Atas. Dia bilang bahwa di basement itu banyak yang jualan buku dan pas gue ke sana, ucapannya emang beneran terbukti.

Alhasil dalam beberapa peluang, gue sama beliau (terkadang juga sama Ziqi, Fahri dan Ali) pun suka maen ke sana untuk berburu buku. Kadang naik Kopaja, kadang pula naik sepeda motor. Momen tersebut terjadi ketika gue masih Sekolah Menengan Atas dan saat gue masih kuliah. Setelah lulus kuliah, udah enggak pernah lagi alasannya adalah prioritasnya sudah berbeda.

Sebenarnya sih Blok M Square itu mal yang biasa aja. Tapi gue enggak mampu memungkiri bahwa beberapa memori dalam kehidupan gue direkam di sana. Selain jadi daerah pertama kali nonton bioskop di mal plus langganan dalam berburu buku-buku bekas, Blok M Square juga pernah menjadi daerah ketemuan gue sama sahabat-teman KKN buat buka puasa bareng dan tempat ketemuan awal ketika gue memulai karier sebagai seorang blogger. Benar-benar mal penuh kenangan!  

4. Pasaraya Blok M – Mal Tempat Latihan Angklung

Pasaraya Blok M (dok. Kompas.com)

Kalau bicara secara general, daerah Blok M terbilang kawasan yang tak terlupakan bagi gue. Tak cuma Blok M Square, Pasaraya Blok M juga satu di antaranya.

Tiap kali pergi ke sana, gue jadi teringat dengan tahun 2013-2014, masa-masa saat gue masih kuliah semester awal. Soalnya dalam rentang waktu tersebut gue bergabung dengan komunitas Rumah Angklung. Nah, basecamp Rumah Angklung itu ada di sana tepatnya ada di lantai 3.

Baca juga:  Mengawali 2021 Dengan Belajar Decluttering Buku

Alhasil, tiap Sabtu siang gue (kadang juga Sabtu pagi) gue pergi ke sana untuk mencar ilmu musik dan latihan angklung bareng sahabat-sobat lainnya.

Gue akui mulanya sih gue merasa aneh sama Pasaraya Blok M. Tapi karena sering ke sana, pelan-pelan gue jadi terbiasa dan merasa akrab sehingga membuay gue merasa ada keterikatan dengan Pasaraya Blok M. Di sanalah daerah gue belajar banyak hal dan menjalin hubungan dengan banyak orang baru.

Makin berkesan berada di sana saat kami latihan memainkan angklung terus ada orang gila (khususnya bule) yang tepuk tangan. Rasanya puas bukan main.

5. Grand Indonesia – Mal Favorit dan Langganan Screening Film

Grand Indonesia (dok. Nusa Daily)
Bicara soal mal yang sarat kenangan, maka Grand Indonesia menjadi mal yang tak bisa gue lewatkan. Ikatan dari sisi emosional kayak Mal Ciputra sih enggak ada, namun gue merasa bahwa Grand Indonesia yaitu mal favorit gue.
Pertama kali gue ke Grand Indonesia pada Oktober 2016. Itu pun bermula dari aktivitas bloger. Kalau enggak ada acara bloger di sana, kemungkinan untuk berkunjung ke sana dimulai dari tahun sehabis 2016. Dalam beberapa peluang, gue mampir ke sana alasannya adalah memang problem pekerjaan selaku bloger. Namun seiring berjalannya waktu, gue pergi ke sana alasannya adalah gue merasa tenteram dengan Grand Indonesia.
Selain sebab ukurannya besar, gue suka dengan Grand Indonesia alasannya mal ini terbilang lengkap. Bioskopnya kece, ada toko buku, pilihan tempat makannya banyak bahkan ada daerah hiburan kayak Galeri Indonesia Kaya juga. 
Akses untuk pergi ke sana pun bisa diraih dengan naik transjakarta. Cukup dengan transit di Harmoni lalu lanjut ke arah Blok M dan turun di Halte Tosari, gue pun sudah bisa sampai di Grand Indonesia.
Yang  gue suka juga, bioskop di GI itu langganan dipakai selaku daerah penyelenggaraan screening film yang baru tayang serta festival-ekspo film internasional kayak Festival Film Jepang, Festival Film Korea dan bahkan Festival Film Australia. Makanya tiap kali ada pameran film yang diselenggarakan di GI, gue suka datang ke sana.
Melalui Komik Kompasiana, gue juga bersungguh-sungguh tiba ke GI untuk menikmati screening film. Harga tiket bioskop di GI termurah itu minimal Rp50 ribu. Tapi karena ikut screening, gue enggak perlu bayar. Gratis! Makin asyik sebab gue berkesempatan untuk nonton film duluan sebelum filmnya diedarkan secara lebih luas ke penduduk . Nah, dari banyak sekali keunggulan itulah lalu saya mengakibatkan GI selaku mal favorit!
Ya begitulah mal. Tiap orang mungkin punya pengalaman dan kesan berlainan dengan sejumlah mal yang pernah atau bahkan sering dikunjungi. 
Namun satu yang pasti, sama mirip daerah yang lain, mal ialah kawasan merekam memori. Keberadaannya juga bisa menjadi tempat penuh kenangan yang mungkin tak kita sadari tetapi berimplikasi pada kehidupan kita.
banner 336x280
banner 120x600
  • Share