banner 728x250

4 Cara Saya Dalam Merawat Keberagaman Di Indonesia

  • Share
banner 468x60

Sebagai bangsa Indonesia, kita patut bersyukur karena terlahir selaku bangsa yang majemuk.  Bangsa kita terdiri dari banyak sekali suku bangsa dan agama yang amat beragam. Saking beragamnya, tercatat ada sekitar 1331 golongan suku di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Indonesia adalah bangsa yang beragam (dokpri)

Keberagaman ini ialah sebuah anugerah karena tidak semua negara memilikinya. Namun hal ini tidak akan berarti apa-apa jika kita menyia-nyiakannya begitu saja. Perpecahan menjadi bahaya yang mampu terjadi sebuah waktu. Oleh alasannya adalah itu, penting bagi kita untuk selalu menjaganya supaya bangsa kita tetap utuh di kemudian hari.

banner 336x280

Setiap orang punya caranya masing-masing dalam merawat keberagaman, tergolong dengan aku. Nah, lewat tulisan ini saya ingin berbagi tentang bagaimana cara yang saya lakukan dalam merawat keberagaman di Indonesia. Inilah 4 cara yang saya terapkan:

1. Lebih bijak dalam memakai media sosial

Era internet of things mirip kini bagaikan dua sisi mata duit. Di satu segi mampu mempersatukan kita. Berkat kehebatan teknologi, kita dapat menemukan isu seputar kearifan lokal sebuah penduduk sehingga menolong kita untuk saling mengetahui. Berkat kecanggihan teknologi pula, kita dapat saling terhubung dengan kerabat kita di daerah lain. 

Namun di segi lain, periode internet of things justru menjadi bumerang yang mampu memecah belah persatuan. Semakin canggihnya teknologi, makin canggih pula cara yang dikerjakan oknum-oknum pemecah belah bangsa dalam menyebarkan info bohong di internet demi kepentingannya sendiri. Faktanya, tidak sedikit orang yang tersandung kasus karena postingannya bernada SARA menyulut banyak orang di media umum.

Pada April 2019 lalu seorang laki-laki bernama Arif Kurniawan Radjasa diringkus oleh Polda Jawa Timur alasannya memposting ujaran kebencian dan hoax terkait SARA. Sementara itu pada Juli 2019 kemudian pemilik akun instagram @rif_opposite harus berhadapan dengan hukum sebab konten-konten sosial medianya memuat hoax terkait SARA.

Menjaga persatuan adalah hal mutlak untuk kita tegakkan. Nah, di tengah-tengah banjirnya gosip seperti dikala ini, maka cara termudah yang aku kerjakan dalam merawat keberagaman yaitu dengan bijak dalam memakai media sosial. Tak mampu disangkal, artikel media sosial dapat menjadi jalan termudah dalam perpecahan sebuah bangsa.

Baca juga:  Surat Edaran No 14 Tahun 2019 Tentang Penyederhanaan Planning Pelaksanaan Pembelajaran (Rpp)
(dok. digitalmarketingschool.id)

Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memosting hal-hal yang kasatmata saja di media umum. Ketika aku menemukan sebuah postingan yang bermuatan SARA, aku tidak akan asal menyebarkannya di media umum eksklusif. Saya akan kroscek apalagi dahulu kebenarannya karena tidak semua artikel di internet dapat diandalkan.

Jika terbukti hoax, maka postingan tersebut cukup hingga di aku. Saya tidak akan menyebarkannya kepada orang lain sebab isu tersebut tidak benar. 

Kalaupun mesti posting, aku akan mengklarifikasi bahwa postingan yang beredar yakni hoax semoga kian banyak orang yang tercerahkan. Jika perlu, saya juga akan melaporkan postingan tersebut ke platform kawasan postingan itu diangkut biar artikel itu segera dihapus.

Namun jikalau postingan tersebut benar, saya akan menimbang-nimbang nilai kebermanfaatannya. Jika aku sebarkan, saya harus bisa menjawab apakah postingan tersebut akan bermanfaat bagi orang lain atau apa justru memperkeruh keadaan. 

Pada kesudahannya, aku menyadari bahwa tidak semua hal perlu dikomentari, apalagi jikalau aku tidak mengalaminya pribadi. Adakalanya menahan diri untuk tidak memosting atau tidak merespon sesuatu di media sosial itu lebih baik demi keutuhan bangsa.

2. Berteman dengan siapa saja tanpa membedakan satu sama lain

Selain bijak dalam bermedia sosial, saya juga berusaha merawat keberagaman yang Indonesia miliki dengan memperluas jaringan pertemanan dari latar belakang apapun. Saya sendiri seorang Muslim yang terlahir dari keluarga Jawa-Betawi. Namun saya tidak pernah pilah-pilih teman. Apapun suku, agama dan rasnya, saya berteman tanpa pernah membedakannya satu sama lain. 
Pertemanan lintas suku dan agama di Forum Pemimpin Muda Nasional 2010 (dokpri)

Saya punya sahabat yang beragama Hindu Bali. Berkat berteman dengannya, aku jadi tahu bahwa orang Hindu tidak mengonsumsi daging sapi selaku bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta. Kaprikornus saat sebuah hari aku harus bersama dengan teman Hindu, aku tidak akan menawarinya daging sapi.

Saya punya sahabat seorang Nasrani yang berasal dari Manokwari. Berkat berkawan dengannya, aku jadi tahu ihwal kebiasaan makan sirih yang biasa dijalankan oleh orang-orang sana. Saya belum pernah ke Manokwari. Namun bila suatu hari nanti saya punya peluang ke sana, aku tidak akan terkejut dengan tradisi tersebut alasannya aku telah mengetahuinya terlebih dahulu.
Saya juga punya seorang sahabat seorang keturunan Tionghoa yang beragama Buddha. Berkat dekat dengannya, aku jadi lebih mengerti tentang nilai-nilai pemikiran Buddha mirip hukuman alam. Kaprikornus ketika suatu hari saya hendak berbuat buruk, aku akan berpikir panjang sebab aku tidak mau menerima hukuman alam jelek. 
Saya yakin bahwa kian bermacam-macam sobat yang kita miliki, itu kian baik alasannya adalah pengetahuan kita akan bertambah dan sudut pandang kita dalam memandang sesuatu akan makin luas.
 
Di ketika sudut pandang kita jadi lebih luas, di dikala itulah kita akan lebih bisa mengerti orang yang berlainan dari kita. Kita tidak akan mudah menghakimi terlebih merasa lebih baik dari lainnya. Dengan begitu, tidak ada kebencian di antara kita alasannya yang ada hanyalah sifat saling mencintai sesama manusia.

3. Mengunjungi bermacam-macam kawasan

Demi merawat keberagaman, cara berikutnya yang saya kerjakan yakni dengan mengunjungi bermacam-macam kawasan di Indonesia. Namun tidak asal berkunjung saja, aku juga berupaya untuk mengetahui dongeng dari setiap tempat yang kunjungi dan apa makna dari setiap perjalanan yang saya lakukan. Semakin variatif kawasan yang dikunjungi, maka semakin anggun.
Misalnya saja pada 2017. Kala itu saya berkesempatan untuk menyambangi Masjid Baiturrahman yang terletak di Banda Aceh. Dari pengalaman tersebut saya menyadari bahwa Masjid Baiturrahman tak semata saksi bisu tsunami Aceh 2004 saja, melainkan juga saksi bisu usaha rakyat Aceh dikala masih dalam zaman pendudukan Belanda. 
 
Masjid Baiturrahaman (dokpri)
Baca juga:  Gb Sanitary Bikin Upgrade Rumah Jadi Makin Gampang

Pada 2018 saya juga berkesempatan untuk mampir ke Klenteng Boen Tek Bio yang ialah klenteng Tionghoa tertua di Tangerang. Sebagai daerah ibadah yang bangkit kokoh di tengah-tengah masyarakat yang mayoritasnya Islam, Boen Tek Bio menjadi bukti perihal betapa terbukanya masyarakat lokal dalam mendapatkan perbedaan sebab klenteng tersebut telah ada sejak 1684! 

Boen Tek Bio, klenteng tertua di Tangerang (dokpri)

Kalau bicara soal kuantitas, jujur sebenarnya masih sedikit kawasan-daerah di Indonesia yang telah aku datangi. Dibanding wisatawan lain, pengalaman saya enggak ada apa-apanya. Saya belum pernah ke Pulau Samosir, Derawan, Tana Toraja atau bahkan Raja Ampat.
 
Kendati demikian, aku merasa bersyukur karena masih bisa mencar ilmu dari setiap daerah yang saya tiba. Keunikan pada setiap tempat di Indonesia yang saya kunjungi membuat saya berguru bahwa betapa beragamnya Indonesia dan telah sebaiknya kita menjaganya.

4. Menghargai hari raya umat lain

Setiap umat beragama memiliki hari rayanya masing-masing. Ada Islam dengan Idul Fitri dan Idul Adhanya, Nasrani dan Katolik dengan natalnya, Buddha dengan waisaknya, Hindu dengan nyepinya dan bahkan umat Tionghoa dengan tahun gres imleknya. Meski berbeda-beda, ada satu persamaan yang pasti. Jika tidak dirayakan dengan sukacita, maka sudah pasti dirayakan dengan sarat khidmat.

Sebagai bentuk toleransi, telah sebaiknya bagi kita untuk saling menghargai peringatan umat satu sama lain. Salah satu cara termudah yang mampu kita lakukan adalah dengan tidak menganggunya sama sekali. 

Selain itu, kita juga bisa ikut mengucapkannya secara langsung. Jika memungkinkan, tak ada salahnya juga bagi kita untuk datang eksklusif ke tempat tinggal tetangga atau sobat yang sedang merayakan hari agama. 

Baca juga:  5 Hal Sederhana Yang Bikin Aku Senang

Inilah yang saya dan sahabat-sobat aku kerjakan tahun lalu. Pada peringatan Tahun Baru Cina 2571 Kongzii, saya bersama beberapa sahabat berkunjung ke tempat tinggal sahabat (abang-beradik) dan larut dalam peringatan tahun baru Cina.

Merayakan Tahun Baru Cina di rumah teman (dokpri)

Sekian goresan pena aku. Ini cara saya untuk merawat kebersamaan, toleransi, dan keberagaman. Bagaimana cara kamu? Kabarkan/sebarkan pesan baik untuk MERAWAT kebersamaan, toleransi, dan keberagaman kamu dengan mengikuti lomba “Indonesia Baik” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.  

banner 336x280
banner 120x600
  • Share