4 Ancaman Terlalu Banyak Makan Gorengan Dan Cara Mengatasinya

Diposting pada

Kehadiran gorengan dan aneka macam jenis olahan makanan lain yang digoreng nampaknya begitu sulit dipisahkan dalam hidangan sehari-hari. Bagaimana tidak, makanan yang digoreng terasa lebih nikmat bila dibandingkan dengan makanan lain yang diolah dengan cara direbus misalnya.

Dibalik kenikmatannya, ternyata makanan yang digoreng menyimpan aneka macam ancaman bagi kesehatan, terlebih bila dikonsumsi secara terus-menerus. Ada banyak alasan yang membuatnya menjadi berbahaya. Apa saja itu? Berikut klarifikasi selengkapnya.

Berikut yakni Bahaya terlalu banyak Makan Gorengan

1. Terlalu Banyak Kalori

Dibandingkan dengan makanan yang di olah dengan cara direbus atau dipanggang, makanan yang di olah dengan cara digoreng mempunyai kandungan kalori yang paling tinggi. Hal ini disebabkan lantaran makanan yang digoreng paling tidak akan menyerap minyak sebanyak 1sdm atau sekitar 100 kalori, sehingga akan melipat gandakan kandungan kalori dalam makanan tersebut yang tolong-menolong sudah cukup tinggi.

Baca juga : 9 Tips Agar Jantung Anda Sehat

Misalnya saja ketika kita mengonsumsi tahu goreng. Tahu yang belum digoreng saja sudah mengandung sekitar 75 kalori. Maka ketika digoreng, kalorinya sanggup melonjak hingga 175 kalori. Ditambah lagi jikalau tahu tersebut dilapisi dengan campuran tepung. Bisa dibayangkan sudah berapa banyak kalori yang masuk ke badan kita hanya dengan mengonsumsi 1 tahu goreng saja.

Padahal asupan rata-rata kalori harian orang remaja dibatasi sebesar 2.500 kalori untuk pria, sedangkan untuk perempuan sebesar 2.000 kalori. Kaprikornus perhatikan benar asupan kalori harian yang diharapkan tubuh. Jangan hingga berlebihan, lantaran sanggup menjadikan pengaruh negatif bagi kesehatan.

2. Tinggi Lemak Trans

Bahaya makan gorengan selanjutnya disebabkan lantaran tingginya kandungan lemak trans didalamnya. Lemak trans terbentuk ketika lemak tak jenuh mengalami proses yang disebut dengan hidrogenasi, yakni dengan menambahkan hidrogen ke dalamnya. Tujuannya untuk meningkatkan stabilitas oksidatif supaya tak gampang mengalami proses oksidasi sehingga sanggup memperpanjang masa simpan.

Namun proses hidrogenasi juga sanggup terjadi ketika minyak dipanaskan pada suhu yang amat tinggi, diatas 180°c. Proses inilah yang kemudian mengubah ikatan rangkap minyak tersebut dari bentuk cis menjadi bentuk trans sehingga akan sulit bagi badan untuk memecahnya.

Parahnya lagi, kadar lemak trans ini akan berlipat ganda apabila minyak yang digunakan untuk menggoreng terus-menerus digunakan berulang kali bahkan hingga menghitam. Seperti kebanyakan yang kita lihat pada pedagang makanan di pinggir jalan. Padahal konsumsi harian lemak trans 1-3% saja sudah sanggup memicu timbulnya serangan jantung pada orang dewasa. Ehm, sanggup dibayangkan bukan bahayanya?

3. Meningkatkan Risiko Penyakit

Berdasarkan dari beberapa penelitian yang dilakukan pada orang dewasa, ditemukan adanya keterkaitan antara mengonsumsi makanan yang digoreng dengan obesitas dan meningkatknya risiko timbulnya penyakit kronis, terutama diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

# Obesitas

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa makanan yang diolah dengan cara digoreng mengandung lebih banyak kalori dibandingkan dengan makanan yang diolah dengan cara lain menyerupai merebus atau memanggang. Baca juga : Rahasia Cara Menurunkan Berat Badan Pria dan Wania Dengan Sehat.

Nah, kadar kalori berlebih ini kemudian akan disimpan sebagai lemak di dalam tubuh. Lambat laun lemak pun akan menumpuk dan terlihat akhirnya pada perubahan bentuk perut yang menjadi buncit, cepat lelah dan pergerakan menjadi lambat. Jika tak segera melaksanakan perubahan gaya hidup, maka akan berujung pada obesitas.

# Diabetes

Jangan anggap jikalau penyakit diabetes hanya dipicu oleh kegemaran mengonsumsi makanan atau minuman yang bagus saja. Faktanya, dari hasil beberapa penelitian menyebutkan bahwa, risiko diabetes tipe 2 juga akan mengintai para penikmat hidangan yang digoreng.

Makanan yang digoreng begitu tinggi akan kalori juga lemak trans. Dampaknya bila terlalu sering mengonsumsinya, maka akan mengganggu kerja sel otot dan pankreas. Dan akhirnya akan berujung pada resistensi insulin yang merupakan awal dari terjadinya diabetes tipe 2.

# Penyakit Jantung

Mengonsumsi makanan yang digoreng sanggup mengakibatkan tekanan darah tinggi, meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL dan menurunkan kadar kolesterol baik atau HDL serta mengakibatkan obesitas, yang kesemuanya merupakan faktor risiko datangnya penyakit jantung.

Berdasarkan hasil dari observasional besar ditemukan hasil yang menyatakan bahwa, semakin sering seseorang mengonsusi makanan yang digoreng maka akan semakin besar pula risikonya menderita penyakit jantung terutama jantung koroner Si pemicu utama dari terjadinya serangan jantung.

4. Mengandung Akrilamida

Kehadiran akrilamida menjadi salah satu alasan dari ancaman makan gorengan. Akrilamida sendiri merupakan zat beracun yang hanya sanggup terbentuk ketika kita mengolah makanan dengan suhu tinggi, yakni di atas 180°C.

Ya menyerupai yang kita ketahui, lazimnya suhu penggorengan dalam minyak relatif tinggi sehingga memungkinkan kehadiran akrilamida pada makanan yang kita konsumsi. Bahayanya apabila zat beracun ini terus-menerus masuk ke dalam badan maka sanggup memicu terjadinya kanker.

Adakah Solusi Menghindari Bahaya Makan Gorengan ?

Solusi terbaik tentunya dengan menghindari makanan yang diolah dengan cara di goreng. Namun, rasa-rasanya sulit bukan bagi kita untuk menghindarinya. Siapa yang sanggup menahan godaan dari nikmatnya hidangan yang digoreng lantas kemudian disajikan di depan mata.

Untuk itu, supaya kita masih sanggup menikmati gorengan dan semua olahan makanan yang digoreng, hal pertama yang harus dilakukan yakni dengan membatasinya. Sebaiknya makanan yang digoreng cukup dinikmati seminggu sekali saja. Jangan terlampau sering.

Lihat juga : Ciri ciri makanan mengandung Formalin yang perlu anda Waspadai

Selanjutnya, usahakan untuk menahan diri dari membeli makanan di luar terutama di pinggir jalan yang kerap memakai minyak berulang-ulang kali hingga menghitam tanpa proses penggantian. Alangkah baiknya bila makanan yang hendak kita nikmati diolah sendiri, sehingga terjamin kebersihan dan keamanannya.

Jika hendak menikmati makanan yang digoreng sendiri dirumah, perhatikan minyak yang akan digunakan. Pilihlah jenis minyak yang lebih sehat dan lebih kondusif digunakan, contohnya minyak kelapa, minyak zaitun atau minyak alpukat.

Namun, perhatikan pula cara penggunaan dari minyak tersebut. Untuk penggorengan melalui cara deep frying atau menggoreng dengan banyak minyak, maka gunakan minyak kelapa, lantaran minyak kelapa tahan panas dan kualitasnya sanggup bertahan usang meski telah digunakan untuk menggoreng selama 8 jam non stop.

Baca juga : RAGAM RESEP MASAKAN SEHAT

Kemudian untuk menggoreng dengan sedikit minyak atau shallow frying dan stir frying, maka pilihlah minyak zaitun atau minyak alpukat. Jangan pernah memakai kedua jenis minyak ini untuk menggoreng secara deep frying apalagi dalam suhu yang tinggi, lantaran justru akan rusak dan merubah lemak tak jenuh didalamnya menjadi lemak trans.